cekrak-cekrek tanpa ketukan.

Artikel/Opini

Written by:

Mau berbagi cerita aja.

Dulu saya pernah menjadi “fotografer” yang tidak berpendidikan, saya tidak menyadari kemampuan akustik ruang yang bagus itu menyebabkan bunyi “cekrek” bisa terdengar begitu jelas di pentas musik akustik/klasik/slow . Saya juga tidak menyadari kalau blitz itu begitu menganggu luar biasa. Jika saja mereka salah satu nada gara-gara kelilipan lampu blitz, seorang artis kadang bisa stress kemana-mana dan itu tentu merugikan ribuan orang lainnya.

Untung saja saat itu belon marak jejaring sosial, jadi tidak ada yang membully. Saya diberi tahu oleh berbagai individu mengenai kegiatan saya yang begitu ganggu.

Sejak itu saya lebih memperhatikan gerak-gerik jika mau motret, saya usahakan tidak pakai blitz, saya usahakan tidak menghalangi yang mau nonton, dan saya usahakan tidak serakah saat mau mengabadikan target. Jika saya lihat saya menghalangi seorang fotografer, maka saya biasanya memberikan jalan padanya.

Beberapa bulan lalu sempat ada pembahasan yang ramai mengenai kegiatan-kegiatan ‘fotografer’/’videografer’ yang ganggu. Setelah itu, memang akhirnya saya melihat semakin berkurangnya kegiatan-kegiatan fotografer gengges… walau bukan berarti semua sudah tidak ganggu.

Salah satu yang paling berasa adalah sewaktu pertunjukkan AriReda. Diadakan di gedung pertujukan favorit saya, dan diselenggarakan oleh orang-orang yang memperhatikan detail-detail pertunjukkan. Kebetulan ada uang, saya memilih membeli tiket daripada memohon media pass. Karena juga biasanya media pass diletakkan di sudut pandang yang kurang asoi. Saya ingin menikmati acara ini dengan sempurna.

Setelah menanyakan tentang aturan kamera, saya mengantungi satu kamera dan mulai mengira-ngira apa saja yang akan saya foto nanti.

Acara ini adalah acara yang menyenangkan, karena dihadiri oleh mereka-mereka yang memang beradab. Acara cukup cair untuk membiarkan penonton mengabadikan penampilan menggunakan perangkat apapun. Saya sengaja duduk paling belakang, karena memang berencana mengambil foto, supaya pendaran cahaya tidak menganggu orang di belakang. Namun begitu menyadari kamera mirrorless saya bunyi ‘cekrek’ nya lumayan juga, akhirnya saya membatalkan niat.

Kemudian saya mengabadikan beberapa momen via ponsel saja. Tidak begitu bagus memang, tapi buat sekedar kenang-kenangan is ok… Untuk keperluan artikel, ada fotografer official jadi ya ngapain repot-repot. Enjoy the show with your eyes, not with the small screen.

Saya melihat dari belakang juga, tidak ada orang yang mengabadikan video sepanjang set menggunakan iPad atau hp talenan. Mereka semua cukup tenggang rasa dengan mengabadikan sekali-sekali, dan kalaupun video biasanya hanya sesekali. Mereka membiarkan kenangan yang merekam pertunjukkan ini.

Hal ini juga saya perhatikan terjadi di festival di Singapura, jumlah orang-orang yang sibuk merekam sepanjang pertunjukkan sudah semakin sulit ditemukan. Sebagian besar memilih merekam sedikit-sedikit saja, mungkin juga karena mereka semakin memiliki empati pada mereka-mereka yang ingin total menikmati pertunjukkan.

Kembali ke Teater Kecil, di sebelah saya ada mbak-mbak yang mengeluarkan kamera super mancung. Ia jeprat-jepret jeprat-jepret sepanjang lagu pertama, dilanjutkan lagu kedua, dan sesampainya di lagu ketiga saya berniat menegurnya.

Mengapa saya berniat menegurnya?
Karena jepretnya dia tidak sesuai ketukan lagu. Jika saja sesuai ketukan, mungkin akan jadi gimmick yang sangat menarik.

sayangnya ngga.

Akhirnya di lagu ke empat saya menegurnya, karena adalah hak saya untuk bisa menikmati pertunjukkan senyaman mungkin. Namun tampaknya itu kamera masih baru, jadi ia tidak tahan untuk mencobanya terus. Walaupun Ari dan Reda tidak banyak bergerak, dan posenya pun masih sama-sama saja sejak lagu pertama.

Lagu kelima sesekali bunyi, lagu keenam bunyinya lebih pelan karena dia tukar lensa, lagu ketujuh, lagu kedelapan, dan selanjutnya.

Tidak ingin membuat keributan, maka saya memilih untuk berdiri. Mungkin ia merasa menang, setelah itu saya lihat ia tidak juga kunjung berhenti.

Saran saya sih, kalau sudah punya kamera semancung itu, dan melihat trend pertunjukkan di auditorium juga mungkin akan lebih sering terjadi mungkin peredam suara akan baik idenya.

Setelah berdiri, saya sudah lupa dengan kejadian tadi dan menikmati pertunjukkan sampai habis. Acara yang sangat jenius, kebetulan saja saya sial tadi di awal set.

Sayapun pulang setelah acara, mengendarai motor saya melihat sebuah mobil keluar dari Taman Ismail Marzuki. Mobil tersebut membuka jendela lalu membuang kertas keluar, saya mendahului mobil tersebut dan mbak-mbak mirip fotografer tadi ada di balik kemudi.

Yah sudahlah.

edited:
Saya berniat menegurnya supaya dia sadar kalau apa yang diperbuatnya menganggu.
Artikel ini juga ditulis supaya muncul sedikit empati dari pemilik gadget atau kamera kepada penonton-penonton lainnya. ­čÖé

2 Replies to “cekrak-cekrek tanpa ketukan.”

  1. Semoga aja mbak yang kemarin membaca ini

  2. mbak2 says:

    mbak-mbak redneck

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: