Tag: malang

  • Video: Whitenoir – Sub District

    Video: Whitenoir – Sub District

    Usai merilis single debut dan track kedua dalam format video-lyric, Whitenoir kembali dengan sebuah music video (MV) baru. MV Sub-District ini pun dirilis roster Pop Flesh Records tersebut menjelang kehadiran extended plays pertama mereka, Feed Me, yang akan segera diretas dalam waktu dekat.

    Kali ini Whitenoir bekerja sama dengan salah satu media ternama yang berbasis di bekasi dan Jakarta yaitu Holytunes, Holytunes yang memiliki konten yang menarik, menjadi banyak media untuk band indie dan juga bersifat sangat supportive menjadi pertimbangan utama whitenoir dalam menggandeng Holytunes, dalam perilisanya whitenoir menyerahkan MV sepenuhnya untuk diunggah di kanal youtube Holytunes.

    Untuk penggarapannya, Whitenoir pun mempercayakan seluruh proses pada Levicor Production. PH Lokal ini dipilih Whitenoir mengingat Levicor Production mampu merepresentasikan track Sun/Shine milik unit emotive hardcore sekota, Shewn, secara visual dengan apik.

    “Sub-District bercerita tentang sarcasm bagaimana seorang individu memberikan duka cita dan simpati kepada sempitnya cara pandang seseorang dalam menyetujui sesuatu dan bagaimana seseorang dapat mudah sekali mengacak kebenaran demi kepentingan orang tersebut. Namun pada dasarnya kami membebaskan pendengar untuk merepresentasikan tentang apa isi lagu ini

    menurut versi mereka masing-masing. Dengan banyak pertimbangan, kami memilih Sub-District sebagai track pertama untuk dirilis sebagai track pembuka untuk EP perdana kami,” jelas Ekki.

    MV Sub-District sendiri dirilis via channel YouTube Holytunes hari ini. Selain itu, Whitenoir juga tengah bersiap melakukan radio tour di Surabaya-Malang dalam rangka mempromosikan musik sekaligus EP perdananya yang akan dirilis pada 22 April. Untuk menyimak music video Sub-District, silahkan mengunjungi tautan di bawah ini:

  • Unit post-hardcore bernama Leftover merilis ‘Mistake I Need To Make’

    Unit post-hardcore bernama Leftover merilis ‘Mistake I Need To Make’

    Setelah banyak merilis nama-nama segar dari Malang, kini Barongsai Records kembali mengenalkan band terbarunya Leftover. Unit post-hardcore dari Malang yang terdiri dari anggota – anggota Son Of Sundance, Fallen To Pieces dan Kids Next Door, tiga nama familiar yang tentu sudah menghiasi skena musik di Malang. Post hardcore/skramz ala Suis La Lune, La Dispute, Touche Amore, Secret Keeper, Departures, Landscapes, Coldbones dan skramz era millenium lainnya menjadi tonggak utama dalam tatanan musik mereka. Adapun mereka sudah merilis EP Mistake I Need To Make dalam format kaset. Dibuka dengan ‘Last Trick’ tribute untuk kerabat-kerabat mereka seorang skaters muda yang telah meninggal beberapa tahun lalu. Dilanjut ‘Perception’ tentang kebohongan yang ditutupi, akhirnya terbongkar juga dan merusak kepercayaan itu sendiri dan sesuatu yang telah dibangun bersama. Di ‘December, Dismember’ ada sedikit sentuhan rap berbalut teriakan-teriakan depresif. Sebagai bentuk terhadap band lokal terbaik versi mereka, membawakan lagu milik The Morning After ‘Monosyllabic Girl’.

    Terdiri dari Andrean Giovanni di Vocal, Agustinus Setyawan di Drum, Dimmy Nur Rakhman dan Yogi Yudo di Guitar. Mereka mulai merekam album sejak November 2015 dan selesai Agustus 2016. Single “Beyond Perception” telah beredar sejak akhir 2015. Single tersebut masuk dalam EP Mistake I Need To Make dirilis Barongsai Records pada 10 November 2016. Menurut Yogi EP ini punya dua arti “pertama itu kita tahu kalo yang akan kita perbuat itu salah, tapi karena suatu alasan tetep harus kita lakuin. Yang kedua, kita ngelakuin suatu hal dan nggak tau kalo perbuatan yg kita lakuin itu salah, tapi setelah dipikir dengan kepala dingin, kesalahan itu emang harus terjadi karena ada sisi positif yang bisa diambil dari situ”.

