Category: event musik

  • Sigmun Menggelar Showcase ‘In The Wake of the Crimson Eyes’

    Sigmun Menggelar Showcase ‘In The Wake of the Crimson Eyes’

    Akhirnya setelah digantung selama empat tahun, diiming-imingi janji palsu yang kerap diulang setiap tahunnya, Sigmun memberikan bukti penantian panjang dengan melepas debut album penuhnya pada 15 November lalu. Seribu keping tersebar begitu saja di seluruh daerah-daerah Indonesia. Sempat beberapa hari setelah album itu rilis, seluruh linimasa social media dipenuhi orang-orang mendengarkan Sigmun, tanggapan mereka pun beragam dan kebanyakan positif. Redaksi kami pun sempat mengulas terlebih dahulu sembari selebrasi pelepasan album Crimson Eyes, bisa kalian baca selengkapnya disini. “Crimson Eyes adalah sebuah perjalanan sureal, magis, dan hampir relijius, yang, jujur, ingin saya saksikan dan inderakan secara langsung. Sangat pantas menurut saya apabila Sigmun mengadakan suatu acara yang dikhususkan untuk melarutkan para pendengarnya kedalam alam bawah sadar mereka.” pungkas Anindito Ariwandono selaku manager Sigmun.

    Tapi, sebagai bentuk syukur rasanya kurang sah kalau belum melakukan showcase bekerja sama dengan Orange Cliff Records (label rekaman Sigmun) dan Suaka Suar Collective, In the Wake of the Crimson Eyes merupakan gelaran showcase perdana Sigmun dalam rangka menyambut debut album penuh mereka. Akan diadakan pada tanggal 12 Desember 2015 di Auditorium IFI Bandung, Sigmun, untuk pertama kalinya, akan membawakan rangkaian materi-materi baru dari album debut mereka secara live dan terkurasikan secara visual berdasarkan apa yang terpaparkan di dalam Crimson Eyes. Sigmun akan bermain selama kurang lebih dua jam, dimana selain membawakan materi-materi baru dalam gelaran ini, merekapun akan membawa pendengar-pendengar lama mereka untuk bernostalgia dengan materi-materi mereka yang terdahulu. Bertepatan dengan showcase ini pun, disamping beberapa merchandise t-shirt dan lainnya yang terbatas, Sigmun dengan Orange Cliff Records akan merilis ulang Crimson Eyes dalam format double cassette tape yang hanya akan tersedia di venue. Tiket yang dibanderol dengan harga 75 ribu rupiah ini sudah termasuk poster yang akan dibagikan saat registrasi di venue. Informasi mengenai prosedur pembelian tiket bisa diperoleh melalui akun-akun jejaring sosial Sigmun.

    Untuk informasi lebih lanjut:
    Twitter : @sigmuns
    Instagram : @sigmun_
    www.facebook.com/sigmuns

     

    IN THE WAKE OF THE CRIMSON EYES

    ITWOTCE Poster

  • Studiorama Returnal 2015 : Suguhan Vada Vada dari Duo The Garden

    Studiorama Returnal 2015 : Suguhan Vada Vada dari Duo The Garden

    Acara garapan Studiorama makin kesini terlihat makin menjanjikan seturut kinerja mereka. Berhasil kembali menyelenggarakan Studiorama Returnal mengajak duo garage punk asal California, The Garden, dengan dua penampil pembuka Low Pink dan Pijar. Dan memilih 365 Ecobar sebagai venue perhelatan malam itu (09/10/15).

