Category: events

  • DR. Martens ‘Stand For Something Tour’ feat Circa Waves & Elephant Kind

    DR. Martens ‘Stand For Something Tour’ feat Circa Waves & Elephant Kind

    Sore itu Kieran Shudall, Sam Rourke, Colin Jones, dan Joe Falconer – lead guitar sedang meladeni fans-fans yang beruntung dapat berjumpa dengan Circa Waves dalam rangkaian Stand For Something Tour oleh Dr.Martens. Sepatu kulit yang selalu lekat di kancah musik, karena banyak musisi legendaris menggunakannya. Maka jika Dr.Martens bikin acara musik, sudah seharusnya menarik dan mencerahkan.

    Maka itu DRS tidak menyia-nyiakan kesempatan berbincang singkat dengan Circa Waves.

    Lu waktu pertama ketemu tahun 2013, lagu apanih yang pertama lu maenin bareng-bareng?
    Kieran “lagu yang waktu itu baru gue bikin, Young Chaser. Tu lagu jadi single pertama kita juga”
    Joe “iye bener lagu itu”.

    “Elu pada dah tur lumayan panjang, nemu band-band menarik ga selama tur?”
    Joe “yoih, gue demen tu band-band yang kita temukan di Jerman. Banyak band-band experimental yang asoi man”.
    Kieran “Iye bener, band-band Jerman keren-keren”
    Joe “Di Jepang juga asik-asik, seneng gue nemuin anak-anak muda di sana maenin musik aneh-aneh”
    Sam & Collin mangut-mangut doang.

    “Lu pade kan tur panjang juga nih, gimana nih supaya moodnya tetap pada bagus?”
    Joe “Biasanya maen-maen aja, bikin-bikin suara-suara lucu. Ya ngelawak-lawak aja”
    Kieran “haha iye, hahaha. Gue coba ga mikirin aja, dan santai”

    “Katanya lu terinspirasi Buzzcock?”
    Kieran “Buzzcock?, gue sih ngga”.
    Joe “hahaha… iye, tapi maksudnya lebih pada karena mereka bisa bikin lagu yang cepet, kenceng tapi masih pop. A good benchmark for that kind of music”
    Kieran ” ah yes, karena asoi banget sih gitar-gitarnya dan energinya”

    Dan memang iya sih, ini band kenceng, cepet namun dalam sensibilitas pop yang melodius. Livenya seru juga, cocok banget buat anak-anak yang baru mulai dengerin musik ‘edgy’. Terlihat jelas dideretan depan adalah anak-anak usia sekolah yang hafal dengan lirik-lirik lagu Circa Waves.

    Sebelum Circa Waves ada Elephant Kind. Band ini memperoleh sambutan yang semakin besar di ibukota. Tampaknya masih akan terus bertambah besar.

    Dengan antusiasme penonton, sound system yang memadai saya berharap acara ini akan ada kelanjutannya. Mungkin di kali berikutnya ada stand merchandise.

    Circa Waves saat sesi interview
    Circa Waves saat sesi interview
    Circa Waves berpose
    Circa Waves berpose
    Elephant Kind
    Elephant Kind
    Tampil dengan Doc Mart baru
    Tampil dengan Doc Mart baru
    Elephant Kind
    Elephant Kind
    Doc Mar "Stand For Something"
    Doc Mar “Stand For Something”
    Circa Waves
    Circa Waves
    OLYMPUS DIGITAL CAMERA
    Cowo-cowo ganteng bersepatu Dr.Martens maenin musik pop-rock, sudah pasti paling depan adalah perempuan-perempuan muda yang antusias.
    Circa Waves
    Circa Waves
    Circa Waves
    Circa Waves
    Elephant Kind
    Circa Waves
    Merdi & Aat
    Merdi & Aat
  • Ulasan Malam Instrumental Rock Dari Ellipsis

    Ulasan Malam Instrumental Rock Dari Ellipsis

    Kuartet instrumental rock basis Bandung, Elipsis yang baru saja merilis debut mini album mereka yang bertajuk “Adversities” akhirnya menggelar showcase di Salian Art (Minggu, 20/09/2015).