    More info follow: @BarongsaiRecs

  • Interview : Beeswax

    Interview : Beeswax

    Jika kalian belum tahu siapa band ini, sedikit saya perkenalkan mereka. Beeswax merupakan kuartet altenative/emo asal kota Malang. Sekarang masih berformasikan Bagas (vokal/gitar), Iyok (vokal/gitar), Putra (Vokal/Bass), dan Yayan (drummer). Dibilang baru juga tidak. Mereka sudah berhasil melepas dua album penuh di tahun 2014 berjudul First Step dan Growing Up Late pertengahan 2015 yang dirilis oleh Barongsai Records. Mereka memang sudah sering  masuk menjadi bahan perbincangan saya bersama kerabat di Malang sewaktu berkunjung ke sana. Intinya, mereka salah satu nama ya sangat direkomendasikan.

    Akhir bulan kemarin ,tepatnya 26 Juli 2016,  Beeswax menyambangi Jakarta. Kunjungan kali pertama ini dalam rangka mengikuti kompetisi pencarian band untuk We The Fest. Sebuah kesempatan sayang untuk dilewatkan, tentunya. Dibantu dua personil ‘cabutan’, dikarenakan Putra dan Yayan masih berkutat urusan perkuliahan, tidak mengendorkan animo penonton yang tumpah ruah malam itu.

    Besok harinya, saya pun diberi kesempatan untuk ngobrol santai dengan keempat pemuda ini. Dari membahas band hingga perkembangan musik di kota Malang dibalut gelak tawa. Berikut hasil ngobrol-ngobrol santai malam itu di Gudang Sarinah.

     

    Jadi belum ada hasil pengumuman kemarin ya? Kalian optimis akan masuk nggak?

    Bagas: Belum ada tuh.

    Iyok: Optimis aja sih. Cuman bandnya keren-keren semua sih. Persaingannya ketat banget

    Bagas: Kalau saya pribadi masa bodo lah dengan hasilnya. Kemaren kita bermain cuman untuk bersenang-senang.

    Terlihat sih animonya kemarin. Penontonya dibuat berantakan. Dan intinya kalian masih menunggu hasil dari panitia ya?

    Iyok: Iya kita masih menunggu. Tapi nunggunya di Malang. Hehe

    *patut dinformasikan bahwa mereka berhasil masuk empat besar dan akan bermain di We The Fest 2016 di hari kedua*

    Dan kali ini kalian dibantu oleh kedua  additional player? Kenapa yang kedua personil lainnya tidak bisa datang?

    Iyok: Karena yang dua ini sedang, ada urusan…

    Bagas: Ada urusan perkuliahan. Jadi kita pilih Afif bassis Shewn dan Agung drummer Write The Future untuk membantu kita.

    Dengar-dengar mereka disana juga sedang ngegarap album penuh ketiga ya?

    Bagas: Iya. Jadi kemarin ada kabar baik dari Malang, bahwa drummer kita berhasil menyelesaikan 14 track dalam satu shift. Sangat ngirit! Hehe

    Kira-kira nih kapan mau dirilis? Bisa dibocorin dikit tahunnya?

    Bagas: Target pribadi sih setiap tahun harus rilis. Melanjutkan sebelum-belumnya. 2014, First Step. 2015, Growing Up Late. Semoga 2016 bisa keluar album ketiga. Ya minggu depan lah. Hahaha

    Mengenai rilisan kalian berjudul “Growing Up Late”. Di setiap lagu ada artworknya berupa foto. Oleh siapa sih fotografernya? Dan gimana tuh prosesnya sampai bisa kepikiran punya konsep seperti ini?

    img_566dc18739c897.92600095

    Bagas: Itu dibuat oleh Satrio Wisanggeni. Temen kampus saya. Jadi, emang rencananya kita sepakat, artworknya berupa foto. Terus kita pilih fotografer yang biasanya dekat sama kita. Salah satunya dia. Akhirnya kita pun minta portofolionya. Terus, kita cuman berikan lirik dan lagunya. Satrio yang menerjemahkan secara visual. Kita pun membebaskan proses kreatifnya.

