Category: event musik

  • Stars live in Jakarta

    Stars live in Jakarta

    Begitu event ini diumumkan via jejaring sosial beberapa waktu lalu banyak orang bersuka ria, sementara sebagian lagi mulai misuh-misuh karena mahalnya harga tiket yang ditetapkan. Sebenarnya bisa dibilang harganya masih relatif wajar, jika dibandingkan dengan harga tiketnya di negeri tetangga. Di Singapura harga tiket pertunjukkan mereka mencapai 98 SGD (dan sold out).

    Harga tiket Rp.700ribu menjadi terasa mahal karena kita terbiasa dimanja oleh sponsor-sponsor yang mensubsidi event-event musik skala besar. Sementara untuk event skala menengah seperti kemarin biasanya sulit mendapatkan dukungan dana dari sponsor. Walau demikian, konser kemarin akhirnya tetap ramai dan menyenangkan.

    Untuk lokasi konser yang mudah dijangkau, ruangan yang nyaman dan berakustik cukup baik dilengkapi tata suara yang oke, sebenarnya harga Rp.700.000,- adalah pas. Jika sedang rezeki, seperti saat orang-orang berbondong membeli tiket Bon Iver yang mencapai sejuta rupiah (belum tiket pesawat dan hotel) maka harga 700ribu tadi sudah cukup ‘murah’.

    Dengan catatan eo nya memiliki track record memberikan pertunjukkan berkualitas. Setelah pertunjukkan ini buat saya Prasvana sudah memiliki kepercayaan saya, semoga Tuhan YME juga memberikan kepercayaan pada dompet saya supaya berisi lebih gemuk.

    Dibuka oleh Scaller, unit modern rock dengan vokalis yang suaranya banyak mengingatkan saya pada Alanis Morissette. Masa depan mereka tampaknya akan cerah, melihat sambutan yang diberikan penonton-penonton di baris depan. Plus komentar-komentar positif yang diucapkan berbagai individu disetiap akhir lagu mereka.

    Setelah Scaller, tentu saja saatnya Stars tampil. Band ini lumayan sering terputar di berbagai perangkat pemutar lagu medio 2004-2008. Di era itu band ini lumayan menjadi perbincangan di kancah musik, terutama di Bandung. Beberapa band yang secara lansung maupun tidak lansung terpengaruh oleh album-album awal Stars seperti Heart, Nightsong, atau Set Yourself On Fire. Kemarin saya berjumpa dengan Elang Eby di penghujung konser, ia adalah vokalis dan pencipta lagu untuk Polyester Embassy yang saya rasa secara tidak lansung terpengaruh oleh aransemen Stars pre-2007.

    Wajahnya terlihat bahagia telah berhasil menonton Stars, sayang tidak sempat berbincang panjang karena berbagai hal.

    Penampilan Stars kemarin sayangnya menjadi belum maksimal karena pak Torquil Campbell sedang sakit tenggorokan, namun beliau begitu berdedikasi dan berjuang sampai akhir konser untuk bernyanyi bersama Amy Millan.

    Jam terbang super tinggi dan cintanya pada fans, membuatnya bertahan sampai habis. Bahkan memberikan encore.

    Saya lupa urutan lagu-lagunya, tapi beberapa hits yang saya kenal tentunya dimainkan seperti “Elevator Love Letter”, “Your Ex-Lover is Dead” dan tentu single dari album terakhir mereka “Trap Doors” dan “From the Night”.

    Sepulang dari konser, saya bahagia karena ada yang berani mengajak Stars ke Indonesia. Akhirnya saya bisa mendengarkan suara Amy Millan secara lansung. Juga berharap teman-teman pencinta musik bagus terus bertambah rezekinya, sehingga bisa membeli tiket-tiket acara tanpa sponsor.

    Viva la Prasvana!.

    Scaller
    Scaller
    Scaller
    Scaller
    Scaller
    Scaller
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
    Stars
  • AriReda merayakan kelahiran buah hati kedua setelah 34 tahun bersama.

    AriReda merayakan kelahiran buah hati kedua setelah 34 tahun bersama.

    Menulis tentang pertunjukkan AriReda di Teater Kecil semalam akan sulit jika tidak menyertakan cerita tentang perjumpaan pertama saya dengan mereka di Sukabumi. Mungkin memang sudah takdir Tuhan, saya yang tadinya tidak berencana kemping di Rrrec Fest malah diundang menjadi narasumber temuwicara disana. Bersyukur luar biasa karena akhirnya menemukan duo ini, duo yang sudah berkarir di rentang waktu yang sama dengan umur saya dan selama itu pula mereka berada di luar radar saya.

