Author: DRS

  • The ICU – Pribadi Labil

    [download id=”405″]
    Di Indonesia, memang susah rasanya untuk menjadi band dengan garis rock ‘n roll kuat, terutama untuk kurun waktu lima tahun ke belakang. Begitu sebuah band menetapkan tarikan vokal serak melengking dan deru riff gitar berbalut blues scale penuh hook sebagai rumusan musikal mereka, maka saat itu pula sosok The S.I.G.I.T. muncul seketika dan menelan mereka bulat-bulat.

    Paragraf diatas merupakan poin yang harus diantisipasi oleh The.ICU, kolektif rock ‘n roll yang lahir dari indahnya rahim kota Palembang. Menurut saya, single perdana mereka, ‘Pribadi Labil’, bukan tidak mungkin akan menghadirkan kondisi seperti yang telah saya deskripsikan pada paragraf awal. Komposisi lagu mereka, hook, mood yang terbangun, cara mereka membuka dan mengakhiri lagu, entah kenapa langsung membuat isi kepala saya sepakat bahwa sosok The S.I.G.I.T. telah terlalu pekat mengalir dalam darah mereka. Sayangmya hal ini-lah yang justru membuat mereka tak sadarkan diri dan gagal (atau untuk saat ini, belum mampu) menyuguhkan sesuatu yang berbeda melalui lagu ini.

    Untungnya The.ICU masih muda dan punya banyak waktu untuk berkembang. Didukung dengan scene bawah tanah kota Palembang yang semakin menggeliat pasca kembalinya Rian Pelor sang putra rantau, The.ICU punya kans besar untuk mengasah taring mereka lebih tajam lagi. Sembari menunggu hal tersebut terwujud, tidak ada salahnya bagi kalian untuk mengunduh ‘Pribadi Labil’ yang sudah terpajang gagah di web DRS. Hitung-hitung sebagai koleksi nostalgia jika The.ICU sudah tumbuh menjadi band raksasa kelak.

    -Risyad Tabattala-

  • Cupumanik – Luka Bernegara

    Apa yang perlu disampaikan mengenai lagu ini tertuang dengan baik didalam press-release yang disebarkan oleh Cupumanik sendiri.
    Selamat menikmati.

    PRESS RELEASE SINGLE LUKA BERNEGARA CUPUMANIK.

    Kami yakin, setiap dari diri kita yang punya rasa percaya pada politik Negara, pasti mengamati persoalan-persoalan aktual yang terjadi. Minimal rajin menelusuri berita politik dari media, apa yang etis dan apa yang tak etis, mana yang selesai mana yang gantung atau mana catatan prestasi, mana yang cacat. Persoalan semacam ini sudah di ujung pengambilan sikap buat CUPUMANIK. Dan sekarang, kami adalah pribadi yang Apolitis, jelas kami beralasan, karena apakah seseorang percaya atau menarik diri dari politik, tergantung dari nilai yang diperoleh seseorang.

    Demokrasi menyediakan ruang bagi prinsip netralitas (ketidakberpihakan), jika buat kamu aktifitas politik penting, kami memilih mencari cara ideal lain demi mencapai hidup yang lebih baik dan membahagiakan. Se-sederhana itu sebenarnya pesan lagu LUKA BERNEGARA, Demokrasi menyediakan kebebasan bertindak sesuai keyakinan moral pribadi, dan Kebebasan adalah ciri esensial Demokrasi, Lagu ini sikap deklarasi kebebasan Cupumanik. Sikap ini bisa dibantah, dibongkar bahkan dihujat siapapun, tapi sikap ini datang dari terangnya pikiran dan warasnya kesadaran kami.

    Kami bukan lagi penggemar cerita politik, kami sudah tak membaca drama-drama itu di koran, menyaksikan debat dan retorika politik di TV. Dulu Cupumanik menaruh perasaan dan merespon persoalan politik dengan hati atau perasaan, dan ternyata itu sudah jauh dari manfaat. Lagu
    ini adalah cerita, bahwa kami sudah menarik diri dari kehidupan politik negara. Sekarang kami menggenggam cara yang lebih guna, lebih konkret dan merdeka dalam bernegara. Cara ini mendukung usaha pencapaian kesenangan hidup kami.