    Iyok: Menurut dia yang relevan lirik dan lagunya seperti apa.

    Bagas: Dan kita juga berikan clue sih. Pokoknya yang 90’an banget. Hasil akhirnya seperti itu.

    Bicara soal warna musik kalian, bisa dibilang kalian pendatang baru di kota kalian yang memainkan American Midwest. Kenapa kalian mencoba menyuguhkan itu?

    Bagas: Satu, alasannya nostalgia. Dua, ya emang karena suka. Karena hampir keseharian saya mendengarkan musik seperti itu.

    Iyok: Basically, Emo. Hehe

    Yoi, bicara soal Emo. Tidak lama kemarin kolektifan Sobat Indie bersama We Hum dan Holytunes juga sempat sempat menyelenggarakan karokean Emo. Dan membangkitkan kembali Emo dari tidur lamanya. Paska acara tersebut, ada yang sempat berkicau di twitter “2005: Emo are Fag. 2016: Emo so Nostalgic” gimana tanggapan kalian?

    Bagas: Iyasi, kalo liat di permukaan emang faggot. Tapi, sebenernya nggak juga. Hahaha

    Dan melihat perkembangan musik di Malang sekarang itu saya merasa seperti Bandung era 2000’an ya? Kalian merasa nggak sih pergerakan musik disana sedikit lambat?

    Bagas: Ya emang tidak kita pungkiri.

    Afif:  Tapi sebenarnya bukan lambat. Istilahnya tuh ‘ngepur’.

    Bagas: Yoi, Kalo di Bollywood kan jagoan menang terakhir. Hahaha

    Afif: Malangwood!

    Kalau kita membahas soal musisi yang regenerasi disana bagaimana sih dari kacamata kalian?

    Afif: Kalo sekarang sih regenerasi udah mulai. Kalau dulu yang main band-band itu aja, kalo sekarang keluar band-band baru muncul ke permukaan. Udah mulai berani. Dan band-band baru tadi udah mulai berani merilis fisik. Terus udah mulai mencoba bermain ke luar Malang juga. Jadi regenerasi dari kacamata saya sedang dalam proses.

    Agung: Ya memang. Mungkin generasi sekarang itu berkaca dari pengalaman-pengalaman musisi sebelum kita. Bagaimana sih awal mereka mulai dan berkembang menjadi seperti sekarang. Mereka (generasi baru ini) melihatnya seperti salah satu ilmu. Yang kita berkaca dengan pengalaman sebelumnya. Punya target harus lebih dari yang dulu dan harus lebih lagi. Bukan berarti kita tidak menghormati atau melangkahi. Sebagai acuan saja. Soal kebangkitan Emo tadi mau menambahkan aja nih, gue gak setuju. Bahwa Emo tuh nggak pernah atau akan mati. Soalnya emo nggak harus gitu-gitu aja. Pasti akan eksplorasi terus. Dan berkembang terus layaknya musik seperti biasanya.

    Afif: Asiiik… Agung temen gue! Hahaha

    Bagas: Balik lagi nih, kalau emang ada orang yang beranggapan di Malang kurang beregenerasi itu nggak juga. Tapi sepertinya memang cara pendekatannya saja yang kurang kepada penikmat. Dan medianya. Mungkin masih banyak kurang tahu cara mempromosikan band mereka sendiri. Seperti memasarkan, menjual, dan mendistribusikannya. Jadi kita pun melihatnya mereka masih kebanyakan berkutat dalam idealisme mereka dengan cara produksinya. Udah lah itu tinggalin. Itu sudah so yesterday!

    Iyok: Gue setuju sih sama semuanya. Soal pergerakan regenerasi di Malang sebenernya masih banyak banget potensi yang ada di sana. Cuman emang belom muncul aja. Bukan berarti nggak ada. Sedang mempersiapkan yang terbaik untuk dinikmati.

    IMG_20160801_0028

    Tapi menurut kalian salah satu faktornya apa?

    Iyok: Yang paling utama sih dari faktor finansial. Itu kan mempengaruhi semuanya hahaha.

    Bagas: Ya tadi itu, faktornya masih belum tahu cara memasarkan atau pun menyebarkan.

    Agung: Gue setuju sama keduanya. Emang masalah klasik sih faktor finansial. Dan dibutuhkan tim yang solid juga. Yang penting kan konsisten, bukan enak terus tenggelam.