    Showcase ini dimulai sejak sore menjelang malam dengan penampilan pertama dari Neat, band dengan genre funk rock asal Bandung itu mencoba memperkenalkan tiga lagu mereka dan tingkah sang vokalis kadang melakukan gesture menyihir saat solo-gitar mengalun. Ditutup dengan lagu fenomenal dari Dewa 19 yaitu “Cukup Siti Nurbaya”. Suasana semakin ramai dipadati orang-orang ketika band bergenre psychedelic-rock / stoner rock asal Bandung, Kaitzr mulai naik ke panggung dan membawakan dua lagu dari EP mereka yang bertajuk “Myth and Deceit” yang masing-masing lagunya memiliki durasi lumayan panjang. Mengatur emosi kita sesuai irama yang dihasilkannya. “Fire In The Sun” single terbaru mereka yang belum rilis, ikut dimainkan juga malam itu. Semacam tidak direncanakan, semua pengisi band malam itu berkostum rapih layaknya mau ke prom nite, seperti Heals, band asli Bandung yang menghibur para penikmat musik malam itu dengan single perdana mereka “Void”. Mereka salah satu band yang paling banyak dibicarakan saat ini. Mengembalikan memorabilia untuk kalian penikmat alternative-rock/Nu Gaze. Maka tak heran kalau malam itu Heals menutup penampilannya dengan lagu milik My Bloody Valentine yang serentak membuat beberapa orang ikut juga bersenandung.

    IMG_3020 copy

    Akhirnya malam itu ditutup dengan penampilan yang ciamik dan menghipnotis oleh Elipsis yang bermain dengan permainan yang harmonis ritmis dan sedikit mengingatkan pendengar malam itu pada musik-musik yang diusung oleh band seperti Toe, Lite, dan the Mars Volta. Melodi-melodi emosional dikombinasikan dengan tempo yang kompleks merupakan fondasi utama aransemen musik Ellipsis. Sayangnya salah satu gitaris mereka, Elmar tidak dapat hadir karena sedang mengemban ilmu di Australia. Hampir semua nomor di Adversities dibawakan hasil rilisan label independen, Orange Cliff Records. “Tigris” menjadi lagu terakhir yang ampuh hingga memberikan standing applause oleh seluruh penonton dibumbui aksi turun panggung satu-satu hanya menyisakan Aulia Ramahan bersama gitarnya. Setidaknya showcase dari band yang terbentuk ketika masih menjadi anggota sebuah organisasi seni kampus ini dapat menciptakan sebuah reuni kecil-kecilan di akhir acara.

    Photo : Glory Mardika

    Teks : Raufina Zahra

  • Frau : Konser Tentang Rasa

    Frau : Konser Tentang Rasa

    Mengulang keberhasilannya di Bandung waktu lalu, “Konser Tentang Rasa”, mencoba menyajikan kembali musik dari Frau yang menghadirkan pengalaman baru lebih menyeluruh dalam menikmati musik. Menurut rilisan pers yang kami terima “kesan lintas indera itu membuat penonton dapat terlibat secara aktif untuk merangkai impresi rasanya sendiri, bisa berupa senang, sedih, bosan, hingga kantuk” ditawarkan oleh Frau dalam konser terbarunya di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, pada 29-30 Oktober 2015 mendatang.

    Dalam konser ini penonton juga diajak untuk berbagi narasi, ilustrasi, ataupun keluh kesah atas rasa yang muncul ketika mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan Leilani Hermiasih (Lani) dan pianonya, Oskar. Dalam konser ini, Frau akan membawakan 16 lagu dari album Starlit Carousel dan Happy Coda serta beberapa materi lagu baru. Materi baru tersebut akan menjadi rujukan untuk album berikutnya.