    Tidak hanya saya, beberapa teman juga di hari yang sama mengalami pencerahan. Salah satunya Dimas Ario yang fotonya dipinjam untuk artikel ini, salah satunya lagi yang tercerahkan lebih jauh adalah Felix Dass. Felix Dass ini menjadi produser event semalam. Tidak melupakan tentu saja jasa besar Indra Ameng dan Keke Tumbuan yang berani membawa duo ini jauh-jauh ke Sukabumi, termasuk juga mengajak duo ini bermain di beberapa venue unik. Salah satunya adalah di sebuah gereja tua di Menteng.

    Juga karena duo ini pulalah saya mengenal ketua fans club AriReda sedunia; Dharmawan Handonowarih. Kita sering berdiskusi mengenai berbagai hal berkaitan dengan AriReda, membahas puisi, membahas tulisan, membahas proses berkarya dan lain-lain. Mungkin juga karena di trigger oleh DHW ini maka AriReda ini kembali bersemangat.

    Maka malam kemarin, bukan sekedar pesta peluncuran album “AriReda Menyanyikan Puisi” namun juga semacam silaturahmi. Di malam kemarin, saya menonton AriReda bersama-sama dengan orang-orang yang bersama-sama duduk di depan panggung mereka di Rrrec Fest In The Valley 2014. Mereka-mereka ini juga yang sering saya jumpai kalau menyaksikan konser AriReda, bisa jadi ini adalah anggota-anggota AriReda Fans Club.

    Bersama-sama juga kita menyaksikan silaturahmi kesenian dari beberapa kolaborator AriReda, karena ada pak Sapardi Djoko Damono yang mendeklamasikan 3 buah puisi. Dua diantaranya memperkuat kepercayaan saya pada kekuatan bahasa, yang satu bertema kematian seorang mahasiswa di tahun 1996 dan satu lagi tentang Marsinah buruh arloji. Yang satu lagi saya sudah lupa.

    Kedua puisi itu membangkitkan kembali diskusi kecil didalam diri saya mengenai identitas dan eksistensi sebuah pribadi yang kadang maknanya hanya menjadi sekedar nama untuk identitas kesenian.

    Kolaborator berikutnya adalah Jubing Kristianto, yang untungnya tidak diberikan kesempatan lama bermain solo. Karena walaupun memang super keren, tetapi malam sudah semakin larut dan saya rasa bisa ketiduran terbuai permainan gitar Jubing.

    foto oleh Dimas Ario
    foto oleh Dimas Ario

    Kolaborator-kolaborator yang disebutkan tadi memperkuat pertunjukkan AriReda di Teater Kecil dan demikianpun kekuatan pertunjukkan kemarin adalah di kesederhanaan dan harmonisasi dari Ari dan Reda. Permainan gitar yang efisien dan efektif tidak berusaha menyaingi merdunya suara Reda, termasuk vokal Ari yang tidak pernah berusaha mendominasi saat keduanya berharmonisasi.

    Dengan subtle pula, tata cahaya yang ada juga efektif dan efisien. Jelas yang terlibat di acara ini adalah mereka-mereka yang sudah akrab dengan pertunjukan di auditorium.

    Akhir kata, setelah lewat dua lusin lagu saya teringat ucapan pak DHW “Mereka itu kawin secara musikal”, dan memang demikian adanya. Anak kedua mereka baru saja lahir beberapa waktu lalu, dan tanggal 26 Januari 2016 adalah syukuran hari pertama.

    ps: Tetangga Pak Gesang juga asoi.

  • Kimokal Dan Siklus Hidup

    Kimokal Dan Siklus Hidup

    Duo electronica asal Jakarta ini akhir merilis sebuah album, dan event peluncurannya bisa dibilang salah satu pertunjukkan seni paling solid dalam beberapa tahun terakhir ini.

    Salah satu pendekatan “Melihat Musik dan Mendengar Visual” berhasil diterjemahkan dengan baik secara presisi dan sinkron dari setiap detail acara kemarin. Di mulai dari minuman selamat datang persembahan Sababay, sebuah merk wine
    asal Bali, gaya berpakaian baik dari pengunjung maupun penampil, visual mapping yang presisi, dan tentu saja semua tadi tidak ada artinya jika tanpa musik yang solid.

    Album mereka ‘O’ adalah album electronica yang sangat solid, sebuah penghargaan pada intelektualitas pencinta musik di Indonesia. Dengan tema ‘Siklus hidup’,

    “Judul album ini mengacu pada idiom kembali ke posisi semula, mewakili penyelesaian siklus transisi dari masa lalu, sekarang dan masa depan,” seperti dikutip dari pernyataan Dennis Yonasa pada press con.