    Sejauh ini menurut kalian, Beeswax sudah punya tim yang solid nggak?

    Bagas: Solid sih. Mungkin yang menjadi PR adalah cara menyiarkan seluas-luasnya saja. Bagaimana caranya orang diluar lingkaran kita bisa ikut mendengarakan juga. Sambil dipelajari dan sambil jalan.

    Afif: Ya solid sih. Buktinya bisa masuk kompilasi emo se-Asia. Apa namanya?

    Bagas: “Emotion, No”

    Wah ceritanya gimana bisa masuk kompilasi tersebut?

    Bagas: Jadi awalnya kan, Beeswax upload lagu Wellspring di soundcloud. Yang waktu itu ada kejadian apa ya?

    Iyok: Kejadian mata air yang diambil alih sama salah satu hotel di Batu, Malang. Warga sekitar kekurangan air. Sebenernya lagu itu nggak nembak isunya langsung. Cuman terinspirasi sama kejadiannya aja. Ibarat kita punya sesuatu, tapi kita lupa sewaktu-waktu diambil sama orang, kita baru sadar itu berharga untuk kita.

    Bagas: Nah, terus mereka (Uniteasia) akhirnya menemukan lagu tersebut di soundcloud. Langsung mereka mencari kontaknya Beeswax, Kebetulan, yang mereka dapatkan kontaknya saya lewat Facebook. Ceritalah mereka yang berencana bikin kompilasi. Dan Uniteasia mencarikan juga band-band yang bisa ‘ngepas’ lah dengan Beeswax. Kalau dari Indonesia ya cuman kita saja.

    Bisa kalian rekomendasikan satu band Malang? Dan kenapa kalian merekomendasikan mereka?

    Iyok: Write The Future. Soalnya mereka menyuguhkan hal yang baru di skena pop-punk. Jadi recommended banget kalo yang doyan pop-punk Midwest.

    Bagas: Shewn. Karena materi bagus. Pertama kali dengar langsung suka. Biar Afif senang aja nih hahaha. Sayangnya mereka lambat. Buruan dong rilis sesuatu lagi.

    Afif: Kalo aku, Frank! Itu band resek tapi enak didengar. Resek di panggung terus bandnya raw banget deh.

    Agung: Band di Malang yang wajib didengar sebenernya banyak yang mencuri perhatian. Mungkin salah satunya Much. Soalnya, di Malang jarang gitu band yang mengusung alternative. Kebetulan juga Much sendiri vokalis cowok dengan ceweknya pacaran jadi emosionalnya dapet.

  • FOLK MUSIC FESTIVAL 2016 (Lembah Dieng, Malang)

    FOLK MUSIC FESTIVAL 2016 (Lembah Dieng, Malang)

    The second Folk Music Festival will take place on May 14th at Lembah Dieng, Malang, East Java. FMF is one day festival of folk music, bringing all the good things from Malang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, and Surabaya. The lineup comprises the good of folk scene in Indonesia.

    EVENT CONTENT
    – Records Market
    – Food & Beverages Market
    – Drawing & Knitting Workshop
    – Music Stage

    DATE / TIME 


    Saturday, May 14th 2016 / 12.00 – 23.00 WIB 


    TALENTS 

    FLOAT
    WHITE SHOES & THE COUPLES COMPANY
    ARIREDA
    DANILLA
    AURETTE & THE POLSKA SEEKING CARNIVAL
    TIGAPAGI
    MOCCA
    TEMAN SEBANGKU
    LITTLELUTE
    SILAMPUKAU
    CHRISTABEL ANNORA
    WAKE UP, IRIS!