    Janji politik adalah Res Publica (kemaslahatan umat), jika keadaban itu tak pernah terjadi, maka politik adalah tipu daya, dan tipu daya adalah politik, dan sejarah selalu melahirkan para pembual ulung, yang menyamarkan niat busuk mereka, dengan topeng berdedikasi tinggi pada ibu pertiwi. Jika kekuasaan belum melahirkan aktor negara dengan sikap yang mengabdi penuh pada rakyat, dan yang ada hanya politikus yang lebih melekatkan kepentingan politiknya pada partai dan golongan nya, politik tak akan pernah jadi sahabat kami.

    Dalam proses pembuatan video clip, tidak di sangka, Cupumanik mendapatkan banyak dukungan, bukti dukungan itu adalah banyaknya tokoh yang sepaham dan bersedia menjadi model atau cameo di dalam video clip LUKA BERNEGARA, mereka hadir dengan testimoni personalnya, sekitar 12 cameo memperlihatkan isi pikiran mereka pribadi melalui kertas besar. Mereka adalah: Rosi Silalahi presenter talk show, Adib Hidayat Managing Editor Rollingstone Indonesia, Once ex vokalis DEWA, Marcell Siahaan solois & drummer KONSPIRASI, Andre Sumual Editor in chief majalah Trax, Ramon Y. Tungka aktor film, Dikie pengusaha muda clothing Rockmen Inside, Oddie seorang artis tattoo wanita, Yukie Vokalis PAS & TENDO STAR, Gustaff budayawan Muda dari Bandung & pendiri Common Room Networks Foundation, Dempak vokalis band JERUJI dan Eno drummer NETRAL. Video Clip yang di sutradarai Eko HC ini akan rilis segera mungkin. Apa yang mereka sampaikan?, tunggu video
    clipnya.

    Lagu ini adalah sebuah sikap mencari solusi bernegara, ini bukan lagu berkeluh kesah pada negara dan menggantungkan nasib kami sepenuhnya pada komitmen pemerintah, ini terapi diri menjaga kewarasan diri dari negara yang sedang sakit dan luka. Ada opini penting yang harus kami kutip, yaitu tulisan Kenichi Ohmae dalam The End of the Nation State (1995), “Negara tak mampu lagi mengontrol perkembangan ekonomi, sementara pasar bebas dan Individu-individu mandiri semakin berperan dalam menentukan kehidupan”. Ya, kami punya cara bernegara sendiri, bekerja dan berkarya, biar kaya raya, bekerja dan berkarya biar berbudaya

    LUKA BERNEGARA

    LIRIK oleh CHE
    MUSIK oleh: CUPUMANIK

    Manusia, aktor yang bisa berpolitik
    Karena binatang, tak mampu mengurus Republik
    fakta bicara, binatang tak kenal intrik
    fakta bicara, manusia biang kerok konflik

    Drama retorika, Budaya mereka

    KAMI PUNYA CARA, BERNEGARA
    BEKERJA BERKARYA, BIAR KAYA RAYA

    wajah politik
    tipu daya. cerca, propaganda

    kami APOLITIS
    Politik tak bermakna etis

    Mereka politisi, Bukan negarawan!!

    KAMI PUNYA CARA, BERNEGARA
    BEKERJA, BERKARYA, BIAR BERBUDAYA

    Hey, ini bukan lagu tentang politik
    ini adalah suara kebebasan,
    sebuah sikap deklarasi kebebasan
    tinggal di negara yang sakit
    kami harus menjaga diri kami tetap waras

    YA, INI CARA KAMI BERNEGARA

  • Milo Greene

    Hangatnya cahaya matari, angin sepoi yang menenangkan, serta juluran ombak yang menciumi bibir pantai adalah imajinasi saya yang kontan terbentuk saat menyimak ‘1957’ dari Milo Greene. Harmonisasi manis yang terhampar sepanjang lagu itu mengingatkan saya pada duet Glenn Hansard dan Marketa Irglova yang dalam film ‘Once’ yang kondang beberapa waktu lalu. Bedanya, jika Glenn Hansard dan Marketa Irglova menghadirkan atmosfer yang dingin dan terkucil, maka Milo Greene adalah kebalikannya: hangat dan mengajak kita bersenang-senang. Tipikal sempurna untuk diputar pada pagi pertama musim liburan anda.

    Milo Greene sendiri adalah kolektif musikal asal Los Angeles beranggotakan Robbie Arnett, Graham Fink, Andrew Heringer, Curtis Marrero, dan Marlana Sheetz. Latar belakang geografis tersebut mungkin menjadi alasan mengapa ‘1957’ mampu menghadirkan nuansa pantai yang lekat seperti yang telah saya tulis pada paragraf awal.

    Di lagu lain, ‘The Silent Ways’, mereka memilih pendekatan berbeda. Pada lagu tersebut giliran mereka menyingkir dari hingar bingar pantai sembari lirih menyanyikan ketakutan mereka terhadap masa depan dan peliknya menjadi manusia dewasa. Ketakutan yang juga saya rasakan beberapa waktu belakangan.

    Pada email bertanggal 2 Agustus 2011 yang kami terima, Milo Greene memberi konfirmasi soal keterlibatan mereka sebagai band pembuka dalam tur The Civil Wars ke segala penjuru daratan Amerika Serikat, mencakup Washington, Philadelphia, New York, Chicago, hingga Los Angeles. Mereka juga mengumumkan kerja sama yang berhasil mereka sepakati bersama Chop Shop/Atlantic Records. Dengan tercapainya kesepakan tersebut, dalam waktu dekat mereka akan segera merekam debut album mereka dan dijadwalkan akan dirilis pada musim semi 2012. Menarik untuk kita nantikan.

    Info lebih lanjut tentang mereka, bisa kalian dapatkan dengan mengakses alamat-alamat website dibawah ini.

    http://www.facebook.com/MiloGreene
    http://milogreene.com/

    -Risyad Tabattala-

  • TolBandTol – We All Dancer

    “Maukah kau jadi jadi pacarku
    Maukah kau jadi sayangku..
    Maukah kau jadi cintaku..
    Maukah kau jadi pacarku..pacarku..”

    Jika anda berpikir penggalan lirik diatas saya ambil dari band-band instan major label yang kerap membanjiri layar kaca kita, maka anda salah. Penggalan lirik diatas saya ambil dari lagu ‘Maukah Kau Jadi Pacarku’ yang terdapat di album ‘We All Dancer’, yang sekaligus juga merupakan album kedua milik unit new wave asal Bali, Tolbandtol.

    Kalau boleh jujur, saya tidak terlalu terkesan dengan lagu diatas. Terutama pada bagaimana mereka mengemas suatu tema standar, melalui sudut pandang yang stadar, serta output lirik yang juga standar.

    Lagu-lagu lain, seperti ‘We All Dancer’, juga memiliki lirik yang tidak lebih baik. Ide yang mereka tawarkan, bahwa setiap manusia memiliki naluri untuk menari dalam setiap diri mereka, sebenarnya cukup menarik untuk diangkat. Sayangnya eksekusi lirikal yang monoton, termasuk repetisi kata ‘shake’ dan ‘dance’ yang sangat dominan, berhasil membuyarkan segalanya. Belum lagi penggunaan efek yang membuat beberapa bagian pada departemen vokal terdengar patah-patah, semakin membuat lagu ini terasa menjengkelkan.

    Tidak seperti kebanyakan band new wave yang berasal dari kota-kota metropolitan, fakta bahwa Tolbandtol berasal dari Bali, harusnya mampu memberi mereka ide unik untuk dijual. Talking Heads menulis ‘Psycho Killer’, karena eksistensi pembunuh berantai banyak ditemui di kota asal mereka, New York. The Upstairs membungkus romantisme ala Jakarta berlatarbelakang tawuran pelajar, maka terciptalah ‘Matraman’. Tolbandtol sendiri yang notabenenya berasal dari Bali, sebuah teritori eksotis, seharusnya mampu menawarkan tema segar yang belum pernah tersentuh oleh band-band new wave metropolis manapun selama ini. Sayangnya hal tersebut luput mereka lakukan.

    Bagusnya, Tolbandtol sepertinya sudah memiliki barisan penggemar fanatis di tanah kelahiran mereka. Ini merupakan modal besar yang seharusnya mampu menjaga motivasi mereka pada titik tertinggi demi menghasilkan karya-karya yang lebih dramatis di masa mendatang. Dengan begitu panjang-nya waktu yang telah Tolbandtol lampaui sebagai sebuah band, saya percaya hal itu dapat tercapai. Dan saat hal itu tercapai, semoga mereka sudah tidak memakai baju warna-warni lagi.

