Tag: Superbad

  • Superbad eps. 72

    Superbad eps. 72

    Band apa yang bisa bikin lu dapet rumah?

    KPR.

    *Syarat dan ketentuan berlaku.

    KPR yang tadi malam tampil di Superbad edisi 72 bukanlah Kredit Pemilikan Rumah tetapi Kelompok Penerbang Roket. Album mereka yang dirilis tahun 2015 disebut-sebut sebagai salah satu album terbaik di Indonesia, dan mereka menjawabnya dengan penampilan yang solid dan asoi. Masa depan band ini akan cerah, jika di dukung oleh manajemen yang baik dan konsistensi dalam berkarya.

    Sayang saya melewatkan Hudson Glover dari California, untungnya masih sampai tepat di saat Dirgahayu menyiapkan panggung. Unit postrock asal Malaysia ini memang sedang tur beberapa kota di Indonesia, dan sudah lumayan banyak komentar bagus sampai di saya mengenai penampilan band ini yang explosive.

    Menyenangkan untuk melewati event tahun baru di penghujung bulan pertama di tahun 2016. Superbad selalu menjadi siraman rohani bulanan bagi jiwa-jiwa yang cinta akan suara-suara bising.

    Kelompok Penerbang Roket
    Kelompok Penerbang Roket
    Kelompok Penerbang Roket
    Kelompok Penerbang Roket
    Kelompok Penerbang Roket
    Kelompok Penerbang Roket
    Kelompok Penerbang Roket
    Kelompok Penerbang Roket
    Dirgahayu dari Malaysia
    Dirgahayu dari Malaysia
    Dirgahayu dari Malaysia
    Dirgahayu dari Malaysia
    Dirgahayu dari Malaysia
    Dirgahayu dari Malaysia
    Dirgahayu dari Malaysia
    Dirgahayu dari Malaysia

    *foto oleh Eric Wirjanata.

  • Photos from Superbad vol.71

    Photos from Superbad vol.71

    “Yang tadi bagus ga?” tanya seorang teman yang datang terlambat.
    “tergantung, lu mau liat dari perspektif mana?”

    Arrington De Dionyso seorang seniman bebunyian ini rupanya begitu cinta Indonesia, ia memasukkan mantra-mantra dalam bahasa Indonesia dan Jawa ke dalam penampilannya. Seniman multitalenta yang mampu memainkan saxophone, Karinding dan rupa-rupa alat musik tiup bikinannya sendiri dimainkan dengan komposisi caranya sendiri.

    Dari sisi kesenian dan budaya, tentu penampilan Arrington De Dionyso ini memberikan arti khusus. Dalam sisi musik pop, penampilannya memberikan ‘arti khusus’.

    Stylish Nonsense adalah format duo asal Thailand, yang satu menggunakan rok terusan dan bermain drum machine, yang satu lagi memainkan synthetizer yang kadang dimainkan a’la keytar. Seru juga hasilnya.

    Ditutup oleh Ramayana Soul, ini band semakin asoi!. Berbagai pujian positif dari awal karir mereka, dijawab dengan terus mempersolid aksi panggung. Keren!.

    Indra Ameng membuka Superbad vol.71
    Indra Ameng membuka Superbad vol.71
    Kakinya Arrington De Dionyso
    Kakinya Arrington De Dionyso
    Mic nya sampe dua, demi eksplorasi
    Mic nya sampe dua, demi eksplorasi
    Arrington De Dionyso
    Arrington De Dionyso
    Arrington De Dionyso
    Arrington De Dionyso
    Baru tau peralon bisa jadi alat musik tiup, tadi belon nanya itu namanya apa. Sementara kita sebut Peralon-o-phone.
    Baru tau peralon bisa jadi alat musik tiup, tadi belon nanya itu namanya apa. Sementara kita sebut Peralon-o-phone.
    duet asoi juga
    duet asoi juga
    Stylish Nonsense
    Stylish Nonsense
    Stylish Nonsense
    Stylish Nonsense
    Stylish Nonsense
    Stylish Nonsense
    OLYMPUS DIGITAL CAMERA
    OLYMPUS DIGITAL CAMERA
    Stylish Nonsense
    Stylish Nonsense
    Stylish Nonsense
    Stylish Nonsense
    Ramayana Soul
    Ramayana Soul
    Ramayana Soul
    Ramayana Soul
    Ramayana Soul
    Ramayana Soul
    Ramayana Soul
    Ramayana Soul
  • Go Ahead Challenge Artwarding Night

    Go Ahead Challenge Artwarding Night

    GAC_gif_cobra_300x250

    Beberapa tahun belakangan ini kancah kreatif di Indonesia tampak bergairah, terasa dari ramainya kompetisi Go Ahead Challenge 2015 yang mendapatkan submisi sebesar 36,860 karya. Go Ahead Challenge ini adalah kompetisi kreatif di empat bidang seni yaitu; musik, fotografi, seni visual, dan style. Setelah melewati proses seleksi ketat dari keempat kurator, Arian13 (musik), Anton Ismael (fotografi), Ade Darmawan (seni visual) dan Auguste Soesastro (style), pemenang akan diumumkan pada 22 Agustus 2015, di acara “Go Ahead Challenge Artwarding Night”. Acara awarding night ini juga menjadi wadah kolaborasi bagi komunitas-komunitas seni yang ada di Indonesia.

