Author: DRS

  • Snakeweed Session #4 : Rachel Yamagata

    Snakeweed Sessions #4 sees the crazily charming Rachael Yamagata stumble upon our special lion dance welcome. Don’t worry, we didn’t scare her away. Instead, she stayed, she sang, and she stole our hearts. We’re sure you’ll feel the same.

    Rachael performs the heart-wrenching ‘Elephants’ and a new, unreleased song, “You Won’t Let Me.” Snakeweed Sessions is stoked to present to you one of the very first recordings of Rachael’s new track.

    Look out for these two performances on Friday, 13th May!

    ::::::::

    Snakeweed Sessions
    http://snakeweedsessions.tumblr.com/

    Latest Updates on FB
    http://www.facebook.com/snakeweedstudios

    Rachael Yamagata
    http://www.rachaelyamagata.com

  • Mono live at Zouk

    MONO adalah band post-rock asing pertama yang pernah saya tonton secara langsung, yaitu ketika Jakarta Rock Parade, 13 Juli 2008. Dan langsung saja mereka mengubah pandangan saya terhadap band instrumental post-rock saat itu. Menonton mereka seperti menaiki rollercoaster, emosi kita ikut naik turun mengikuti mood yang mereka bangun melalui lagu yang mereka bawakan.

    Jumat, 6 Mei 2001 kemarin, saya akhirnya berkesempatan untuk menyaksikan mereka kembali dalam rangkaian tour Asia mereka di Singapore. Dan satu hal yang bisa saya katakan dari awal adalah, menonton mereka sangat setimpal dengan memecahkan celengan babi saya untuk bisa mengongkosi saya berangkat menuju Singapore..hehehe..

    Sampai di venue sekitar pukul 18.30 waktu setempat, suasana masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang tampak berkumpul. Tapi semakin lama, semakin banyak pengunjung yang berkumpul menunggu pintu masuk dibuka. Tampak juga banyak dari mereka yang dengan antusias menyerbu stand merchandise dari MONO.

    Tepat jam 19.30, pintu masuk pun dibuka dan saya bergegas masuk untuk mendapatkan spot untuk bisa menjalankan `ibadah` saya hari itu dengan baik dan khusyuk. Zouk, yang sebenarnya adalah club yang biasanya dipakai untuk tempat acara-acara per-DJ-an, disulap menjadi tempat konser yang intim, dengan tidak adanya barikade yang menghalangi panggung dengan penonton dan juga tinggi panggung yang berkisar hanya 50 – 60 cm saja.

    Pukul 20.30, Satu per satu band member menaiki panggung. Penonton di dalam venue sendiri tampak semakin penuh dan mereka berteriak begitu mendapati MONO langsung membuka penampilan mereka malam itu dengan lagu `Ashes in The Snow` dari album terakhir mereka, `Hymn To The Immortal World’. Begitu intro dari lagu itu terdengar, langsung saja bulu kuduk saya berdiri. Dan yang terjadi setelah itu adalah apa yang saya katakan awal tadi, perjalanan menaiki emotional rollercoaster.

    Setelah itu, berturut-turut `Follow the Map` dan `Burrial at the Sea` dibawakan. Terus terang saya hampir tidak bisa mengendalikan emosi saat itu. Ambience yang mereka bangun benar-benar bisa dibilang tanpa cacat. Saya rasa, sebagian besar penonton saat itu juga merasakan hal yang sama dengan saya. Dengan lagu yang tanpa vocal, mereka mampu menyajikan sebuah pertunjukan yang sama sekali tidak membosankan.

    Duo gitaris, Yoda dan Goto, benar-benar mampu membius penonton dengan sound yang mereka hasilkan. Tamaki, bassis sekaligus pemain keyboard pada beberapa lagu, juga tampil dengan aktraktif, hampir sepanjang penampilan dia tidak bisa diam dan bergoyang mengikuti irama lagu. Sementara Takada menjaga beat dengan permainan drum yang sangat rapid an konstans, mengingat durasi dari setiap lagu MONO yang lebih dari 6 menit bahkan bisa mencapai 15 menit.

