Category: events

  • Rrrec Fest at the Museum

    Rrrec Fest at the Museum

    Dalam rangka hari museum internasional, Rrrec Fest mengadakan rangkaian event yang di Museum Nasional (Museum Gajah). Workshop, Pameran dan tentu saja musik.

    Museum Nasional ini berada didalam gedung bersejarah dan berisikan berbagai artefak peninggalan jaman purba. Termasuk didalamnya ada beberapa fosil manusia purba dari daerah Timur Indonesia. Keadaan ini menambah kusyu kegiatan di area auditorium, dengan sedikit sentuhan mistis yang khas.

    Walaupun sekedar lampu yang bisa nyala sendiri, mixer yang bisa naek turun sendiri, cukup memberikan pengalaman baru dalam pertunjukan musik.

    Oiya, disini Bottlesmoker dan White Shoes & the Couples Company mempertunjukkan lagu-lagu baru yang rencana akan dirilis di album terbaru mereka nanti.

    Diskoria
    Diskoria
    Merdi & Aat
    Diskoria
    Bottlesmoker
    Bottlesmoker
    White Shoes and the Couples Company
    White Shoes and the Couples Company
    Ramayana Soul
    Ramayana Soul
    Ramayana Soul
    Ramayana Soul
  • Review : Laneway Festival 2017

    Review : Laneway Festival 2017

    Laneway Festival Singapura kembali digelar, dan Deathrockstar hadir untuk meliputnya. Untuk pertama kalinya, band asal ibu pertiwi pun turut diundang untuk tampil pada pagelaran musik yang memang selalu dipenuhi dengan penonton-penonton asal Indonesia. Dua buah band – Bottlesmoker dan Stars and Rabbit – tampil memukau, meskipun keduanya harus rela menjadi band pembuka di panggung mereka masing-masing. Stars and Rabbit tampil di stage utama yang megah di hadapan crowd yang masih santai, namun cukup banyak dan apresiatif. Sedangkan duo elektronik Bottlesmoker tampil di panggung tertutup yang diberkahi pendingin ruangan dan sound system yang memenuhi akustik ruangan. Meskipun penonton siang hari belum begitu banyak, Angkuy dan Nobie tetap memainkan set mereka dengan enerjik, ditemani visual yang menarik dan menambahkan club music yang sesuai.

    Band-band dan penampil lain yang memukau, termasuk band psych-rock asal Australia, King Gizzard & The Lizard Wizard, serta grup dansa Jagwar Ma. Set-set mereka yang penuh vibrasi berhasil membuat penonton terus berjoged ria meskipun hujan terus-menerus turun. Penampil stand out yang lain adalah grup indie rock veteran dari Singapura, Astreal. Grup yang berdiri tahun 1992 ini memainkan salah satu set terbaik di Laneway kali ini, mempresentasikan shoegaze rock yang terasa siap untuk panggung utama yang mereka singgahi.
    Teks: Marcel Thee
    Photo: Cliff Yeo, Lionel Boon, Nor Asyraf
  • Superbad x Dentum Dansa Bawah Tanah

    Superbad x Dentum Dansa Bawah Tanah

    Saya bersyukur karena ditengah riuhnya ahli politik dan ahli agama dadakan, sepasang agen rahasia masih bisa menyelenggarakan satu lagi acara Superbad di Jaya Pub. Kali ini mereka berkolaborasi dengan Pepaya Records dan Studiorama dengan mengangkat tema Dentum Dansa Bawah Tanah, seperti judul rilisan kompilasi anthem dansa bawah tanah yang baru saja rilis.

    Setelah berjalan kaki beberapa ratus meter dari pemberhentian Trans Jakarta, saya membeli tiket di pintu masuk dan rasa rindu tercairkan setelah memasuki ruangan bar yang sudah menjadi ‘rumah’ dalam mencari musik asoi dan wajah-wajah familiar yang juga penikmat musik serupa.

    Tidak lama setelah Keke dan Ameng membuka acara, seorang pemuda gondrong muncul dipanggung, ia adalah Whoosah. Setelah Whoosah ada Future Collective yang kali ini bertiga. Ditutup oleh Sunmantra yang membuat Jaya Pub di penghujung tahun 2016 seperti berada di rave party akhir dekade 90-an sampai awal 00-an.