    Hightlight acara ini adalah penampilan kolaborasi band-band indie terbaik: White Shoes and the Couples Company – Sentimental Moods antara Efek Rumah Kaca – Barasuara,
    White Shoes and The Couples Company akan berkolaborasi dengan Sentimental Moods, ini menarik karena Sari, vokalis WSATCC, pernah mengisi vokal di beberapa trak Sentimental Moods. Ditambah lagi personel WSATCC yang selalu atraktif dan tidak malu menunjukkan skill akan semakin berbahaya saat bertemu Sentimental Moods yang kemampuan bermusiknya mumpuni.

    Sementara Efek Rumah Kaca yang mulai aktif kembali sepulangnya Cholil dari Amerika, akan berkolaborasi dengan Barasuara. Barasuara adalah band paling ‘hangat’ saat ini, karena musik dan penampilannya yang atraktif. Jika dikolaborasikan dengan Efek Rumah Kaca yang punya aransemen progresif jenius, maka momen kolaborasi nanti tidak boleh dilewatkan.

    Selain penampilan kolaborasi diatas, The Secret Agents sebagai duo penyelenggara rangkaian gigs Superbad juga mengkurasi 4 band untuk tampil. Mereka adalah Sigmun, Stars and Rabbit, Indische Party dan Ramayana Soul. Ke empatnya telah menjadi bahan pembicaraan beberapa tahun belakangan ini.
    Sigmun adalah band stoner rock, dengan distorsi berat dan lengkingan yang akan membuat Ozzy Osborne berteriak “i am your father”. Stars and Rabbit adalah duo pop asal Jogjakarta, yang baru saja merilis album yang dimastering di London. Lalu Indische Party adalah band rock and roll yang membangkitkan kembali era keemasan rock n’roll circa 70-an, dan Ramayana Soul adalah jawaban dari pencarian spiritual manusia-manusia yang mencari siraman rohani psikedelika.

    Pemenang Go Ahead Challenge 2015 dari Sampoerna A akan diberangkatkan ke Melbourne untuk sebuah pengalaman seni kolaborasi internasional sebagai hadiah utama. Melbourne merupakan kota yang terkenal dengan street art yang menarik dan memiliki berbagai komunitas seni yang beragam. Para pemenang akan memamerkan karya kolaborasi pada Melbourne Fringe Festival 2015, sebuah festival seni bergengsi di kota tersebut.

    Tahun lalu, Sylvester Bass (fashion designer) dan Raditya Bramantya (fotografer), terpilih sebagai pemenang dari Go Ahead Challenge 2014 dan mendapat pengalaman collaborative creative project di Paris Fashion Week 2014 bersama desainer kondang Tex Saverio.

  • Superbad #69

    Superbad #69

    Seperti beribadah untuk mendapat pencerahan, maka Superbad adalah kegiatan ibadah hari Minggu saya sebulan sekali. Sepulang gereja sore, lanjut ke kuil Jaya Pub untuk menemukan musik-musik mencerahkan hasil perburuan The Secret Agents.

    Edisi telah mencapai 69, artinya sudah lima tahun lebih pasangan seniman ini mendedikasikan sebagian hidupnya untuk musik. Kali ini ada Rawabening, Zzuf, Shappira Singgih, dan Mocca.

    Rawabening adalah 3 pemudi dan 1 pemuda keturunan Australia yang menetap di Jakarta, mereka memainkan musik indie/surf/pop dengan sedikit fusion nada pentatonic di beberapa bagian. Jenis musik yang cenderung ‘baru’ untuk scene Jakarta.

    Zzuf yang akhirnya manggung juga dengan tebaran fuzz yang hangat. Dilanjutkan Shappira Singgih yang sedang menarik perhatian karena karakter suaranya yang khas, dan kemampuan menulis lagunya yang banyak terpengaruh psikedelika klasik.

    Lalu bintang utama malam kemarin adalah Mocca. Band ini pada awal karirnya cepat melesat, sehingga selama 13 tahun karirnya, bisa dibilang tidak banyak muncul di panggung kecil. Maka set langka ini, yang mungkin sulit terulang karena Arina ‘Dede’ Ephiphania masih harus kembali ke Amerika, ada baiknya tidak dilepaskan begitu saja.

    Musik mereka yang hangat, lembut, ringan, pop, dan ceria itu memang sangat cocok dibawakan di panggung-panggung yang akrab seperti kemarin.

    Juga menarik adalah, sudah lama tidak melihat band ini memasang alat-alat mereka sendiri di panggung. Sayangnya saya lupa membawa batere kamera jadi sulit menangkap momen di suasana gelap, tetapi untungnya saya jadi bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk menikmati.

    arina_ephiphania

    mocca-blur

    mocca-superbad

    rawabening_band

    rawabening

    sapphira_singgih-superbad

    sapphira_singgih

    zzuf-superbad

    zzuf

    https://soundcloud.com/sapsing/lost-soul

  • Superbad #68

    Superbad #68

    Tiga band asoi; Dental Surf Combat, Piston dan Petaka. Malam itu semua penampil tidak ada yang berada di panggung lebih dari tiga puluh menit. Dua gelas bir dan satu gelas orange juice tepat habis setelah ketiganya selesai.

    Malam belum terlalu larut untuk pulang sambil terkantuk-kantuk. Apalagi ketiga band tadi semuanya menyegarkan. Sebuah anthem baru muncul, setidaknya bagi saya; hardcore akhir pekan. Sebuah karya dari band bernama Petaka yang cocok banget untuk kegiatan saya beberapa tahun terakhir, walau tidak banyak yang benar-benar dihabiskan untuk menonton band hardcore. Tetapi cocoklah.


    Dental Surf Combat

    dental_surf_combat-00

    dental_surf_combat-01

    dental_surf_combat-03

    jaya_pub

    piston-02

    piston-03

    petaka-03

    petaka-04

    petaka-05