    DSCF6674

    Busuknya arus lalu lintas selatan Jakarta di jumat malam sangat terlihat jelas di jalanan-jalanan besar hingga akses menuju venue tak bisa terhindarkan. Hasilnya saya hanya mendapat satu lagu terakhir dari Low Pink sebagai pembuka pertama. Band psychedelic pop yang sejak setahun terbentuk ini, memang beri nafas baru tapi belum dapat sorotan banyak. Sedikit ada unsur Unknown Mortal Orchestra era awal dalam musik mereka. Dilanjut Pijar band Indie Rock/Alternative Dance asal Jakarta yang mengingatkan kembali perkembangan musik pertengahan tahun 2000 di ranah Britania­­. Biasanya sering diulas NME. Ditambah lirik norak perihal muda belia dan berbahaya dalam bercinta merupakan bumbu utama.  Menjadi unik ketika sang vokalis terlihat maksa mau menonjolkan kesan ‘nakal’ tapi tidak secara total. Lantas hanya remah-remah ‘kegaringan’ yang didapat.

    DSCF6841

    Dua pria warga asing itu akhirnya memasuki pelataran panggung setelah Pijar menyudahi penampilannya. Baru check line saja, baris pertama penonton sudah dikerubuni gadis-gadis belia dengan teriakan histeris memanggil saudara kembar Wyatt Shears (vocal, bass) dan Fletcher Shears (drum). Maklum, Shears bersaudara ini memiliki wajah rupawan. Tak heran jika menjadi daya tarik para gadis dan pernah juga diajak Hedi Slimane sebagai model Saint Lauren di tahun 2013. ‘Crystal Clear’ menjadi lagu pembuka diambil dari track album terkini mereka “Haha”. Ya, kunjungan mereka ke Jakarta sekaligus mempromosikan album terakhirnya tersebut dibawah naungan Burger Records.  Komposisi bassline yang enerjik dengan pukulan-pukulan kompleks dan tidak memiliki batasan genre berhasil menciptakan mosh pit kecil-kecilan di tengah crowd. Mereka melabelkan sendiri musik mereka dengan sebutan ‘Vada Vada’. “Vada Vada: An idea that represents pure creative expression, that disregards all previously made genres and ideals.” ujar Wyatt Shears. Ada pula aksi Fletcher mengambil sejenak posisi vokal diiringi sampling DnB mengajak penonton berjingkrakan bersama. Nomor-nomor pamungkas dari album yang mentenarkan mereka, The Life And Times Of A Paperclip, tak luput dibawakan. Ditutup dengan ‘We Be Grindin’ sebagai lagu jitu menghabiskan stamina. Senyum puas dan keringat menjadi saksi jelas bahwa perhelatan malam itu sukses terlaksana. Kita pun masih menunggu kejutan-kejutan dari Studiorama selanjutnya dalam agenda  mereka.

    DSCF7740

    Photo by: Ezra Natalia

     

  • DR. Martens ‘Stand For Something Tour’ feat Circa Waves & Elephant Kind

    DR. Martens ‘Stand For Something Tour’ feat Circa Waves & Elephant Kind

    Sore itu Kieran Shudall, Sam Rourke, Colin Jones, dan Joe Falconer – lead guitar sedang meladeni fans-fans yang beruntung dapat berjumpa dengan Circa Waves dalam rangkaian Stand For Something Tour oleh Dr.Martens. Sepatu kulit yang selalu lekat di kancah musik, karena banyak musisi legendaris menggunakannya. Maka jika Dr.Martens bikin acara musik, sudah seharusnya menarik dan mencerahkan.

    Maka itu DRS tidak menyia-nyiakan kesempatan berbincang singkat dengan Circa Waves.

    Lu waktu pertama ketemu tahun 2013, lagu apanih yang pertama lu maenin bareng-bareng?
    Kieran “lagu yang waktu itu baru gue bikin, Young Chaser. Tu lagu jadi single pertama kita juga”
    Joe “iye bener lagu itu”.

    “Elu pada dah tur lumayan panjang, nemu band-band menarik ga selama tur?”
    Joe “yoih, gue demen tu band-band yang kita temukan di Jerman. Banyak band-band experimental yang asoi man”.
    Kieran “Iye bener, band-band Jerman keren-keren”
    Joe “Di Jepang juga asik-asik, seneng gue nemuin anak-anak muda di sana maenin musik aneh-aneh”
    Sam & Collin mangut-mangut doang.