    -Risyad Tabattala-

  • Peanuts

    [download id=”396″]
    [download id=”395″]
    Peanuts dibentuk sekitar bulan Juli, tahun 1996, oleh dua orang pemuda berusia 19 tahun, bernama Armand Andretti Jason Mambo dan Nicko Krisna, saat mereka bertemu di Sekolah Tinggi Bahasa Asing, Cihampelas, Bandung. Di awal masa kuliah, keduanya sama-sama sering memakai kemeja ketat, sepatu Adidas, keds dengan sol tebal, dan jaket parasut . Berdasarkan trivia tersebutlah, mereka sepakat memutuskan untuk membuat band yang mengacu ke band-band asal Inggris, seperti: James, Blue Tones, Lightning Seeds, Ocean Colour Scene dan Stone Roses. Kemudian Armand dan Nicko mulai berburu personil untuk mengisi departemen gitar, bas dan drum. Akhirnya Armand berinisiatif untuk mengajak dua rekan SMA nya, yaitu Yoga (Gitar) dan Aci (bas). Satu posisi lagi belum terisi, drum. Yoga menawarkan teman kampusnya di universitas Parahyangan, Alan, untuk mengisi sektor tersebut. Setelah dicoba atihan, ternyata cocok. Akhirnya terbentuklah Peanuts, di bulan Oktober 1996, dengan formasi Armand (vokal), Nicko (gitar), Yoga (gitar), Aci (bas), dan Alan (drum). Dan mereka juga sepakat, untuk mengabdi kepada musik indies, sebagai jalan hidup.

    Konsep yang sering dibawa Peanuts ke atas panggung adalah “tampil se indies mungkin” Sampai-sampai banyak orang yang menyangka, jika Armand dan Nicko adalah pasangan homo, saking genit dan indiesnya tampilan mereka. Di kehidupan sehari-hari pun para personil Peanuts mencoba meng adopsi gaya hidup seleb Brit Pop, dengan cara membawa groupies sebanyak mungkin ke setiap pertunjukan mereka. Tak bisa dipungkiri, faktor sirik dan cemo’ohan dari band lain sering menghampiri Peanuts. Tapi mereka tidak memedulikan hal tersebut. Karena Peanuts merasa itu adalah keadilan dari Tuhan. Selain karena didukung tampang para personilnya yang di atas standar, kelihaian mereka dalam memilih gadis-gadis kaya raya sebagai pendampingnya menjadi anugerah tersendiri dari yang maha kuasa. Untuk mencegah kecemburuan sosial, di tahun 1997, Peanuts menarik kibordis bertubuh tebal, dan berpenampilan sangar, bernama Riska. Selain bertugas untuk menjaga string, Riska
    yang lebih dikenal dengan panggilan Pecot ini, berkewajiban melindungi anak-anak Peanuts lainnya dari deraan, gangguan, dan celaan orang-orang sirik, serta penonton yang tidak suka dengan penampilan Peanuts.

    Tahun 1999, Peanuts ikut ke dalam kompilasi This is Bandung yang ikut diprakarsai oleh satu personilnya, Nicko Krisna. Band-band yang ikut dalam album ini di antaranya adalah: Kapal Terbang, The Bride, Charlie’s Angel (sekarang bernama Maymelian), dan Electro Fux. Lagu yang Peanuts kontribusikan adalah “Kupu-Kupu Malam”. Sebuah lagu anthem yang seringkali diminta para fans Peanuts untuk dimainkan dalam setiap penampilan mereka, dan ‘Nyawaku Nyawanya’. Di kompilasi tersebut Nicko Krisna juga mengajak almarhum Her (vokalis Kapal Terbang) untuk menyanyikan lagu karya dia, ‘Manusia Tanpa Hati’. Berhubung kuliah para personil Peanuts hancur berantakan, Armand, Nicko, Yoga, Aci, Alan dan Pecot memutuskan untuk memeti es kan band ini hingga batas waktu yang tak bisa ditentukan. Tidak pernah ada kata bubar untuk Peanuts. Namun, mereka juga tidak pernah berpikir untuk menghidupkan kembali band yang mengutamakan gaya di atas segalanya ini. Terakhir kali mereka tampil di Bumi Sangkuriang, Bandung, dalam acara Resurrection#1, tahun 2001. Kecuali Yoga, personil yang lain sudah menikah semua. Akhir kata, selagi indies masih bisa dihidupkan, nama Peanuts akan selalu membayangi fenomena indies tersebut.

    Bio

    1. Kompilasi This is Bandung – 1999
    a. Kupu Kupu Malam
    b. Nyawaku Nyawanya
    c. Manusia Tanpa Hati (Nicko Peanuts Feat Her Kapal Terbang)

    (ditulis oleh Nicko Krisna)