Tag: Bandung

  • Iris Bevy merilis debut album Avesta

    Iris Bevy merilis debut album Avesta

    “Melalui Avesta, kami ingin menyampaikan pesan untuk lebih menghargai dan berfokus pada diri kita sendiri dengan menyadari hakikat tersebut,”

    Dimas – Iris Bevy

    Iris Bevy adalah kuartet indie pop asal Bandung yang memasukkan berbagai unsur seperti Post-punk, twee pop, disco, synth-pop yang menurut saya cukup sukses membangun karakter mereka sendiri.

    Iris Bevy berisikan Shau (vokal, synth), Kidz (vokal, gitar, synth), Jeremy (gitar) dan Dimas (bass). Terbentuk setelah inkarnasi awalnya sebagai Ping Pong Club berakhir di sekitar tahun 2020.

    Avesta adalah hasil dari proses berkarya yang cukup panjang bagi Iris Bevy. Dengan referensi musikal maupun literatur, menghasilkan Avesta yang diartikan sebagai sebuah kitab atau bacaan, di mana setiap diri manusia pada hakikatnya merupakan kitab yang menyimpan harapan dan memori bagi jiwa manusia di alam material ini.

    Album ini berisikan 9 lagu yang terdiri dari 7 materi baru dan 2 lagu remaster dari single yang telah dirilis sebelumnya. Direkam secara independen dan dirilis via Demajors lewat berbagai kanal streaming pada tanggal 23 Juni 2023.

    Sementara cakram padat akan dirilis di awal Juli 2023 dan bisa didapat lewat berbagai toko yang menjual rilisan DeMajors.

    Dengarkan album mereka di berbagai streaming service. Rekomendasi bagi penggemar Indie Pop pada umumnya.

  • Nearcrush, duka cita, kematian dan seni-seni modern. (Bloodsports & Modern Arts review)

    Nearcrush, duka cita, kematian dan seni-seni modern. (Bloodsports & Modern Arts review)

    Sekitar awal tahun 2000, saya berbaring di sofa sambil mendengarkan album “Something to Write Home About” yang baru saya pinjam, sambil menikmati cover bergambar dua robot sedang bersandar satu sama lain. Saat itu milenia baru berjalan beberapa bulan, saya sedang di penghujung akhir libur kelulusan SMU dan sebentar lagi harus masuk kuliah.

    Tidak seperti remaja lainnya yang menghabiskan liburan kelulusan dengan petualangan macam cerita American Graffiti yang mungkin jadi inspirasi cover album Nearcrush ini; saya kebanyakan di rumah saja mendengarkan musik, membaca buku atau kadang nyoba bikin lagu kayak band-band yang lagi saya dengarkan. Yang mana tidak berhasil.

    The Get Up Kids, Jimmy Eat World, My Vitriol, Nada Surf, Sonic Youth, album-album awal Foo Fighter adalah hiburan saya saat itu. Sensibilitas baru yang ditawarkan dan kenyamanan suara distorsi plus cengkok-cengkok vokalis yang kadang fales kadang tidak merdu tapi terdengar tulus bernyanyi atau ngomong.

    Saya juga yakin era ini memberikan inspirasi bagi band-band lokal seperti Sajama Cut, Vague, Barefood, Skandal, dan Nearcrush yang baru saja merilis “Bloodsports & Modern Arts”. 


    Profile mereka di website Dissaster ( https://disasterposse.com/roster/nearcrush/ ) mendeskripsikan album ini dengan kalimat

    “…an album consisting of alt-rock songs ranging from fuzzy driven guitars, wet choruses, and the best elements from space rock anthems to blissful shoegazing sounds…”

    Memang rata-rata review mengenai album Nearcrush ini mencantumkan “nostalgia musik indie rock 90-an”, saya rasa cukup menjelaskan. Isi album ini memang langsung bikin saya ingat masa-masa itu; berbaring sambil baca dan menikmati cover.

    Nearcrush Bloodsports and Modern Arts album cover
    bagian dalam kover yang didesain oleh Herry Sutresna

    Nearcrush adalah Kevin Arifin, Aldy Kusumah & Deatless Ramz, ketiganya bukan orang baru di skena musik. Aldy Kusumah adalah penulis review dan artikel film di berbagai media, dikenal juga sebagai bagian dari Jolly Jumper dan pemilik clothing line Bastards of Young. Pada suatu masa, Aldy bisa menghabiskan banyak waktu untuk membahas beda film dan movie. Deathless Ramz akhir-akhir ini dikenal sebagai seniman komposisi soundscape; Deathless, selain juga dikenal sebagai pemilik The Throne Room.

    Seperti judulnya, album ini disusun sedemikian rupa, dengan referensi dari berbagai elemen pop-culture menjadi semacam cerita atau perjalanan spiritual Aldy Kusumah memahami makna eksistensial, duka cita dan kematian.

    Tiga topik tersebut; eksistensial, duka dan kematian adalah topik yang saya tangkap dalam berbagai kesempatan di album ini.

    Album ini dibuka dengan track “The Wolf & The Cub I”; bisa jadi mengambil referensi dari manga “The Lone Wolf and Cub” komposisi instrumental 1.28 menit akan suara distorsi gitar yang kusut mengawang-ngawang dengan berbagai lapisan suara. Cukup menawarkan kenikmatan bebunyian yang menyamankan a’la indie rock 90-an akhir.

    Dilanjutkan dengan Tidal Wave, yang gitu-gitu aja kayak rutinitas hidup akhir-akhir ini. Lagu demi lagi berlanjut tanpa gangguan berarti, senyaman dan santai jalan-jalan sore di lingkungan komplek suburban dan merenungi makna eksistensi kehidupan sambil mencoba memahami makna duka cita dalam hidup.

    “We’re clinging our lives fact or fiction, it’s survival in space in time” – Hazy Days
    “Embrace me to eternity. We’ll meet again, someday I don’t know” – Divine Confetti

    Seperti film, album ini adalah satu kesatuan cerita, dengan proses menuju klimaks di lagu “Prizefighter Deathblow”, saya hanya menerka ini mereferensi game tinju.

    Disambung “The Fountainhead Palace” yang turut menampilkan vokal Alexandra J. Wuisan (Sieve).  Lagu ini mungkin mereferensi sebuah tempat dan kejadian di video game Sekiro: Shadows Die Twice. Jika Prizefighter Deathblow bagian menuju klimaks, maka The Fountainhead Palace ini adalah saat tokoh utama harus mengambil keputusan penting.

    “…are you afraid? I should’ve let you know. Are you afraid?…” 

    Kemudian akhirnya ditutup dengan Tanhauser Gate, sebuah referensi ke Blade Runner rilisan 1982, yang menjadi akhir dari cerita.

    Sebuah album yang menyenangkan, terutama kalau dinikmati sambil membaca lirik dan menikmati cover. Sambil menerka-nerka lagu ini atau lirik ini mereferensi potongan budaya pop yang mana.

    Album ini bisa dipesan via https://disasterposse.com/shop/ atau distributor lain.


    Inlay booklet, diisi lirik dan foto-foto karya Ivan Aruka, Aldy K, & Deathless Ramz
    nearcrush mel's drive in
  • Plantasia; Musik Untuk Tanaman oleh Bottlesmoker

    Plantasia; Musik Untuk Tanaman oleh Bottlesmoker

    “Ini cabe saya tau-tau muncul buahnya nih setelah dari konser” atau “tanaman ibu saya berbunga” adalah kurang lebih tanggapan dari pemilik dari tanaman-tanaman yang menghadiri konser Plantasia oleh Bottlesmoker beberapa waktu lalu di Lou Belle Space.

    Jika biasa ruangan tengah tersebut dipadati oleh manusia, kali ini ada 120 tanaman yang hadir. Kalau biasanya musik yang disajikan disambut dengan tepuk tangan, kali ini disambut oleh berbunganya beberapa tanaman yang hadir.

    Bottlesmoker Music for Plants
    Bermain musik untuk tanaman

    Kita coba mengirimkan beberapa pertanyaan ke Angkuy terkait konser ini.

