Tag: dialog dini hari

  • #MaveOn7thAnniversary • 28 & 29 April • Park 23 Mall, Kuta, Bali

    #MaveOn7thAnniversary • 28 & 29 April • Park 23 Mall, Kuta, Bali

    Dialog Dini Hari, Jason Ranti, Senar Senja, Ballads of the Cliche, etc

    (more…)

  • Dialog Dini Hari merilis Sediakala (bulan lalu)


    Hanya kehadiran seorang anak dalam hidupnya yang mampu mengguncang hati lelaki hingga seperti itu. Membiusnya dengan kenyataan teramat manis, nyaris puitis. Menamparnya sampai tersadar betapa indah namun sekaligus rapuh hidup kita semua di dunia.
    Tak ada rindu semegah keinginan untuk memeluknya, buah hatimu itu, yang berada nun jauh di sana. Di dunia yang sepenuhnya berbeda. Dan semua itu, dalam kesendirian yang nyaris tak lagi tertanggungkan, bermuara menjadi doa.
    “Sediakala”, single teranyar Dialog Dini Hari, berdenyut seperti rindu. Tak mau berhenti dia, berkelebat dan menyelinap ke dalam kalbu. “Sediakala” terdengar luar biasa lembut dan rapuh, benar-benar terasa seperti rindu.
    Tidak banyak musisi Indonesia yang mau dan mampu menyuling kenyataan hidup dan kemudian menuangkan semuanya ke dalam lagu; rangkaian lagu yang berbeda satu dengan lainnya, karena memang kenyataan menghampiri silih berganti. Tak pernah sama. Yang sama hanyalah jiwanya saja.
    Dialog Dini Hari, dengan empat album terdahulu dan kini sepotong single baru dengan arah musik yang jelas benar-benar baru, membuktikan bahwa mereka adalah bagian dari yang sedikit itu. Penantian akan album kelima mereka akan terasa semakin menderu. Seperti rindu.
    Oleh: Eko Prabowo
    =====
    Dialog Dini Hari adalah:
    Brozio Orah: Bas, piano, vokal latar
    Dadang Pranoto: Gitar, vokal
    Deny Surya: Drum, perkusi
    Sediakala rilis hari ini 20 Februari 2018 dalam bentuk digital di sejumlah kanal musik seperti iTunes Apple Music Spotify Youtube dan sejumlah tempat lainnya.
    Sediakala direkam di Straw Sound studio, Seminyak oleh Deny Surya. Mixing & mastering di Lengkung Langit studio oleh Deny Surya. Artwork oleh Tika Wangsa.
    Info: surat@dialogdinihari.com

  • Konser Parahita : Dialog Dini Hari & Endah n Rhesa

    Konser Parahita : Dialog Dini Hari & Endah n Rhesa

    Kolaborasi merupakan alternatif kegiatan yang seringkali menghasilkan gagasan baru. Lewat kolaborasi, terjalin interaksi-interaksi baru dalam merespon karya. Di musik, kolaborasi seringkali menjadi oase bagi pelaku dan penikmatnya.
     
    Bertajuk “Konser Parahita”, diambil dari bahasa sansekerta yang dimaknai sebagai upaya saling menyejahterakan, membahagiakan, dan memberi manfaat. Di Konser Parahita ini, penonton akan diajak untuk menikmati konsep kolaborasi dari dua band folk raksasa Indonesia.
     
    Adalah Dialog Dini Hari-trio folk blues-asal Bali dan Endah N Rhesa-duo folk ballad-asal Jakarta ini sepakat membentuk kongsi baru dan menamakan diri mereka sebagai DDHEAR. Proyek ini baru saja menelurkan mini album dengan tajuk yang sama seperti nama konser yang akan digelar, Parahita. 4 lagu yang terdapat didalamnya merupakan 2 lagu masing-masing band yang direspon dengan bertukar aransemen “Wish You Were Here” milik Endah N Rhesa dan “Temui Diri” milik Dialog Dini Hari, dan 2 lagu baru yang diciptakan hasil kolaborasi mereka berjudul “Jangan Engkau Berhenti Bernyanyi” dan “Terang Berpijar Harapan”.  Video dari lagu “Jangan Engkau Berhenti Bernyanyi” sudah bisa disaksikan di www.ddhear.com.
     
    Konser Parahita yang terjadwal Kamis, 7 April 2016 ini merupakan kerjasama DDHEAR dengan G Production.
     
    G Production memilih Graha Bhakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki sebagai gedung konser untuk penyelenggaraan Konser Parahita ini. “Sudah sejak lama kita mendengar pertunjukan-pertunjukan hebat berhasil dipentaskan di GBB, kali ini dengan penuh hormat dan senang hati kami berkesempatan memberi kontribusi kecil sejarah kebudayaan lewat Konser Parahita – DDHEAR. Semoga menghibur dan memberi manfaat” ujar Ferry Dermawan – Program Director G Production.
     
    Bagi DDHEAR, lewat Konser Parahita ini mereka berharap dapat berbagi keriaan, kebahagiaan, dan rasa cinta akan persahabatan lewat musik yang mereka mainkan.
     
    Sampai jumpa di Cikini.
     
    ===
     
    DDHEAR – Konser Parahita
    Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki
    Kamis, 7 April 2016
    19.30 WIB
     
    www.gproduction.co.id/ddhear
    www.ddhear.com
     
    Instagram & twitter :
    @by_gproduction
    @dialogdinihari
    @endahnrhesa

    Dialog Dini Hari & Endah n Rhessa

  • FESTIVAL SEPERLIMA 2014 “BEDA ITU BIASA”

    FESTIVAL SEPERLIMA 2014 “BEDA ITU BIASA”

    Beda Itu Biasa
    Beda Itu Biasa

    SIARAN PERS
    FESTIVAL SEPERLIMA 2014
    “BEDA ITU BIASA”
    26 OKTOBER 2014

    Jakarta (26/10/2014). FESTIVAL SEPERLIMA 2014 bertema “Beda Itu Biasa” diadakan sebagai peringatan akan semangat Sumpah Pemuda sebagai salah satu peristiwa bersejarah bagi pergerakan anak muda di Indonesia yang kerap diperingati kembali dalam konteksnya untuk “memelihara persatuan” ketimbang “merayakan perbedaan”. Padahal, penghargaan terhadap perbedaan dan keberagaman makin terasa penting dan relevan bagi kehidupan anak muda di Indonesia, terutama dalam menghadapi berbagai permasalahan seperti kekerasan (termasuk kekerasan seksual), perkelahian pelajar, bullying, diskriminasi antar kelompok yang kian marak akhir-akhir ini.

    Maraknya kekerasan yang dilakukan atau menimpa anak muda bukanlah isapan jempol. Catatan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat ada 229 kasus tawuran pelajar sepanjang Januari-Oktober tahun 2013, sementara Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan mencatat adanya 279.760 kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi sepanjang 2013. Semakin maraknya tindak kekerasan berakar dari kurangnya penghormatan terhadap bentuk-bentuk keberagaman berekspresi, penghargaan terhadap perbedaan latar belakang dan semakin sempitnya ruang bagi anak-anak muda untuk bertemu, berdialog dan bertukar gagasan dan ide-ide kreatif. Minimnya ruang ekspresi dan kesempatan menonjolkan ide kreatif adalah salah satu faktor pemicu intoleransi dan
    kekerasan.

    Salah satu cara untuk menekan tingkat kekerasan adalah dengan menyelenggarakan Pendidikan Kesehatan Seksual dan Reproduksi (PKRS) di sekolah. PKRS sangat berguna bagi jiwa remaja yang sedang mengalami masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pendidikan kesehatan reproduksi atau seks yang komprehensif tidak hanya soal menjaga kesehatan saja, tetapi juga aspek psikologis, pemberdayaan, kecakapan hidup, dan prinsip anti-kekerasan.

    Oleh karena itu Seperlima, sebuah gugus kerja yang terdiri dari Pamflet, Pusat Keluarga Berencana Indonesia, Rahima, Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia, dan Hivos bekerjasama dengan promotor konser G Production mengadakan Festival Seperlima 2014: Beda Itu Biasa untuk merajut kembali semangat menghargai perbedaan anak muda serta memberi ruang bagi anak muda untuk mengeluarkan gagasan-gagasan kreatif yang selama ini terpendam.

    Pada kegiatan ini diselenggarakan juga kompetisi poster infografik untuk menjaring aspirasi
    anak muda terkait masalah-masalah di sekitar mereka. Festival ini akan diramaikan oleh
    musisi muda seperti Tika &The Dissidents, Sore, Dialog Dini Hari, Risky Summerbee & The
    Honeythief, Witches, Polkawars, Harlan, Luky Annash, Zeke Khaseli, Folkagogo, dan Angsa
    & Serigala. Selain itu juga akan ada pemutaran film dari beberapa sineas muda, antara lain
    Bernadette karya Paul Agusta, Silent karya Sidi Saleh, Masa Sih karya Chairun Nissa, serta
    Mencintai Nisan karya Dmaz Brodjonegoro.