    Soal pengalaman “mengalami musik”, Lani mempunyai cerita sendiri. Pada suatu kesempatan, Ia menceritakan bagaimana dirinya bisa menangis tersedu-sedu tanpa alasan ketika mendengarkan lagu “La Même Histoire” dari singer-songwriter Kanada, Feist, berulang-ulang kali. Meski  sama sekali tidak mengerti apa dinyanyikan, tapi air matanya tetap mengalir deras. Tubuh yang berbaring pada pegas-pegas springbed lawas di kamarnya itu pun sesenggukan. Pasrah begitu saja ketika satu dua tetes air mata asin mengalir ke mulutnya. “Saya tidak sedih, tapi mungkin terharu karena bisa menikmati mewahnya pengalaman musikal seperti itu,” Ucap Lani kenangnya.

    Konser Tentang Rasa ini terbuka untuk umum. Tiket untuk mahasiswa/pelajar dijual seharga Rp 35.000,00, dan untuk umum seharga Rp 50.000,00.

    terbatas hanya 300 tiket.

    Tiket mulai diual pada 19 Oktober 2015 di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta jam 15.00 Wib. kami tidak menjual pembelian tiket melalui online.

    informasi perihal konser tentang rasa bisa menghubungi saudara Yudis +62 823 2348 5121 atau melalui email : konsertentangrasa@gmail.com

    salam sejahtera!

    Frau Management

    Adi Adriandi

    komplek sabo centre no 9 sopalan maguwoharjo

    sleman jogja 55282

    T : +62 804 270 113

    E : leilanifrau@gmail.com

    W : www.facebook.com/leilanifrau / www.soundcloud.com/leilanifrau

    Frau_KonserTentangRasa_e-Poster

  • PLAY LOUD SESSION: Neon Indian Live in Jakarta

    PLAY LOUD SESSION: Neon Indian Live in Jakarta

    Alan Palomo adalah aktor utama di Neon Indian mulanya terbentuk sebagai proyek multimedia yang menggabungkan unsur audio dan visual ke dalam film pendek, teaser dan musik pop, album debut Neon Indian yang bertajuk Psychic Chasms mendapat tanggapan positif. Bahkan ketika diluncurkan pada tahun 2009 yang lalu, Pitchfork Media bahkan menobatkannya sebagai “Best New Music”. Nuansa nostalgia tahun 80an yang terbit dari efek elektronik, synth, looping dan ambient melodic sounds dalam rilisan ini menjadi pionir genre yang dikenal sebagai chillwave, glo-fi, hypnagogic pop atau downtempo pop.

    Disusul oleh suksesnya album kedua, Era Extraña, yang dilepas pada tahun 2011. Sempat vakum selama hampir 4 tahun, artis kelahiran Meksiko ini akan merilis album terbaru yang telah dinantikan oleh penggemarnya, VEGA INTL. Night School 16 Oktober mendatang. Neon Indian pernah menjadi pembuka untuk tur Massive Attack, Phoenix dan The Flaming Lips, Neon Indian juga pernah memeriahkan panggung festival musik ternama seperti South by Southwest dan Coachella. Selepas konser pertamanya di Indonesia, Meredith Music Festival di Australia menjadi tujuan berikutnya. Pada tanggal 24 November 2015, Neon Indian akan tampil lengkap dengan bandnya di Jakarta sebagai bintang tamu Play Loud Session yang akan diselenggarakan oleh Prasvana yang di Rolling Stone Café, Jalan Ampera Raya No. 16 Jakarta Selatan. Dimeriahkan oleh Future Collective. Duo indietronica asal Jakarta ini menggabungkan unsur-unsur synth jazz, space age, retro dan futuristik dalam karakter musiknya yang minimalis tapi tetap kompleks.