    VENUE 

    Lembah Dieng, Jalan Wisata 99 Malang 


    ORGANIZER 

    SATSCo

    ABOUT THE LINE UP FOLK MUSIC FESTIVAL 2016

    FLOAT
    Float lahir 30 Agustus 2004 oleh Hotma “Meng” Roni Simamora, Windra “Bontel” Benyamin, dan Raymond Agus Saputra. Pada awal tahun 2005 Float merilis mini album “No-Dream Land” secara independen. Mini album ini menarik perhatian produser film Mira Lesmana yang kemudian meminta Float mengisi album soundtrack untuk film “3 Hari Untuk Selamanya” (2007) yang disutradarai Riri Riza. Dengan album soundtrack tersebut, Float memperoleh penghargaan bergengsi seperti Abhinaya Trophy untuk Soundtrack Terbaik di ajang Jakarta Film Festival dan Best Theme Song di ajang penganugerahan MTV Indonesian Movie Awards, semuanya didapat di tahun yang sama, 2007.
    http://floatproject.com/

    https://www.youtube.com/user/floatproject

    WHITE SHOES & THE COUPLES COMPANY
    White Shoes & The Couples Company (WSATCC) adalah sebuah kelompok musik yang membawakan musik Pop Indonesia. Musiknya banyak dipengaruhi oleh lagu-lagu soundtrack film layar lebar yang populer pada era 1940′an hingga akhir 1970′an, semacam classic jazz, disco, easy listening ballads dan lain sebagainya, WSATCC adalah group musik yang meramu segala macam genre musik dalam setiap penampilannya. WSATCC terbentuk pada tahun 2002 disebuah kampus kesenian dibilangan Jakarta Pusat oleh Aprilia Apsari, Yusmario Farabi, Saleh Hussein, Ricky Surya Virgana, Apri Mela Prawidyanti, John Navid.
    http://www.whiteshoesandthecouplescompany.org

    https://www.youtube.com/user/wsatcc

    DANILLA
    Danilla, wanita dengan vokal teduh kelahiran 1990, merilis album perdana “Telisik” dan mendapat respon positif dari publik. Antonio Carlos Jobim, Billie Holiday, Ella Fitzgerald, adalah segelintir idola Danilla yang terdengar di album perdananya. Saat ini Danilla sedang mempersiapkan album ke-2 yang rencananya dirilis pertengahan tahun 2016.

    https://www.youtube.com/user/danillaofficial

    ARIREDA
    AriReda adalah duo vocal yang terdiri dari Ari Malibu dan Reda Gaudiamo. Mereka pertama kali terbentuk pada tahun 1982. Awalnya, mereka menyanyikan lagu-lagu folk dan balada dari seperti Fly Away (John Denver), lagu-lagu duo Simon & Garfunkel, dan lagu sejenis lainnya. Barulah pada 1987 mereka terlibat dalam proyek apresiasi seni yang diprakarsai oleh Sapardi Djoko Damono dan Fuad Hassan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu). Tujuannya, membantu orang awam menikmati puisi lewat lagu. Sejak saat itu AriReda terus menyanyikan sajak-sajak penyair Indonesia. Album pertama mereka, Becoming Dew, diluncurkan pada tahun 2007. Berisi 10 lagu dari puisi Sapardi Djoko Damono. Album kedua mereka, AriReda Menyanyikan Puisi diluncurkan pada akhir Agustus 2015, berisi nyanyian puisi dari karya-karya penyair Indonesia: Amir Hamzah, Mozasa, Abdul Hadi WM, Gunawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, dan Toto Sudarto Bachtiar.

    TIGAPAGI
    Indie-folk band yang berdomisili di Bandung memiliki karakter rhythm pentatonik Sunda dalam nuansa chamber-pop. Album perdana mereka, Roekmana’s Repertoire, mendapat sambutan hangat karena memiliki gaya down-tempo Elliott Smith dengan permainan string yang sendu seperti Antonio Carlos Jobim, gabungan musik keroncong dan musik folk Spanyol. Vokalis sekaligus penulis lirik Sigit Pramudita adakah pecinta musik grunge, gitaris Eko Sakti dan Promadian Febrianto adalah pecinta musik klasik. Oktober 2015 Tigapagi merilis bebas EP Sembojan yang merespon Tragedi 1965.
    http://tigapagi.com

    https://www.youtube.com/channel/UC5Yj4ujE8xoVe8KYwhKaEzQ

    MOCCA
    Mocca dibentuk tahun 1999 di Bandung, terinspirasi retro sound 70an dengan pengaruh swing, bossa nova, Swedish-pop, dan jazz. Mocca adalah Arina Ephipania, Riko Prayitno, Toma Pratama, dan Indra Massad. Penampilan langsung Mocca didukung pemain tambahan pada keyboard, trumpet, dan trombone. Mocca sempat vakum pada tahun 2011 dan kembali tampil pada tahun 2015 dengan album baru “Home”.
    http://mymocca.com