    Mengingat ini adalah akhir dekade 10-an, mungkinkah rave-rave intens dalam skala kecil ini akan kembali? semoga Tuhan memberkati lantai dansa.

     

    Keke Tumbuan & Indra Ameng
    Keke Tumbuan & Indra Ameng
    Whoosah
    Whoosah
    Madrim Djodi & Kendra Ahimsa
    Madrim Djodi & Kendra Ahimsa
    Future Collective at Superbad x Dentum Dansa Bawah Tanah
    Future Collective at Superbad x Dentum Dansa Bawah Tanah
    Future Collective at Superbad x Dentum Dansa Bawah Tanah
    Future Collective at Superbad x Dentum Dansa Bawah Tanah
    Avindy
    Avindy
    Superbad Jaya Pub
    Putri & Wing
    Future Collective at Superbad x Dentum Dansa Bawah Tanah
    Tida, Sawi, & Wing
    Santy Yas
    Santy
    Sunmantra
    Sunmantra

     

    Sunmantra
    Sunmantra
  • Metallica live in Singapore 2017

    Metallica live in Singapore 2017

    Metallica live in Singapore 2017
    Metallica live in Singapore 2017

    Metallica previously came to Singapore in 2013, playing a sell-out show at the Changi Exhibition Centre.

    Priced at SGD358 and SGD288 (Standing) and SGD248, SGD228, SGD158 (Seated), public tickets will goon sale from Wednesday, 2 November 2016 at 10:00am through Sportshub Tix at http://bit.ly/2hrHelO

    METALLICA WorldWired Tour 2017
    11 January 2017: Seoul, South Korea – Gocheck Sky Dome
    20 January 2017: Hong Kong – AsiaWorld-Expo Arena
    22 January 2017: Singapore – Singapore Indoor Stadium

    Metallica released their 11th studio album Hardwired…ToSelf-Destruct on 18November 2016, via Blackened Recordings. The two-CD / two-vinyl set is the band’s first studio album since the multi-platinum Death Magnetic (2008). Hardwired…To Self-Destruct is available for order at www.metallica.com in various configurations: CD, vinyl, digital, deluxe and deluxe deluxe versions.
    The album is produced by Greg Fidelman who engineered and mixed Death Magnetic.

  • Review : GO AHEAD CHALLENGE ARTWARDING NIGHT 2016

    Review : GO AHEAD CHALLENGE ARTWARDING NIGHT 2016

    Cover Photo: Yose Riandi

    Sejak dimulainya Go Ahead Challenge 2016 bulan April lalu, terhitung 22,261 karya yang di daftarkan ke goaheadpeople.com. Data ini didapat dari rilisan pers yang kami terima. Dan sabtu, 20 November kemarin menjadi saksi terpilihnya para pemenang di malam final yang bertajuk Artwarding Night. Bagi kalian yang belum tahu apa itu Go Ahead Challenge (GAC) adalah sebuah platform yang diperuntukan bagi kalian yang mempunyai hasrat dalam berkarya, mencari ruang-ruang baru untuk belajar dan berinteraksi dengan khalayak luas.

    gac-artwarding-night-2016-collaboration-bottlesmoker-x-stars-rabbit-foto-oleh-yose-riandi

    Foto: Yose Riandi

    Mengambil tempat di Gudang Sarinah yang disulap habis-habisan oleh tim kreatif panitia acara dengan berbagai instalasi menarik mata. Panggung besar itu dibuka oleh L’alphalpha, lalu dilanjut oleh grup eksperimental-rock yang penampilannya selalu mengagumkan, The Trees & The Wild. Turut pula Studiorama Ensemble berisikan musisi yang sedang naik namanya, sebut saja salah satunya Vira Talisa sebagai pemimpin grup ini. Kurang rasanya kalau tidak melihat emerging bands yang khusus dihadirkan untuk menunjukan taring mereka sebagai perwakilan dari finalis GAC. Seperti Jim Jack, Morganostic, Piston dan Ocsila Purba (Ocy). Menurut kami pribadi, masing-masing band punya keunikan dalam musiknya, jadi penasaran siapa yang akan menang diantara mereka nanti malam.

    Sewaktu jeda maghrib tiba, menjadi kesempatan kami melihat instalasi-intalasi dari berbagai bidang di ARTOSPORA 2016. Jadi tidak hanya musik saja. Ada dari visual art, fotografi, dan juga style. Para finalis saling berkolaborasi bersama para seniman-seniman favoritnya. Seperti salah satu karya favorit kami, Ridwan Badar bersama Agan Harahap. Menyinggung isu konflik sosial tentang sentimen agama dan ras yang telah menjadi konsumsi massal belakangan ini. Foto beras yang berlafalkan huruf arab dengan bunyi isi sumpah pemuda menjadi suatu respon bahwa sumpah yang digagas oleh para pendiri sebelumnya kini kehilangan maknanya. Memang itu tujuannya ARTOSPORA 2016 dibuat yang bukan sekedar ajang pamer karya para finalis, namun juga mampu menjadi ruang bertukar pengetahuan dan informasi.

    Under The Big Bright Yellow Sun malam itu memberi suguhan spesial, bersama Parahyena menderu dengan nada-nada destruktif penuh harapan. Polka Wars pun lanjut dan langsung menghipnotis dengan suara vokalis yang menggugah sewaktu membawakan ‘Mokele’, ‘Caroline’ dan ‘Piano Song’. Sehabis itu ada kolaborasi maha magis nan muktahir, mengkombinasikan folk music dengan electro-pop. Dimulai Stars and Rabbit bersama Bottlesmoker membawakan beberapa materi masing-masing. Ditambah suara Elda Suryani yang membuat merinding saking lantangnya. Ada nuansa dub’nya sedikit saat membawakan materinya Bottlesmoker.Usai Elda ddan kawan-kawan menyudahi aksinya disambung dengan Henry ‘Batman’ Foundation bersama duo Nobie dan Angkuy membawakan ulang “I Just Can’t Get Enough” kepunyaan Depeche Mode. Lalu dilanjut dengan Goodnight Electric bersinergi dengan Bottlesmoker. “Akhirnya bisa berkolaborasi dengan musisi idola! Goodnight Electric dan Stars and Rabbit salah dua musisi senior yang menginspirasi kami untuk terus konstan bertahan di industri ini dengan mengasah ide dan belajar terus nggak ada habisnya” ujar Ryan “Nobie” Adzani (Bottlesmoker)  sewaktu gelaran konferensi pers di ruangan lain. Sehabis kolaborasi tersebut, inilah yang ditunggu-tunggu. Pengumuman pemenang Go Ahead Challenge 2016.

    gac-artwarding-night-2016-winner-foto-oleh-dimas-aryana-1

    Foto: Dimas Aryana

    “Mengharukan! Melihat perkembangan talenta kedua belas finalis tahun ini mulai dari tahap seleksi pertama, instalasi karya di Soundrenaline 2016, hingga tantangan terakhir, dimana mereka unjuk diri dalam ruang pameran kolektif “Artospora 2016”. Semoga langkah mereka mendalami passion tidak terhenti sampai Go Ahead Challenge saja”, pungkas Anton Ismael, kurator dari bidang fotografi. Nyatanya terpilih lah Yulio Abdul Syafik (musik), Ridhwan Badar (fotografi), Kurniawan Ramadhan (visual art) dan John Martin (style). Oia, ada Rato Tanggela dari subkultur visual art terpilih menjadi pemenang favorit juga. Semuanya akan diberangkatkan ke Amsterdam untuk memperkaya referensi berkarya mereka.

    Dilanjut #KolaborasiMahaBising antara Morfem dengan The Brandals. Kolaborasi dengan vokalis yang maha liar pula. Kapan lagi kalian bisa liat Eka Annash bersama Jimi Multhazam satu proyek musik di atas panggung? Ditambah pilihan-pilihan lagu ciamik dari masing-masing band. Jimi pun bilang bahwa “Kolaborasi dengan The Brandals membawa gue kembali ke masa awal pertama kami berdua manggung. Sama-sama merintis band secara otodidak, kami berjuang dengan menganut jurus tiga kunci. Pertemuan nada-nada rumit dari lagu Morfem dan The Brandals inilah yang menjadi kunci spesialnya penampilan kami.” Dan hasilnya? Sebuah kombinasi pamungkas “Obsesi Mesin Kota” dengan “Pilih Sidang Atau Berdamai” sebagai penutup acara Artwarding Night. Kami pun hanya bisa geleng-geleng kepala sambil meluncur pulang. Kedua tembang itu dibawakan tanpa cacat cela tanpa mengurangi kesakralannya. Sungguh edan!