    Penampilan Goto malam itu patut menjadi titik perhatian lebih. Sangat terlihat bahwa lead guitarist ini merupakan dirigen bagi lagu-lagu yang dibawakan oleh MONO. Sesekali dia juga dengan sangat bernafsu memanipulasi sound-sound dari jajaran efek stompboxes-nya. Beberapa kali juga dia dengan tiba-tiba berdiri dari kursi dan menendang kursi tersebut. Bahkan gitarnya pun tak luput dari sasaran pelampiasan emosinya.

    Total 9 lagu yang mereka bawakan malam itu, termasuk ‘Halcyon (Beautiful Days)’ dan `Moonlight` yang sangat mengaduk-ngaduk emosi dan satu lagu encore malam itu, `Everlasting Light` yang menjadi penutup yang sangat sempurna. Hasil yang saya dapatkan malam itu adalah kuping yang pengang dan sebuah perjalanan rohani yang tidak mengecewakan sama sekali. Terimakasih banyak untuk Kitty Wu Records yang telah menyelenggarakan acara ini.

    Anthono Oktoriandi
    Photo by: Muhammad Asranur

  • Stereomantic dan Konspirasi Hegemoni Dunia Maya

    Tidak seperti pembuatan album pertama yang relatif singkat (dua bulan), butuh waktu 4 tahun lamanya bagi kami untuk merampungkan Cyber Superstar. Proses kreatif memang sukar diprediksi, kadang makan waktu namun bisa juga berlaku sebaliknya. Sama halnya dengan mempertahankan motivasi dan eksistensi untuk tetap berkarya. Nampaknya geliat kami untuk kembali ke dunia musik mulai menjalar sejak kembali dari Thailand dalam sebuah perhelatan festival musik.

    Lantunan suara yang khas, bebunyian elektronik yang membalut keseluruhan lagu, dan lirik yang bercerita tentang perjalanan selama 4 tahun, menjadi andalan Stereomantic dalam bercerita tentang delapan track lagu, yang dikemas dengan karakter yang berbeda-beda. Inspirasi tema ‘berselancar di dunia maya dengan segala konsekuensinya’ adalah album yang kami produksi sendiri untuk pertama kali. Selain itu cover album ini bahkan dibuat melalui bantuan teman-teman didunia maya.

    Kegagalan industri musik dalam memberantas ‘penyakit industri’ seharusnya bukan jadi penghalang bagi siapapun untuk tetap berkarya. Album ini tidak akan bisa ditemui di toko kaset atau distro kesayangan kamu. Hanya bisa didapatkan di komputer terdekat, baik itu di warnet atau kafe internet, tempat-tempat berfasilitas wi-fi, hingga beragam gadget mutakhir. Mulai tanggal 21 April 2011 silakan buka laman www.stereomantic.com untuk mengunduh gratis satu album atau unduh lagu per-lagu.

    Cek laman ini juga untuk pemesanan CD maupun pemesanan lewat surel stereomantic@yahoo.com, atau datang saja ke venue dimanapun kami beraksi, karena kami pasti buka lapak di sana. Untuk informasi lebih lanjut silakan kontak manajer kami, Nyoman (021) 9275 6344

    Industri musik boleh saja hancur, tapi musik takkan pernah mati. Keep the DIY spirit!

  • The Radio Dept. Live at Potato Head; photos and report

    Akhirnya, setelah melewatkan saatThe Radio Dept. pertama kali datang ke Indonesia beberapa tahun yang lalu, saya bisa mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan mereka saat mereka manggung di Potato Head, Sabtu (23 April 2011) kemarin. Mungkin penampilan mereka kali ini tidak tepat disebut sebagai konser, lebih tepatnya mungkin intimate gig, mengingat venue penyenggaraan tidak sebesar tempat penyenggaraan konser lainnya. Menurut beberapa teman hadir malam itu dan juga kebetulan hadir saat konser The Radio Dept. pertama kali di Bandung beberapa tahun lalu, tempat kali ini lebih cocok. Sayang, venue yang kecil dan seharusnya menyenangkan untuk sebuah intimate gig terlalu penuh, sehingga banyak pengunjung yang tidak dapat menikmati pertunjukan dengan layak.