    TEMAN SEBANGKU
    Teman Sebangku merupakan project music duo yang terdiri dari Sarita Rahmi (vocal) dan Doly Harahap (nylon acoustic guitar). “Menari Bersama” menjadi mini EP pertama mereka yang diproduseri oleh Riko (Mocca) dan dirilis tahun 2011. Tahun ini, 2016 merupakan tahun dimana Teman Sebangku merilis album penuh perdana bertajuk “Hutan Dalam Kepala” yang berisi 8 lagu. 2016 pun menjadi permulaan tur Teman Sebangku di beberapa kota di Indonesia untuk memperkenalkan album perdana mereka.

    https://www.youtube.com/user/temansebangkumusik

    LITTLELUTE
    Grup folk asal Bandung yang mulai bergerak di akhir 2013 dan memulai produksi album perdana pada tahun 2015, Littlelute baru saja merilis debut album bertajuk Traces of Dollface & Plots oleh Helat Tubruk Record. Littlelute adalah Dhea Febrina (vokalis), Boiq (mandola), Faried (mandolin), Atse (ukulele sopran), Endang (ukulele tenor), Rengga (ukulele bass), dan Bob (perkusi). Album penuh pertama Littlelute yang diproduseri oleh Tesla Manaf, menyanyikan lirik yang riang tentang keindahan alam dan keinginan pergi berlibur.

    http://littlelute.com
    https://www.youtube.com/channel/UCqOel0FcwVS0DlMYZHBEzjg

    AURETTE & THE POLSKA SEEKING CARNIVAL
    Aurette and The Polska Seeking Carnival (AATPSC) adalah band yang memainkan musik pop melalui medium beragam instrumen musik folk. Terdiri dari 7 orang dengan latar belakang dan selera musik yang berbeda, AATPSC menjumput sedikit unsur dari berbagai musik seperti pop, folk, swing, bahkan rock steady dan reggae, kemudian meramu beragam unsur tersebut dalam satu jalinan musik yang utuh. Sebagian besar instrumen musik yang dimainkan AATPSC adalah akustik dan harus dimainkan secara ensemble, misalnya akordeon, ukulele, gitar, trumpet dan trombone, hingga alat perkusi seperti conga dan glockenspiel.
    http://ohcarnivalse.blogspot.com

    https://www.youtube.com/user/AATPSCYK

    SILAMPUKAU
    Silampukau adalah kepodang, salah satu biduan kondang dari alam raya; adalah cara orang-orang Melayu lampau memanggilnya; adalah duo Eki Tresnowening dan Kharis Junandharu yang berasal dari Surabaya. Mimpi, protes, perjuangan, semangat, dan geliat kehidupan sehari-hari adalah nyanyian Silampukau. Nyanyian yang selalu disenandungkan dalam iringan instrumen akustik sederhana. Bob Dylan, Iwan Fals, Dubliners, orang-orang mabuk, pengamen jalanan, dan obrolan warung kopi, turut mempengaruhi penciptaan lagu Silampukau. Lagu-lagu sederhana tentang orang-orang sederhana dalam momen-momen sederhana mereka. Album perdana Silampukau “Dosa, Kota, dan Kenangan” menjadi salah satu dari album terbaik 2015 pilihan Rolling Stone Indonesia dan Majalah Tempo.

    Silampukau



    https://www.youtube.com/channel/UCFo_UblaZ-XYrf9U7q7g5mQ

    CHRISTABEL ANNORA
    Christabel Annora, seorang pianis muda sekaligus vokalis berbakat dari kota Malang. Perempuan yang juga mengajar di salah satu sekolah musik dan mengambil kuliah jurusan arsitektur ini sudah bermain piano sejak usia 5 tahun. Christabel Annora akan merilis album perdananya pada perayaan Record Store Daty, 16 April 2016.