    “Lu pade kan tur panjang juga nih, gimana nih supaya moodnya tetap pada bagus?”
    Joe “Biasanya maen-maen aja, bikin-bikin suara-suara lucu. Ya ngelawak-lawak aja”
    Kieran “haha iye, hahaha. Gue coba ga mikirin aja, dan santai”

    “Katanya lu terinspirasi Buzzcock?”
    Kieran “Buzzcock?, gue sih ngga”.
    Joe “hahaha… iye, tapi maksudnya lebih pada karena mereka bisa bikin lagu yang cepet, kenceng tapi masih pop. A good benchmark for that kind of music”
    Kieran ” ah yes, karena asoi banget sih gitar-gitarnya dan energinya”

    Dan memang iya sih, ini band kenceng, cepet namun dalam sensibilitas pop yang melodius. Livenya seru juga, cocok banget buat anak-anak yang baru mulai dengerin musik ‘edgy’. Terlihat jelas dideretan depan adalah anak-anak usia sekolah yang hafal dengan lirik-lirik lagu Circa Waves.

    Sebelum Circa Waves ada Elephant Kind. Band ini memperoleh sambutan yang semakin besar di ibukota. Tampaknya masih akan terus bertambah besar.

    Dengan antusiasme penonton, sound system yang memadai saya berharap acara ini akan ada kelanjutannya. Mungkin di kali berikutnya ada stand merchandise.

    Circa Waves saat sesi interview
    Circa Waves saat sesi interview
    Circa Waves berpose
    Circa Waves berpose
    Elephant Kind
    Elephant Kind
    Tampil dengan Doc Mart baru
    Tampil dengan Doc Mart baru
    Elephant Kind
    Elephant Kind
    Doc Mar "Stand For Something"
    Doc Mar “Stand For Something”
    Circa Waves
    Circa Waves
    OLYMPUS DIGITAL CAMERA
    Cowo-cowo ganteng bersepatu Dr.Martens maenin musik pop-rock, sudah pasti paling depan adalah perempuan-perempuan muda yang antusias.
    Circa Waves
    Circa Waves
    Circa Waves
    Circa Waves
    Elephant Kind
    Circa Waves
    Merdi & Aat
    Merdi & Aat
  • Ulasan Malam Instrumental Rock Dari Ellipsis

    Ulasan Malam Instrumental Rock Dari Ellipsis

    Kuartet instrumental rock basis Bandung, Elipsis yang baru saja merilis debut mini album mereka yang bertajuk “Adversities” akhirnya menggelar showcase di Salian Art (Minggu, 20/09/2015).

    Showcase ini dimulai sejak sore menjelang malam dengan penampilan pertama dari Neat, band dengan genre funk rock asal Bandung itu mencoba memperkenalkan tiga lagu mereka dan tingkah sang vokalis kadang melakukan gesture menyihir saat solo-gitar mengalun. Ditutup dengan lagu fenomenal dari Dewa 19 yaitu “Cukup Siti Nurbaya”. Suasana semakin ramai dipadati orang-orang ketika band bergenre psychedelic-rock / stoner rock asal Bandung, Kaitzr mulai naik ke panggung dan membawakan dua lagu dari EP mereka yang bertajuk “Myth and Deceit” yang masing-masing lagunya memiliki durasi lumayan panjang. Mengatur emosi kita sesuai irama yang dihasilkannya. “Fire In The Sun” single terbaru mereka yang belum rilis, ikut dimainkan juga malam itu. Semacam tidak direncanakan, semua pengisi band malam itu berkostum rapih layaknya mau ke prom nite, seperti Heals, band asli Bandung yang menghibur para penikmat musik malam itu dengan single perdana mereka “Void”. Mereka salah satu band yang paling banyak dibicarakan saat ini. Mengembalikan memorabilia untuk kalian penikmat alternative-rock/Nu Gaze. Maka tak heran kalau malam itu Heals menutup penampilannya dengan lagu milik My Bloody Valentine yang serentak membuat beberapa orang ikut juga bersenandung.