    Harga tiket masuk dimulai dari Rp. 200.000 (belum termasuk pajak) untuk early bird presale yang hanya tersedia dalam jumlah terbatas mulai dari tanggal 1 Oktober 2015. Tiket standard presale bisa didapatkan untuk Rp. 300.000 (belum termasuk pajak). Tiket tersedia melalui outlet-outlet dan situs KiOSTiX. Untuk informasi lebih lengkap kunjungi situs http://www.prasvana.com

    NeonIndian_JakartaPoster_Screen

  • Catatan Kecil RRRec Fest in The Valley 2015

    Catatan Kecil RRRec Fest in The Valley 2015

    Memang telat rasanya saya melaporkan RRRec fest in The Valley 2015 yang baru saya tulis sekarang, karena acara yang berlangsung tiga hari dua malam ini telah lewat seminggu kemarin. Tetapi ada baiknya kalian membaca catatan kecil dari pengalaman saya yang didapatkan selama disana. Kembali diadakan di Tanakita Camping Ground, Sukabumi dengan berbagai suguhan menarik yang bukan hanya dari program musiknya saja. Workshop, diskusi, residensi seniman, screening film hingga program anak bagi mereka yang membawa ‘buah hati’ di tanah perkemahan, disediakan hasil inisiasi kolaborasi The Secret Agents (Indra Ameng dan Keke Tumbuan) bersama Pasangan Baru (Nastasha Abigail dan Dimas Ario). Selama tiga hari itu saya bertemu pelaku/penggiat industri kreatif dari berbagai kota dan negara, serasa festival ini bukan sekedar ajang musik tahunan tapi juga menjadi wadah tukar ide, berbagi ilmu untuk mereka yang ingin terjun langsung di bidang ini sambil menyaksikan musisi-musisi bertalenta. Terbagi tiga tempat sebagai titik temu acara yang sedang berlangsung yang jarak dan medannya lumayan untuk mengencangkan betis kaki kalian.

    IMG-20150925-WA0061

    Photo : John Navid

    Hari pertama dibuka oleh workshop “Kiat Membuat Festival” yang berhasil memberangkatkan delapan peserta yang telah lolos seleksi ke Tanakita untuk menambah pengetahuan di bidang teknik manajemen dalam mengerjakan festival/acara musik. Serta selama disana mereka juga bisa observasi secara langsung, dipandu oleh tiga pemateri Indra Ameng (Jkt), Anitha Silvia (Sby), dan Indra Menus (Yk) yang memang handal memprakarsai acara musik independen di kotanya masing-masing. Sehabis ba’da maghrib, di Rumamerah dibuka pameran hasil residensi seniman kerjasama Lifepatch (sebuah organisasi dari Yogyakarta yang fokus bereksperimen teknologi dengan alam), Rofi dan Hasrul yang melibatkan warga sekitar Tanakita. Mereka mengembangkan teknologi, sumber daya alam dan manusia. Terbukti hasilnya berupa smoothies mangga dan beberapa instalasi dengan material dari hutan.

    #RRRinTheValley hasil dari residensi seniman lifepatch, Muhammad Fatchurofi, dan Moch. Hasrul Indrabakti

    A video posted by RRRec Fest (@rrrec_fest) on

    Berpindah ke Panggung Petromak yang malam itu dilingkupi suasana sendu sesaat, Bin Idris (nama panggung dari proyek solo vokalis Sigmun, Haikal Azizi) menjamu telinga kalian dengan permainan gitar yang syahdu dan ganas campur aduk dalam selimut eksperimental di aransemen tiap lagunya. Tak lupa, ia juga membawakan lagu-lagu andalannya seperti “Rebahan”. Dilanjut duo avant-pop asal Jepang, Tenniscoats, yang meng-cover lagu “Doa Ibu” milik Titiek Puspa. Terlihat vokalis yang gugup karena berusaha belajar instan bahasa Indonesia. Tapi, hal itu disambut positif oleh penonton. Bahkan Saya (vokal), akhirnya turun dan berinteraksi secara dekat sambil mengelilingi mereka. Beranjak ke Gang Senggol, disana sudah ada dj sniff (JPN) bereksperimentasi lewat musik chillwave/down-tempo seakan menjaga tensi sehabis panggung sebelumnya. Namun hal itu tidak berangsur lama ketika W Music DJ Set (Jkt) mengambil alih turntable beramunisikan rentetan lagu obsecure dari berbagai belahan negara mengajak badan berjoget sana-sini mengikuti beat yang ada. Keliaran di Gang Senggol itu terhenti hingga subuh tiba. IMG-20150925-WA0077