    Tepat jam 9 malam, pengunjung dipersilahkan untuk masuk dan banyak dari mereka yang belum pernah mengunjungi venue sebelumnya terkejut dengan pengaturan panggung dan lay-out venue. Di depan panggung tampak sudah berjubel pengunjung. Saya pun harus berpikir kreatif untuk mendapatkan tempat yang pas untuk bisa menyaksikan pertujukan dan akhirnya menemukan sebuah spot di belakang FOH monitor.

    Sajama Cut membuka pertunjukan kali ini. Saya catat ini kali ketiga Sajama Cut menjadi band pembuka konser dan pertunjukan band luar negeri, setelah sebelumnya mereka menjadi opening act saat Asobi Seksu dan MGMT. Sebuah prestasi yang bagus buat sebuah band lokal, tetapi tak dapat dipungkiri ada beberapa pihak yang berbicara miring tentang hal ini. Setlist mereka juga tak jauh berbeda dengan saat menjadi opening act dua konser sebelumnya, tapi ada beberapa variasi aransemen yang saya dengar dalam setlist mereka kali ini. Kendala teknis pada ampli gitar juga beberapa kali muncul saat mereka di panggung, tapi overall saya menikmati penampilan mereka malam itu.

    Sekitar jam 23.30, The Radio Dept. akhirnya menaiki panggung dan memulai set mereka malam itu dengan `Domestic Scene`. Entah mengapa, selain penonton yang tampak berdesak-desakan, saya merasa pertunjukan malam ini bakal melenceng jauh dari ekspetasi saya. Mungkin karena posisi saya yang berada di samping panggung, saya tidak dapat menikmati sound mereka dengan benar sehingga saya tidak mendapatkan perasaan yang sama saat mendengarkan materi-materi rekaman mereka. Dan apa yang mereka tampilkan semakin mengesahkan asumsi saya bahwa band dengan sequencer tak akan bisa menjadi band yang atraktif.

    Baru ketika `Keen On Boys` dimainkan, sedikit kekecewaan saya mulai hilang. Dan beberapa setelah itu seperti `Ewan`, `Freddy And The Trojan Horse`, `1995`, `The Worst Taste In Music` dan `Heaven’s On Fire` mampu membuat saya ikut menyanyi dan bergoyang mengikuti irama lagu mereka. Ada sesuatu hal yang cukup lucu, yaitu ketika satu persatu personel The Radio Dept meninggalkan panggung saat lagu `Closing Scene` selesai dimainkan, penonton tampak sedikit `kentang` tapi entah kenapa tidak ada yang merespon dengan teriakan `We Want More` yang sering kita dapati. Tak berapa lama setelah itu, para personel The Radio Dept. kembali ke atas panggung dan suasana menjadi sedikit canggung, seakan-akan mereka berpikir bahwa aksi encore yang mereka lakukan gagal tapi mereka tetap harus kembali ke stage karena mereka sendiri merasa `kentang`. Akhirnya lagu `Why Won’t You Talk About It` dibawakan dan itu menjadi satu-satunya lagu dalam setlist encore mereka sebelum akhirnya mereka
    turun panggung. Beberapa orang disekitar saya sempat terdengar kecewa, karena lagu-lagu yang mereka harapkan untuk dimainkan tak ada dalam setlist.

    Secara garis besar, malam itu sebenarnya tidak buruk. Saya dapat menangkap maksud penyenggara acara membuat acara di venue itu. Tapi sekali lagi, hal ini justru membuktikan bahwa Jakarta kekurangan live venue yang mumpuni untuk menyenggarakan konser dalam skala small hingga medium. Sesungguhnya malam itu akan menjadi menyenangkan bila penonton tidak terlalu banyak tapi banyaknya penonton yang datang juga membuktikan bahwa banyak orang disana yang haus akan hiburan dari band-band dengan kualitas yang bagus dan tidak seperti band-band yang sering kita lihat di televisi lokal. Cheers!!!

    (anthono oktoriandi)

  • Love Garage : Two Doors Cinema Club, RNRM & Flight Facilities

    Sebenarnya sebelum acara Love in the Garage ini berlangsung, saya agak sedikit takut bila acara sepi pengunjung. Pertama, karena Jakarta sudah lebih dari dua hari diguyur hujan tanpa henti, jadi saya agak sedikit khawatir bila venue tiba-tiba terguyur hujan. Kedua karena Two Door Cinema Club saya pikir tidak terlalu banyak memiliki fans yang fanatic di Indonesia, khususnya Jakarta, dan mereka masih relatif baru bila dibandingkan dengan band-band indie-rock setipe.