    WAKE UP, IRIS!
    Wake Up, Iris ! adalah projek musik dan perwujudan mimpi dari Bie Paksi dan Vania Marisca. Sebuah folk-pop-rock-duo dengan formasi Biola-Gitar Nylon dan Kickdrum dengan antusiasme positif tentang hidup dan mimpi. Bie Paksi (Vokal, Gitar Rhytm – Kickdrum) bertemu dengan sobat lamanya, Vania Marisca (Vokal-Biola) di penghujung tahun 2014 dan menemukan bahwa mereka memiliki mimpi dan visi yang sama dalam hidup mereka, terutama di dalam musik. Akhirnya pada awal Januari 2015 mereka memutuskan untuk memulai sebuah projek musik. Keduanya berasal dari Malang dan musik mereka banyak terpengaruh music folk dan etnik, blues, rock dan klasik.

    https://www.youtube.com/channel/UCVWpiyAzO-a1rKhzjaGN2FQ

    ​For more info about the festival, please go to:
    Instagram : @folkmusicfestival
    Phone/Text/WA : 0856 4543 8964​
    Email : info.folkmusicfestival@gmail.com​

    Folk Music Festival 2016
    Folk Music Festival
  • Music Alliance Pact February 2015

    Music Alliance Pact February 2015

    Kenalkah kamu dengan Much dari Malang? karena lagunya saat ini telah diputar di 19 negara. Coba didownload.

    Click the play button icon to listen to individual songs, right-click on the song title to download an mp3, or grab a zip file of the full 19-track compilation through Dropbox here.

    ARGENTINA: Zonaindie
    Enero Sera Mio – Hasta Encontrarte
    “January will be mine” is the translation of singer-songwriter Sol Fernandez’s artistic project. Her music is a perfect match of soft melodies and dream-pop with carefully crafted arrangements and sound landscapes. This track is from Enero3, her latest work, which is being released through Bandcamp.

    AUSTRALIA: Who The Bloody Hell Are They?
    Nite Fields – Prescription
    Prescription is the second single from Brisbane four-piece Nite Fields’ long-awaited debut record Depersonalisation. While the intricate guitar work and broody vocals echo The Church, there’s a humid, curiously distant tone here that is something totally their own. Starting with sparse prickly guitars and splashy drumming, the song folds in on itself towards the end, becoming slightly claustrophobic but in an intimate, whispery way. Nite Fields keeps you at arm’s length – you have to squint through the haze of effects and layers to get a hold of anything solid, but once you do, you’ve already fallen hard for this moody and mysterious band.

    CANADA: Ride The Tempo
    Willows – The Shape I’m In
    Johnny McArthur and Eric Moore make up the electronic duo Willows. They venture into uncomfortable territory melodically. The swirling repetitive underlying of The Shape I’m In resembles the dizzying sensation of intoxication. The bursts of energy are like the highs that come back to the inevitable lows.

    CHILE: Super 45
    Sin Órbita – Atardecer
    Sin Órbita is a duo formed by Paula Roa and Martin Perez Roa, who last year released their first record, Neón EP (Sudamerican Records). Flirting with electronica and soul, the band are a mixture of Massive Attack trip hop cadence and AlunaGeorge sensuality.

    DENMARK: All Scandinavian
    The Radar Post – Traces
    Songwriter and producer Esben Svane will release his debut solo album as The Radar Post in April. The record will also be titled The Radar Post (he’s keeping his real name for an album in Danish later on) and here’s first great single, Traces, which you can also download in WAV format on SoundCloud.

    DOMINICAN REPUBLIC: La Casetera
    MULA – Up & Down
    MULA is a new experimental project formed by Anabel and Cristabel Acevedo (the twins from folk duo Las Acevedo) and up-and-coming DJ Rach Ro. Even though their musical backgrounds are very different, they want to defy certain preconceptions about mixing electronica with more urban styles. Up & Down, their first single, takes from reggaeton rhythms and electronic accents to create a space-like musical journey. Their first full record is out on February 22 on their self-made label, Pulcra Records.

    ECUADOR: Plan Arteria
    Mama Soy Demente – La Buena Suerte
    Mama Soy Demente is an experimental rock band founded in 2005 by El Ermitaño and Jolgorio Vocal. La Buena Suerte is the first single from their third and latest studio album, El Disco Rojo, an eclectic record brimming with energy and power.

    INDONESIA: Deathrockstar
    Much – Carried Away
    From Malang with Much love. The duo, consisting of Dandy Gilang and Aulia Anggia on vocals, will rock you with their fuzz-pop beat and embrace you with their warm distortion.