    Photo : John Navid

    Karena tadi malam istirahat terlalu larut, akhirnya saya melewatkan kegiatan Senam Kesegaran Jasmani bersama RURU Radio dan langsung mengikuti diskusi “Toleransi, Masih Perlu Nggak Sih?” diisi oleh pembicara M. Nuzul Wibawa dan Mirwan Andan dimoderatori oleh Irma Hidayana. Membahas gejala-gejala lunturnya semangat dan sikap toleran dari ruang publik. Cara merespon, mendorong orang lebih toleran, dan apa akibatnya kalau toleransi dibiarkan mati? Dan penanggapnya dua seniman, Amenkcoy (Bdg) dan Popo (Bks) yang dimana karya mereka berdua terdapat unsur toleransi terhadap sesama. Dibahas secara mendetail di diskusi ini. Diskusi tersebut dibarengi kegiatan anak bersama RuRu Kids dengan SEKALA berwisata alam menyusuri sekitaran Tanakita.  Tak kalah menarik di diskusi kedua, jaringan musik Asia Tenggara bersama Takuro Mizuta Lippit a.k.a dj sniff (JPN), Kok Siew-Wai (MYS), Ardy Chambers (Mks), dan David Karto (Jkt) dengan moderator Felix Dass (Jkt) melihat persamaan dan perbedaan di antara festival dan kancah musik di Asia berdasarkan konteks dengan situasi di wilayahnya masing-masing. IMG-20150926-WA0018