    Sama seperti hidup, kelahiran dirayakan, meninggalkan kesan bagi banyak orang, lalu setelah mereka pergi, tinggal kesan dan inspirasi yang tersisa. Kurang lebih sama seperti show kemarin.

    Album ini sudah bisa dicari di iTunes, dan versi fisiknya segera menyusul beredar di berbagai gerai musik. Awalan yang sangat menarik untuk tahun 2016, yang tampaknya akan disegarkan oleh berbagai asupan bergizi untuk jiwa-jiwa yang haus akan musik.

    cheers.


    kimokal-03

    kimokal-04

    kimokal-ifi-

    kimokal-02

    ps: setelah mencicipi Sababay Wine dan musik, tampaknya akan menarik jika mengadakan Music & Wine Pairing.

  • FUN FEST 2016 : In Conjuction with ‘Lanes Is Oil, Dream Is Pry’ Tour

    FUN FEST 2016 : In Conjuction with ‘Lanes Is Oil, Dream Is Pry’ Tour

    FUN FEST 2016 merupakan gelaran mikro festival senang-senang yang perdana diadakan dibawah garapan Yulio dan Emma untuk mendukung rangkaian tur band rock dari Bali, Rollfast di Jakarta. Dan selain ibukota, mereka akan menyambangi Bandung yang masuk dalam promosi album pertamanya ‘Lanes Oil, Dream Is Pry’.

    Adapun nantinya FUN FEST 2016 akan digelar di Borneo Beerhouse yang berlokasi di Ruko Belle Point, Kemang pada hari Jum’at, 22 Januari 2015 hanya mengocek Rp 75.000 untuk minuman pembuka. Mengajak beberapa kerabat yang sudah tidak asing namanya seperti Kelompok Penerbang Roket, Piston, Crayola Eyes, dan KIEF.

     

  • Review : Neon Indian Live In Jakarta

    Review : Neon Indian Live In Jakarta

    “Menurut lu, di Amerika acara atau konser outdoor percaya pawang hujan gak ya?” tanya teman saya sewaktu hujan besar mengguyur daerah Ampera lalu berhenti seketika sebelum konser Neon Indian mulai. Memang cukup bingung menanggapi fenomena percaya atau nggak percaya pawang hujan, tapi yang saya yakin memang malam itu 24/11/15 alam mendukung acara yang digelar Prasvana di Rolling Stone Café.

    IMG_4168

    Ketika tim kami tiba, Future Collective sedang beraksi dengan formasi tambahan dari Wing Narrada (MVRCK) dan Binsar (Marsh Kids) menciptakan komposisi-komposisi megah. Sound futuristic retroism mendominasi permainan hasil olahan Tida Wilson bersama Sawi Lieu. Ya, mereka berdua adalah otak kiri dan kanan dalam grup ini. Suasana seolah sejenak berubah menjadi masa depan saat “South Subversive Rhythm” dibawakan. Materi-materi baru pun ikut dimainkan yang konon akan segera rilis dalam bentuk album kedua nantinya – album pertama mereka “Ensemble Instrumental de Contemporaine” sudah ludes terjual. Secara keseluruhan, Future Collective memukau penonton walaupun suara yang keluar dari amplifire kurang maksimal.

    neon indian drs

    Giliran Alan Palomo cs mengkooptasi panggung, membelakangi backdrop raksasa dengan desain nyentrik besutan  Kendra Ahimsa. Neon Indian pertama kali namanya dikenal semenjak masuk ke ranah chillwave lewat album ‘Psychic Chasms’ dan ‘Era Extraña’, tapi karena konser ini masih dalam rangkaian promo album terbarunya, VEGA INTL. Night School, pria berpenampilan flamboyan itu menyulap Rolling Stone Café menjadi arena disco 80an bernuansa tropikal. Dia pun memberi bocoran saat membawakan “Slumlord” buat kalian yang mempunyai pertanyaan, siapa orang yang dibalik helm merah pada video klip lagu tersebut? Yaitu adiknya sendiri, Jorge Palomo, pembetot bass Neon Indian. “Polish Girl” dan “News from the Sun” dibayar lunas menjadi dua tembang encore sebagai penutup. Kepuasan penonton tidak berhenti sampai disitu, Alan beserta personil lainnya membuka dengan senang hati untuk sesi foto bersama  fansnya.

    Photo by: Bramaditya Dimas Andika