Tag: Bin Idris

  • Compilation no 1: Scouting Unit X Bronze Medal

    Compilation no 1: Scouting Unit X Bronze Medal

    Di saat industri musik global dinyatakan ‘terpuruk’ oleh label-label besar, label-label kecil justru bermunculan. Dengan misi menyebarkan musik-musik indah dalam format fisik yang terdesain, Scouting Unit bekerja sama dengan Bronze Label, merilis Compilation Number:01.

    Mengumpulkan band-band indie rock yang dikurasi oleh Marcel Thee (Sajama Cut, Strange Mountain, etc, etc, etc) yang juga pembawa nama Bronze Medal Records. Kemasan didesain khusus oleh kolektif Scouting Unit sendiri.

    Melihat dan mendengarkan kompilasi ini, mengingatkan diri kalau sudah lama tidak muncul sebuah kompilasi yang menandakan signifikansi dari eksistensi sebuah kancah musik. Terakhir saya tertarik mendengarkan kompilasi musik adalah Holy Noise rilisan Anoa Records, dan seingat saya terakhir kali sebuah kompilasi benar-benar memberikan penanda jaman yang signifikan adalah JKT:Skrg.

    Mungkin terlalu muluk jika kita menyebut kompilasi ini akan sesignifikan JKT:Skrg, tetapi pilihan musik yang ada, bisa dibilang mewakili kancah indie rock saat ini. Terutama kancah di Jakarta. Hanya satu band yang berasal dari luar Jakarta; Semakbelukar. Jika Serpong bukan termasuk Jakarta, kita bisa juga memisahkan Sajama Cut dan Bin Idris.

    Secara jadwal panggung, band-band yang ada di dalam sini hanya Pandai Besi dan Morfem yang memiliki jadwal panggung yang sering. Tetapi secara signifikansi dan sumbangsih pada kemajuan kancah musik berdikari di Indonesia, semua band memiliki peran yang besar. Wajah-wajah akrab mereka akan dengan mudah ditemui di setiap event yang ‘edgy’.

    Maka saran saya, jika kamu saat ini dengan sadar membaca artikel ini di Deathrockstar, ada baiknya kamu memiliki kompilasi ini. Sebagai penanda masa, seperti 12 tahun lalu saat band-band indie rajin merilis sesuatu.

    Beli di www.scoutingunit.com

    Kompilasi yang saik nih. Tq Scouting Unit

    A photo posted by deathrockstar (@deathrockstar.club) on

  • BERMAIN SELULOID BERSAMA LAB LABA­LABA

    BERMAIN SELULOID BERSAMA LAB LABA­LABA

    Lab Laba Laba

    Lab Laba­Laba mengajak kawan­kawan semua untuk bermain dan berkenalan kembali dengan seluloid. PAMERAN LAB LABA­LABA akan berlangsung setiap akhir pekan, dari 4 sampai 26 April 2015, di Perum Produksi Film Negara (PFN). Akan ada pameran, workshop seluloid, diskusi, tur laboratorium, dan pentas musik.

    PAMERAN LAB LABA­LABA adalah wujud dari hasil berproses Lab Laba­Laba selama setahun lebih di PFN. Hampir setiap minggu, sekumpulan anak muda ini meberdayakan kembali laboratorium di gedung bersejarah itu: bereksperimen dengan perangkat analog film, merumuskan larutan kimia untuk memproses pita seluloid, mendata materi audiovisual koleksi PFN, membersihkannya satu per satu, dan pada akhirnya mengkaryakan pengalaman mereka bermain dengan seluloid selama setahun lebih. Tidak semua anggota Lab Laba­Laba pekerja atau pegiat film, tidak semua juga berlatarbelakang pendidikan teknik kimia.

    Akan ada sebelas karya dari dua belas seniman: Edwin, Tumpal Tampubolon, Anggun Priambodo, Dyantini Adeline, Yovista Ahtajida, Rizki Lazuardi, Fransiskus Adi Pramono, Ruddy Hatumena, Luftan Nur Rochman, Ari Dina Krestiawan, Anton Ismael, dan MG Pringgotono. Semuanya mengkaryakan seluloid dalam beragam bentuk—rekaman audiovisual, animasi, instalasi.

    Melengkapi semua itu ada sajian kuliner dari Warung Pa’e serta sajian musik hasil kurasi Pepaya Records yaitu: Mondo Gascaro, Adrian Adioetomo, Glovvess, Crayola Eyes, Neowax, Napolleon, Alahad Lbn, Radioage, Kracoon, Animalism, MMS, Future Collective, dan Bin Idris.

    PAMERAN LAB LABA­LABA merupakan bagian dari program Mengalami Kemanusiaan, yang dibuka dengan acara FILM MUSIK MAKAN pada 21 Maret lalu di GoetheHaus Jakarta. Selama bulan April juga, bersamaan dengan pameran ini, ada program pemutaran #KOLEKTIFJAKARTA di Kineforum DKJ, Taman Ismail Marzuki. Diputar tiga film pendek terbaru babibutafilm hasil kolaborasi dengan Hivos Institute: The Fox Exploits the Tiger’s Might karya Lucky Kuswandi, Kisah Cinta yang Asu karya Yosep Anggi Noen, dan Sendiri Diana Sendiri karya Kamila Andini. Ada juga film­film Indonesia kontemporer macam Siti karya Eddie Cahyono dan Tabula Rasa karya Adriyanto Dewo, serta film klasik macam Istana Kecantikan karya Wahyu Sihombing dan Suci Sang Primadona karya Arifin C Noer.

  • Video Klip Terbaru Bin Idris  ‘Calm Water’

    Video Klip Terbaru Bin Idris ‘Calm Water’

    Bin Idris adalah solo project dari Haikal Azizi (vokalis Sigmun) musisi surealis asal Bandung yang telah memproduksi kaset EP perdananya ‘Muqadimmah’ oleh Hasana Record pada tahun lalu. Tapi, jika penasaran semua lagunya juga tersedia disini. Memang berbeda jauh dari sisi karakteristik Haikal di Sigmun, disini (Bin Idris), terdengar lebih tenang tapi ‘menghanyutkan’. Video klip ‘Calm Water’ berdurasi empat menit ini bercerita  tentang seorang pastur pedofilia yang bergegas bersama otopetnya untuk mengubur celana dalam bersimbah darah—menyimbolkan aib sang pastur—di tembok peninggalan sejarah, lalu berdoa meminta ampun dosa dan mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Saya menduga Riar Rizaldi (Sutradara dan Aktor Utama) seperti sengaja memberi cerminan fenomena kriminal yang kerap terjadi belakangan ini. Bahwa masih banyak tokoh agama itu hanya ‘manusia biasa’ memiliki nafsu tak terkontrol sama seperti kita.