    IMG_3020 copy

    Akhirnya malam itu ditutup dengan penampilan yang ciamik dan menghipnotis oleh Elipsis yang bermain dengan permainan yang harmonis ritmis dan sedikit mengingatkan pendengar malam itu pada musik-musik yang diusung oleh band seperti Toe, Lite, dan the Mars Volta. Melodi-melodi emosional dikombinasikan dengan tempo yang kompleks merupakan fondasi utama aransemen musik Ellipsis. Sayangnya salah satu gitaris mereka, Elmar tidak dapat hadir karena sedang mengemban ilmu di Australia. Hampir semua nomor di Adversities dibawakan hasil rilisan label independen, Orange Cliff Records. “Tigris” menjadi lagu terakhir yang ampuh hingga memberikan standing applause oleh seluruh penonton dibumbui aksi turun panggung satu-satu hanya menyisakan Aulia Ramahan bersama gitarnya. Setidaknya showcase dari band yang terbentuk ketika masih menjadi anggota sebuah organisasi seni kampus ini dapat menciptakan sebuah reuni kecil-kecilan di akhir acara.

    Photo : Glory Mardika

    Teks : Raufina Zahra

  • Frau : Konser Tentang Rasa

    Frau : Konser Tentang Rasa

    Mengulang keberhasilannya di Bandung waktu lalu, “Konser Tentang Rasa”, mencoba menyajikan kembali musik dari Frau yang menghadirkan pengalaman baru lebih menyeluruh dalam menikmati musik. Menurut rilisan pers yang kami terima “kesan lintas indera itu membuat penonton dapat terlibat secara aktif untuk merangkai impresi rasanya sendiri, bisa berupa senang, sedih, bosan, hingga kantuk” ditawarkan oleh Frau dalam konser terbarunya di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, pada 29-30 Oktober 2015 mendatang.

    Dalam konser ini penonton juga diajak untuk berbagi narasi, ilustrasi, ataupun keluh kesah atas rasa yang muncul ketika mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan Leilani Hermiasih (Lani) dan pianonya, Oskar. Dalam konser ini, Frau akan membawakan 16 lagu dari album Starlit Carousel dan Happy Coda serta beberapa materi lagu baru. Materi baru tersebut akan menjadi rujukan untuk album berikutnya.

    Soal pengalaman “mengalami musik”, Lani mempunyai cerita sendiri. Pada suatu kesempatan, Ia menceritakan bagaimana dirinya bisa menangis tersedu-sedu tanpa alasan ketika mendengarkan lagu “La Même Histoire” dari singer-songwriter Kanada, Feist, berulang-ulang kali. Meski  sama sekali tidak mengerti apa dinyanyikan, tapi air matanya tetap mengalir deras. Tubuh yang berbaring pada pegas-pegas springbed lawas di kamarnya itu pun sesenggukan. Pasrah begitu saja ketika satu dua tetes air mata asin mengalir ke mulutnya. “Saya tidak sedih, tapi mungkin terharu karena bisa menikmati mewahnya pengalaman musikal seperti itu,” Ucap Lani kenangnya.

    Konser Tentang Rasa ini terbuka untuk umum. Tiket untuk mahasiswa/pelajar dijual seharga Rp 35.000,00, dan untuk umum seharga Rp 50.000,00.

    terbatas hanya 300 tiket.

    Tiket mulai diual pada 19 Oktober 2015 di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta jam 15.00 Wib. kami tidak menjual pembelian tiket melalui online.

    informasi perihal konser tentang rasa bisa menghubungi saudara Yudis +62 823 2348 5121 atau melalui email : konsertentangrasa@gmail.com

    salam sejahtera!

    Frau Management

    Adi Adriandi

    komplek sabo centre no 9 sopalan maguwoharjo

    sleman jogja 55282

    T : +62 804 270 113

    E : leilanifrau@gmail.com

    W : www.facebook.com/leilanifrau / www.soundcloud.com/leilanifrau

    Frau_KonserTentangRasa_e-Poster