Author: DRS

  • Duo Endah n Rhesa Meramaikan Launching Party BrandClozet.com

    Pada 7 Februari 2014 bertempat di Common People, Kemang, Jakarta, sebuah pemain baru di industri e-tailer, BrandClozet menggelar launching party yang menghadirkan duo Endah n Rhesa.

    SONY DSC

    Selain tampil dari launching party BrandClozet.com, duo Endah n Rhesa juga didaulat sebagai selebriti yang mendukung BrandClozet.com. Dalam sebuah press-con di Common People pasangan musisi suami-istri,  Endah n Rhesa,  telah akrab dengan kegiatan berbelanja online sehingga mereka sangat menyambut antusias kehadiran BrandClozet.com.

    SONY DSC

    SONY DSC SONY DSC

    Shop Event dari BrandClozet.com sangat saya tunggu-tunggu, karena rasa puas saat memperoleh barang dengan harga terbaik dan di waktu yang sangat terbatas itu benar-benar menyenangkan.” tutur Endah, sang vokalis sekaligus gitaris.

    Selain itu, saat pres-con launching party BrandClozet di Common People, Rhesa selaku bassist duo Endah n Rhesa juga mengabarkan bahwa kedepannya beberapa merchandise dari Endah n Rhesa akan dijual di BrandClozet.com.

    SONY DSC

    Industri e-tailer di Indonesia, khususnya di bidang fashion semakin ramai. Kehadiran BrandClozet.com yang didirikan, didanai , dan dijalankan oleh pemain lokal Indonesia yang telah berpengalaman semakin mewarnai dunia bisnis kreatif melalui e-tailer.

    SONY DSC

    SONY DSC

    Detty Wulandari selaku CEO dan Founder menjelaskan misi dari BrandClozet.com adalah untuk tumbuh dan berkembang bersama brand-brand lokal baru dengan memberikan alternatif point of distribution yang dilengkapi dengan servis marketing digital.

    SONY DSC

    Selain itu, melalui sistem Flash-Sale yang ditawarkan di BrandClozet.com, para pecinta belanja online dapat menikmati akses eksklusif ke shop event yang hanya berlangsung 7 hari dengan penawaran diskon sampai 90 % untuk produk fashion mulai dari merek-merek lokal sampai internasional.

    SONY DSC

  • COLOURS OF JOY – Lightcraft Album Launching

    COLOURS OF JOY

    LIGHTCRAFT ALBUM LAUNCHING 

    ON JANUARY 18, 2014
    AT DIA.LO.GUE ARTSPACE
    KEMANG, JAKARTA SELATAN
     
    Setelah merilis sebuah EP, “The Modern Seasons” di tahun 2006 dan disusul dua tahun kemudian, debut album mereka juga dirilis bertajuk “Losing Northern Light”, Lightcraft kembali merilis album terbaru mereka di awal tahun 2014  berjudul “Colours of Joy”. Untuk rilis party album Colours of Joy ini akan dilaksanakan di Dia.lo.gue Artspace, Kemang pada tanggal 18 Januari 2014. Album terbaru Lightcraft ini, proses produksinya dilakukan di Jakarta, Indonesia dan Kuala Lumpur, Malaysia. Dengan nanda-nada melancholic, Lightcraft mampu membawa atmosfer  sedih sekaligus menyenangkan dalam musik mereka.
     
  • A.F.F.E.N

    [download id=”415″]
    Tidak ada ekspektasi sama sekali ketika saya mulai memasang “Like Life Easily Ended” pada pemutar lagu di komputer. Tetapi ketika musik mulai menyala, sedikit terkejut dengan kualitas musik dan rekaman yang diatas rata-rata. Selanjutnya, saya dibuat diam oleh bagaimana musisi lokal bisa mengantarkan atmosfir menyenangkan seperti ini.

    Bayangkan jika Temper Trap berkolaborasi dengan Foster The People, dan ditengah lagu mengajak band hipster seperti Young The Giant untuk bergoyang bersama diatas panggung. Meski demikian, sentuhan lokalnya tetap membuat saya menemukan sedikit gaya Nidji –salah satu band yang di era awalnya saya anggap berhasil memadukan Britpop dan musik Indonesia dengan baik pada lagu di luar hits mereka saat itu.

    Kejutan berikutnya datang ketika saya menelusuri jajaran personil band yang namanya berasal dari kependekan Anatomy For Fabulous Emergency Noise ini.

    Direktorat vokal dan gitar berada di tangan Haris Lutfi Asa yang merupakan personil The Panas Dalam, band eksentrik senior asal ITB Bandung. Pada direktorat gitar murni tergabung Elmo Rinaldy Junian yang merupakan gitaris additional band Kuburan (kini namanya The Kubz) dan Babam Bramaditia yang merupakan gitaris additional Mobil Derek, band industrial old school juga dari Bandung.

    Bersama Mochammad Ifsan yang memetik bas dan Hari N.P bertanggungjawab untuk memukul drum, AFFEN menggabungkan berbagai genre musik influens mereka yang terentang dari pop, funk, shoegaze hingga post rock. Beberapa diantara mereka juga memainkan musik TOP 40, membuat wajar rasanya jika musik mereka begitu matang akibat ruang bermain mereka yang begitu luas.