    Photo : John Navid

    Oia, saya lupa bilang yang menjadi menarik festival tahun ini berkesempatan mengajak, dan ajang reuni, komplotan berbahaya Ensemble ASIA. Salah duanya Bin Idris dan dj sniff (selaku co-director) yang sudah bermain di hari sebelumnya. Lainnya, seperti Kok Siew-Wai terkenal sebagai vokalis improvisasi yang mengekplorasi bunyi-bunyian tersembunyi atau tak dikenal dalam suara manusia. Dan membawakan dalam berbagai cara berbeda di panggung Lembah di hari kedua. Sehabis itu Yui-Saowakhon Muangkruan (THA) celloist yang gaya permainannya sangat ekspresif. Menurutnya gayanya adalah respon atas lingkungan social disekitar dia. “Salah satu energi baru Indie-Rock Ibukota” begitulah deskripsi yang booklet sampaikan untuk Polka Wars. Formasi live mereka cukup solid sore itu. Materi-materi di album Axis Mundi bersinerji di alam terbuka. Setelah itu disambut Jogja Noise Bombing membisingkan seluruh lembah. Bermain secara bergilir Hendra Adytiawan – Indra Menus – Andreas Siagian – Mindblastworks saling unjuk kebolehan masing-masing.  Balik ke panggung besar, Efek Rumah Kaca sudah bersiap sepertinya. Banyak yang mengambil tempat duduk lebih dekat panggung untuk melihatnya. Terlihat anak dari Cholil Mahmud (vokal/gitar) setia mendampingi sang ayah di atas panggung hingga selesai. Mengulang momen di Pasar Bisa Dikonserkan (konser tunggal mereka yang digelar di Bandung) ERK kembali mengajak Bin Idris di “Debu-Debu Berterbangan”. Dan menutupnya dengan “Desember” seakan mereka tahu cuaca Tanakita saat itu gloomy namun lebih bersahabat. Gelap pun tiba, panggung di area lembah pun dari kejauhan seperti sebuah mata menyala layaknya mata Sauron di film Lord of The Ring. Kita menyaksikan dia atau dia menyaksikan kita? Salah satu desain panggung terbaik yang pernah saya lihat. “Ini lama-lama jadi Bin Idris Fest nih” ujar Haikal Azizi/Bin Idris ke saya sebelum mempersiapkan diri dengan Sigmun. Unit psychedelic-blues berat yang dalam waktu dekat ini merilis album penuh berjudul Crimson Eyes. Lagi-lagi tampil memukau di hadapan penonton. Pun mencoba memperkenalkan single terbaru “Ozymandias” yang lumayan catchy. “The Long Haul” menjadi lagu pamungkas bergemuruh seisi Tanakita. IMG_20150926_185857 Pemandangan, trio folk slebor asal Bandung menghangatkan kembali panggung Petromak. Walaupun seringkali bermain salah tidak mengurangi apresiasi penonton baris depan, malahan di lagu “Bocah Pikun” ada yang melakukan joget shuffle. Jauh-jauh dari Surabaya, Silampukau bercerita lewat lirik yang realis penuh kenangan bentuk curahan hati kedua personilnya. Hal timpang pun terjadi saat Silampukau menyudahi curhatannya. Yang tadi dibuat sendu oleh kedua penampil sebelumnya, saat Orkes Madun Pengantar Minum Racun (OM PMR) naik keatas panggung dibuat berantakan seadanya oleh mereka. Diluar memiliki lirik-lirik jenius, kemampuan kelompok dangdut legendaris ini juga mengacak-ngacak lirik lagu band lain lebih jenaka. Belum lagi tingkah mereka yang konyol. Bahkan lagu paling terkenalnya, “Judul-Judulan”, dimainkan dua kali sebagai lagu penutup karena merasa kurang puas. Berpindah ke Gang Senggol, dimana oomleoberkaraoke sudah siap dengan proyektor raksasanya. Tembang era apapun disediakan oomleo tergantung pesanan sambil bergantian ke M.M.S (Mar, Mela, dan Sari) memutar koleksi piringan hitam yang mereka miliki hingga subuh pun tiba kembali.

    Bincang minggu pagi dimulai dengan pembahasan “Perubahan Iklim dan Gaya Hidup” bersama Kurniawan Sabar selaku Manager Kampanye WALHI, komikus terkenal Azer, dan Andreas Siagian (founder dari lifepatch) berbicara tentang dampak perubahan iklim, krisis lingkingan hidup, dan bagaimana solusinya bersama organisasi lingkungan hidup seperti WALHI bersama moderator Saleh Husein. Sehabis itu dilanjutkan “Lirik-Lirikan” sebuah diskusi mendalami lirik sebagai identitas musisinya. Adapun pembicaranya kelas berat semua, Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca), Jimi Multhazam (The Upstairs, Morfem, Bequiet), Harlan Boer (C’mon Lenon) dimoderatori Keke Tumbuan. Jimbot musisi multi-instrumentalis yang mengeksperimentasi musik budaya Pasundan diberi singasana ditengah panggung utama (Panggung Lembah). Tapi, ternyata dia tidak sendiri, sebagai salah satu anggota komplotan Ensemble Asia memadukan kebolehan masing-masing. Menjadi pertunjukan berkesan buat saya pribadi. Musik yang mereka suguhkan susah dipahami namun hanya bisa dirasakan. Berlebihan? Kalian bisa mencobanya kalau berkesempatan menyaksikan mereka. Stars and Rabbit didaulat menjadi penutup RRRec Fest in The Valley 2015. Musik mereka representatif menggambarkan aura Tanakita hari itu. Sungkan rasanya mau beranjak dari rerumputan ini dan bergegas mempersiapkan barang untuk mengingat bahwa esok realita memanggil serta mengakhiri catatan kecil ini.