    Kekhawatiran saya sedikit terwujud ketika menuju venue pada siang hari untuk menghadiri Press conference acara ini langit sudah mulai menunjukan gejala-gejala akan turun hujan. Begitu sampai di venue, tampak hanya segelintir wartawan yang hadir saat press conference. Bahkan ketika open gate pada pukul 15.00, tidak banyak pengunjung yang datang.

    Bahkan ketika RNRM memulai setnya, hanya beberapa orang yang memadati depan panggung. Memainkan mayoritas materi terbaru mereka, RNRM ternyata tetap mampu `memaksa` pengunjung untuk ikut bergoyang bersama beat-beat dari lagu mereka. Hanya dua lagu dari album lama yang mereka mainkan dalam set mereka kali ini, Translove dan Question.

    Selepas RNRM, saya meninggalkan venue sebentar untuk mencari makan dan kembali ke venue sekitar pukul 19.00. Tadinya saya memperkirakan bahwa acara akan berlangsung on-time, tapi ternyata pemutaran film pendek dari FutureShorts yang seharusnya berlangsung pada 18.00 baru saja dimulai. Tetapi,disinilah kekhawatiran saya mulai terbukti salah. Ternyata pengunjung sudah sangat ramai di dalam venue. Dan hujan yang dikhawatirkan akan merusak suasana juga tak kunjung turun. Tampaknya pawang hujan yang dipakai bener-bener jago..hehehe.. Panitia juga tidak sepenuhnya mengandalkan pawang hujan, mereka juga berjaga-jaga dengan membagikan jas hujan gratis bagi pengunjung untuk mengantisipasi bila hujan turun.

    Flight Facilities pun memulai setnya sekitar pukul 20.00. Duo DJ asal Sidney, Australia ini sebenarnya belom pernah saya dengar materinya, tetapi kata teman saya, saya harus menonton aksi duo ini. Terus terang, saya entah kenapa tidak begitu menikmati permainan Flight Facilities. Terkesan dragging dan membosankan. Mungkin karena memang saya belom pernah mendengar materi-materi mereka. Mungkin juga karena BPM dari lagu yang mereka mainkan sangat konstan. Beberapa pegunjung yang awalnya bersemangat berjoged saat Flight Facilities memulai setnya juga terlihat mulai kelelahan di tengah-tengah. Entah mereka sengaja menyimpan tenaga untuk penampilan Two Door Cinema Club atau mungkin mereka memang benar-benar sudah kelelahan.

    Akhirnya giliran Two Door Cinema Club menggebrak Love in The Garage. Dan ternyata animo penonton jauh melebihi dari perkiraan saya, bahkan mungkin perkiraan dari para personel Two Door Cinema Club sendiri. Dari mereka memulai set dengan lagu Cigarettes in Theater, semua penonton ikut bernyanyi bersama dan juga bergoyang mengikuti irama lagu. Tak jarang terdengar teriakan-teriakan histeris dari penonton. Dan itu juga terjadi ketika mereka membawakan lagu-lagu baru yang tidak ada dalam debut album mereka, Tourist History. Hingga I Can Talk, yang merupakan lagu terakhir selesai berkumandang, penonton tidak berhenti bergoyang. Bahkan ketika DJ Anton memulai setnya untuk menutup acara ini, masih banyak orang-orang yang membicarakan betapa puasnya mereka menyaksikan aksi trio asal Irlandia Utara ini.

    Overall, konsep acara ini sebenarnya bagus, cuma terasa sedikit tanggung dan tidak terasa padat. Satu lagi yang agak sedikit mengganggu, yaitu photo pit yang sempit karena terbelah oleh DJ Booth hehehehe.. but, Kudos buat Ismaya Live, Dimensions dan EX yang telah membawa Two Door Cinema Club dan membuat penonton tidak berhenti untuk berdansa. YEAAAAHHH!!!

    -Anthono Oktoriandi-