    Sesungguhnya saya berharap satu-satunya lagu yang mereka kirimkan ini biasa-biasa saja. Karena saya tidak siap untuk memuji. Tentu sialan sekali, karena sudah cuma kirim satu lagu tapi lagunya ternyata bagus.

    Memang band post rock/eksperimental yang potensial digemari kaum hipster sudah banyak yang lebih dahulu hadir di Indonesia. Salah satunya bahkan sudah membuka band penting di negara tetangga. Akan tetapi, AFFEN adalah nama yang harus disebut jika berbicara tentang musik sejenis yang tetap menyenangkan saat didengarkan (mungkin karena mereka jenius yang sempat memainkan lagu-lagu TOP 40).

    Maka jika satu lagu ini saja sudah menggugah selera musik saya, harapan besar ada pada karya berikutnya yang akan mereka hadirkan. Jangan sampai masa hidup ekstasi ini dengan mudah berakhir, like life easily ended.

    (Anzarra Djahran)

  • tristan

    [download id=”410″]
    Singkat kata, tristan (ya, tristan sengaja tanpa huruf kapital) adalah duo-musikal asal ibu kota yang beranggotakan Andrie Ridwan (vokal) dan Andrew Hutasoit (multi instrumen). Band ini berdiri pada tahun 2009 dan selang setahun berikutnya, langsung menelurkan rilisan pertama mereka, “EP We are Tristan, We are Aeronauts” yang mereka distribusikan secara terbatas di lingkungan perkawanan saja.

    Menyambung rilisan mereka yang terdahulu, tristan memberi tahu redaksi DRS bahwa saat ini mereka tengah merampungkan full-album pertama yang rencananya akan berisikan sebelas lagu. Sama seperti rilisan terdahulu, album tersebut masih akan menjadikan gitar akustik sebagai komponen utama musik mereka. Sebagai gambaran rupa full-album pertama nanti, beberapa waktu yang lalu mereka mengirimkan kami sebuah lagu berjudul ‘Jelang Malam’ yang tercantum pada EP mereka terdahalu.

    Saya sendiri suka lagu ‘Jelang Malam’, terutama pada bagaimana mereka mengatur mood lagu dengan begitu baik, terus menanjak dari awal menuju akhir yang sedikit mengingatkan saya pada ‘Vagabond’ milik Wolfmother. Hanya saja, menurut saya ada kekurangan pada kualitas rekaman di mana departemen vokal serasa mengepung dari segala arah dan terkesan menghalangi musik untuk berbicara banyak. Juga untuk departemen drum yang entah kenapa terkesan digital, padahal saya rasa mereka tidak bermaksud untuk itu.

    Tapi diluar itu, lagu ‘Jelang Malam’ terdengar baik-baik saja. Menilik lagu ini, serta asumsi bahwa akan ada perbaikan pada kualitas rekaman, saya rasa full abum perdana tristan akan dapat berbicara banyak. Dan mereka harus segera memikirkan konsep live mereka, sebelum jadwal panggung
    mereka mulai merapat.

    Seperti biasa, lagu ‘Jelang Malam’ dapat kalian unduh dan nikmati secara gratis di DRS. Selamat menikmati.

    (Risyad Tabattala)

  • Raindrops and the Sunshower

    Beberapa tahun yang lalu, saya pernah membaca sebuah artikel berisi wawancara seorang musisi senior yang berbicara mengenai perkembangan musik di kota Bandung. Di situ sang musisi menyebut Bandung (dan sekitarnya) sebagai tempat di mana jenis musik instrumental dan eksperimental dapat tumbuh subur dan mendapat atensi yang layak. Saat saya mendengar sampel lagu dari Raindrops and The Sunshower yang saya terima minggu lalu, saya langsung teringat kembali pada artikel tersebut, dan menyimpulkan bahwa dengan musik yang mereka bawakan, Raindrops and The Sunshower ikut berperan membuat pernyataan sang musisi senior tadi tetap valid hingga saat ini.

    Raindrops and The Sunshower merupakan kolektif musikal beranggotakan Randy Ramadhan, Ferdian Yuren, Sony Mardian, Ibend. Empat lagu yang mereka kirimkan ke kami, menunjukkan bahwa band asal Jatinangor ini bukanlah band kacangan. ’Beautiful Moonlight in the Dawn Sky’ misalnya, akan
    berhasil membuat anda membayangkan sejuknya hembusan angin di hutan pinus, yang tiba-tiba mengamuk membawa hujan badai pada pertengahan lagu sebelum kemudian reda dan berakhir
    damai.

    ’And the Morning Comes’ menawarkan dentingan suara menyerupai gamelan berlatar bebunyian digital serta bubuhan bunyi alat musik tiup di akhir lagu. Flow lagu ini agak monoton memang, tapi jika anda ingin mendengarkan sesuatu yang tidak lazim, lagu ini adalah jawabannya.

    Dengan musik se-bergizi ini, wajar rasanya jika musik mereka sampai hingga sampai ke halaman situs sebuah netlabel di Amerika. Patut ditunggu, apa yang dapat mereka tawarkan untuk menjaga agar pendengar tidak mati kebosanan jika suatu saat mereka merilis sebuah full album.
    (Risyad Tabattala)