    IRELAND: Hendicott Writing
    Featuring X – Wild Love
    A pop-rock teenage quintet from the back-roads town of Drogheda on Ireland’s east coast, Featuring X are fast gaining traction for their buoyant, lively sound and skilful axe-womanship. Wild Love is their distinctive cover of Rea Garvey’s classic, loaded with harmonies and feisty riffs. As well as new recordings, we’ve been promised something else, ‘something special’ in 2015.

    ITALY: Polaroid
    Havah – Meno Di Metà
    Jonathan Clancy from His Clancyness and A Classic Education recently started a new label called Maple Death. The inaugural release is a split 12” EP between His Electro Blue Voice (already on Sub Pop and Sacred Bones), who contributed a hypnotic 19-minute track, and Havah, the new project of Michele Camorani (from punk hardcore legends La Quiete and Raein). Havah have a darker, colder and more post-punk sound. They usually play fast and short songs, and they are incredible.

    JAPAN: Make Believe Melodies
    Eriqu – Gang Star
    Neck-twisting wonkiness has been a common trait in most notable bedroom-produced Japanese electronic music worth checking out. Eriqu has his fair share of all-over-the-place tracks, but when he focuses a bit on the thundering Gang Star, he comes up with one of his best numbers to date. It ploughs ahead, although Eriqu adds a few unsettling touches such as scrambled voices or what sounds like a man making dog barks.

    MALTA: Stagedive Malta
    Yews – Keep Trying Till It’s Something
    Singer-songwriter Yasmin Kuymizakis (Yews) composes and produces ethereal electronic pop music in her bedroom. Currently based in London, she has a different set-up every time she performs live, playfully changing and adapting her simple songs. Her debut Selene EP was released in 2014.

    MEXICO: Red Bull Panamérika
    Sotomayor – Cielo
    Raúl Sotomayor and his sister Paulina were part of Mexico City’s Beat Buffet, a hip hop combo that parted ways with its other members a few months ago. Not much time had passed when they announced this new project, whose introduction card is Cielo, a beautiful, downbeat, sensuous electropical tune.

    PERU: SoTB
    Los Outsaiders – Niña
    Los Outsaiders are a great garage-rock group based in Lima. Led by Charlie VTW, their sound is influenced by classic and contemporary rock’n’roll. They recently released their first album with the help of producer Gordon Raphael, known for his work with The Strokes.

    PORTUGAL: Posso Ouvir Um Disco?
    Cave Story – Richman
    Hailing from the city of Caldas da Rainha, Cave Story are Pedro Zina (bass), Gonçalo Formiga (vocals, guitar) and Ricardo “Caguincha” Mendes (drums). Their sound will delight fans of Pavement. Richman is an obvious tribute to the great American musician Jonathan Richman.

    SCOTLAND: The Pop Cop
    Monogram – Anno(mute)
    Monogram, aka Liam Rutherford, first appeared in MAP’s August 2013 edition under his previous pseudonym Mast. The accompanying song, Romance, was my favourite of that year. Anno(mute) is a subtler, haunting offering, but remains true to his DIY ethic. Working from a remote cabin studio in the Borders, he plays all instruments, designs his own artwork and self-produces his promo videos to create an all-encompassing experience.

    SOUTH KOREA: Indieful ROK
    JoJo Blowhard – Good Night
    Operating under the motto that “lying is OK”, JoJo Blowhard writes sad songs that make for great company. His first EP Good Night was released in late 2013, but he has come under the spotlight again with the recent release of the title track’s video. A sober melody paired with JoJo Blowhard’s sympathetic voice, the tones from Good Night will linger long after the song has stopped playing.

    SPAIN: Musikorner
    Buck & Cake – Brillo Labial
    According to a close friend of Buck & Cake, the music Douche Buck and Cake Moss play is about “leaving subtleness behind, marrying an old man and counting the days to his demise in order to inherit his fortune. It’s dying your hair blonde using cheap products… and refilling your Chanel bottle using that coconut cologne you bought in a dollar shop.” Basically, Buck & Cake’s electropop is about carelessly giving yourself over to the pleasures of life.

    UNITED STATES: We Listen For You
    Twin Limb – Long Shadow
    The music of Twin Limb is that constantly folding and dancing smoke of a freshly blown-out candle. Minimalist sounds find itself turning into emotional highs as the pure talent of Twin Limb sneaks through the smallest mannerisms of brilliant songwriting.

    Music Alliance Pact