    Ide awalnya gimana nih?
    Ide ini muncul pertama kali saat kita pengen bikin pertunjukan musik tapi aman secara protokol Covid-19, otomatis harus yang bisa membatasi penonton yang datang atau bahkan ga ada penonton (manusia) sama sekali.

    Lalu sewaktu nyari ide-ide, gue nemu buku Hallucinogenic Plants, di Bab pertama buku itu nyeritain tentang tanaman-tanaman yang memiliki “kekuatan” yang dijadikan mediator bagi beberapa suku untuk berkomunikasi dengan sang pencipta.

    Dari situ, peradaban tersebut memberlakukan tanaman tersebut secara spesial. Dibikin ritual lah, diberi perlakuan khusus dan lain-lain. Setelah membaca buku ini jadi inget album Mort Garson yang “Mother Earth’s Plantasia”, album musik yang memang didedikasikan untuk tanaman.

    Gue pikir ini album tahun 70-an udah bisa mendedikasikan musik ke tanaman, gokil aja gitu dia. Nah jadi keidean “wah ya udah kita bikin konser offline, audiencesnya tanaman” aman secara protokol Covid-19 nih! Nah abis itu ya langsung gas!

    musik yang bagus untuk tanaman
    120 tanaman menikmati musik

    Lalu ternyata tanaman-tanaman itu beneran memberi respon ya?

    Karena komposisi musik kita based on data dari kajian ilmiah, dan disebutkan di kajian-kajian tersebut perlu proses penerimaan musik yang berkelanjutan, jadi sambutan dari tanaman butuh waktu 2 – 4 minggu. Makanya gue kasih file audionya buat peserta yang ikutan, jadi mereka tiap hari bisa muterin musiknya langsung ke tanaman. Harapannya mereka yang akan cerita langsung gimana sambutan dari tanaman itu, apakah benar membuat pertumbuhannya baik atau tidak. Tapi yang menarik, pada saat pertunjukan, ada beberapa tanaman yang menyambut langsung saat itu juga, bunga ada yg sedikit mekar, terus ada akar yang terlihat sedikit gerak, dan cabe rawit yang berubah warna jd lebih matang.

    musik yang bagus untuk tanaman
    Para tanaman penikmat musik

    Momen paling bagus responnya di momen apa?

    Frekuensi audio di 5000hz, beberapa tanaman lebih cepat bereaksi langsung saat itu. Gerakannya jadi lebih cepat

    Setelah ini, rencananya apa?

    Sedang merencanakan untuk membuat musik yang bisa membantu Orang Dengan Gangguan Jiwa supaya bisa lebih cepat fokus dan tenang ketika dengerin musik. Baru mulai riset dan observasi November 2020.

    Tulisan oleh Eric W
    Foto oleh team Bottlesmoker

  • Omuniuum, Ciumbuleuit, Bandung

    Omuniuum, Ciumbuleuit, Bandung

    Omuniuum
    jl. Ciumbuleuit 151B lt. 2, Bandung
    IG @omuniuum
    Twitter @omuniuum

    Omuniuum, bandung
    Omuniuum, Bandung
    Omuniuum, Bandung
    Omuniuum, Bandung



  • LIMUNAS feat Fourtwnty & Syarikat Idola Remaja

    LIMUNAS feat Fourtwnty & Syarikat Idola Remaja

    Fourtwnty dan Syarikat Idola Remaja menjadi headliner di pagelaran Liga Musik Nasional ke 14 di IFI Bandung. Venue acara ini penuh, karena tiket sudah terjual habis sebelum hari-H, sehingga malam tanggal 28 Juli 2019 kemarin di Bandung menjadi lebih meriah bagi mereka-mereka yang beruntung bernyanyi bersama Fourtwnty dan Syarikat Idola Remaja.
    .

    Fourtwnty
    Fourtwnty di acara Liga Musik Nasional
    Syarikat Idola Remaja
    Syarikat Idola Remaja
    Syarikat Idola Remaja & Fourtwnty
    Fourtwnty
    Fourtwnty
    fourtwnty dan kawan-kawan
    Fourtwnty
    Fourtwnty
    set list

    foto oleh Made Yana @madejerk