Category: events

  • Review: Thursday Noise Vol: 9 | Release Party ‘Dramaturgi Underground’

    Review: Thursday Noise Vol: 9 | Release Party ‘Dramaturgi Underground’

    Sebuah barang wajib untuk datang saat melihat flyer yang dipublikasikan oleh akun resmi @morfem_band tentang Thursday Noise Vol 9. Sekaligus, pesta rilis album ketiga mereka bertajuk Dramaturgi Underground. Memang gaung promosinya terbilang tiba-tiba, tapi tidak merugi untuk menghadirinya. Pintu 365 Ecobar pun memampang poster besar berwarna merah berilustrasikan gestur tangan berbagai gaya gubahan Ahmad ‘Madfire’ Muarif.

    Seperti biasa, Thursday Noise pasti membawa nama-nama baru di setiap edisi. Gascoigne salah satu namanya. Setelah membuat, mengutip kata Jimi Multhazam, “proyek semi-misterius” bernama Mutombo (R.I.P) Alvi Ifthikhar (vokal/gitar) bersama Dimaz Hafizhan (bass) dan Zaka Sandra Novian (drum) membuat trio indie-rock yang mengemban ilmu musik Stephen Malkmus dalam musikalitas mereka. Kemarin malam Gascoigne juga membawakan debut single mereka “Stolen War Emblem”. Berlanjut ke unit 70’s punk rock asal Bogor, The Jansen. Nama tersebut memang diadaptasi dari karakter film Rocket Rain yang juga kerabat tongkrongan The Kuda. Suara cempreng menyerukan “We Are Not Fear” tidak kuasa untuk barudak baris depan untuk moshing kecil-kecilan. Lalu ada The Rang Rangs yang ditunjuk khusus menjadi pembuka pertunjukan Morfem. Mungkin Descendents adalah salah satu dewa mereka. Terdengar kental di tiap-tiap lagu. Walaupun terbilang baru, tidak ada kecanggungan di antara personilnya. Malahan sebaliknya, begitu interaktif kepada penonton.

    photo-4

    Spesialnya di album ketiga, Morfem mengajak sepuluh seniman dalam projek ini diantaranya adalah, Aprilia Apsari (vokalis White Shoes and The Couples Company), Farid Stevy (vokalis FSTVLST), Ricky Malau, Marishka Soekarna, Argy Pradipta, Ahmad “Djali” Rizzali, Reza Pradipto, Gama Dwisetya, Ahmad “Madfire” Muarif, dan Rato Tanggela. Menjadi sebuah ciri khas Thursday Noise untuk tidak hanya menyaksikan pertunjukan musiknya saja, tapi juga menikmati karya dari sepuluh seniman visual dipamerkan di artwork display di sana.

    Dibuka oleh “Jungkir Balik” sebuah single perdana yang diperdengarkan Morfem di kanal soundlcoud-nya. Sontak barisan depan porak poranda dibuatnya. Bagi kalian yang mengikuti Thursday Noise dari volume pertama hingga sekarang, pemandangan crowdsurfing yang begitu masif tercipta menjadi hal yang wajar. Lagu ini artworknya dikerjakan oleh seniman asal Yogya sekaligus vokalis dari FSTVLST, Farid Stevy. “Akhirnya rillis juge ye ndu setelah tiga tahun” ujar lega Jimi Multhazam kepada Pandu Fuzztoni setelah menempuh penantian panjang perilisan Dramaturgi Underground. Pasti banyak fase yang dilewati sewaktu proses pembuatannya. Produksi album ini dibantu dengan sentuhan cemerlang engineer kawakan Asmoro Djati dibagian mixing dan mastering-nya. Sedangkan proses rekaman instrumen ditangani oleh Wahyu HW. Banyak lagu baru yang belum terdengar familiar di kuping penonton tapi tidak membuat lainnya mati gaya. Dirilis satu hari sebelum, “Annabas Testudineus” single terbaru mereka ini diapresiasi meriah di area mosh pit kemarin. Ada pula menggubah ulang “Kuning” milik rumahsakit Jimi mengajak Marky, sebagai salah satu pentolan di band tersebut, untuk berkolaborasi mengisi departemen gitar. Kurang berwarna kalau tidak mendengar banyolan khas Jimi di sela-sela pegantian lagu, Buat yang mengira mereka tidak membawakan materi lama, kalian salah besar. Nyatanya sehabis “Seka Ingusmu” deretan lagu-lagu pamungkas pun tak luput dibawakan. “Gadis Suku Pedalaman”, “Pilih Sidang Atau Berdamai”, “Tidur Dimanapun Bermimpi Kapanpun” hingga penggalan tembang-tembang Ramones menjadi peluru terakhir penutup pesta rilis ini.

    Menurut rilisan pers yang kami terima, kedepannya Jimi Multhazam berharap bisa membawa gigs Thursday Noise tur ke beberapa kota besar di Indonesia. Penampilan Morfem berikutnya dapat disaksikan di Go Ahead Challenge Artwarding Night 2016 tanggal 20 November 2016 di Gudang Sarinah Ekosistem. Morfem akan berkolaborasi dengan The Brandals, menjanjikan penampilan musik dan aksi panggung yang dahsyat.

    Foto: Agung Hartamurti

  • Review : Soundrenaline 2016 “Louder Than Never”

    Review : Soundrenaline 2016 “Louder Than Never”

    Memasuki episode keempat belas, kini Soundrenaline 2016 semakin banyak menyuguhkan kejutan-kejutan dari berbagai ranah kreatif. Dari musik, seni rupa, fashion, hingga film. Sebut saja salah satunya band Efek Rumah Kaca (ERK) yang didatangkan dengan formasi lengkap. Ya, mereka mengembalikan Cholil Mahmud yang sedang mengemban ilmu di Amerika Serikat ke posisinya di departmen vokal. Bisa dibilang  tahun ini banyak nama-nama baru  diberikan ruang berkreasi di festival bertaraf internasional seperti Soundrenaline. Tahun sekarang Sampoerna A Mild pun masih mempercayakan KILAU Indonesia sebagai promotornya. Mengambil tempat di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali.  Diselengarakan pada tanggal 3-4 September mengusung tema besar “Louder Than Ever”. Banyak pula mengajak band-band rock berkualitas dari tanah air. Dengan didukung tiga panggung gigantis, daya sound maha dashyat, serta permainan tata lampu memanjakan mata. Berikut catatan langsung pengalaman kami selama di Soundrenaline 2016.

    Hari Pertama: Gempuran Musisi-Musisi Gelombang Baru Indonesia

    Mungkin, hal pertama kali saya merasa tertantang meliput event ini adalah sewaktu melihat daftar para penampil. Dimana setelah dilihat, lebih banyak didominasi oleh musisi gelombang baru. Juga banyaknya local heroes dari Bali yang diberi wadah beraksi di sini. Ini merupakan kesempatan yang langka menjadi saksi atas penampilan mereka. Bukan perihal panggung kecil atau besar, gigs kecil atau besar. Tapi saya diberi kesempatan melihat kemampuan mereka di depan ratusan mata penonton. Ataupun tekanan mental yang mereka rasakan, begitu pula yang saya rasakan, meningkat dari sebelumnya. Sesampai  di GWK, waktu setempat menunjukan jam empat sore, yang dimana seluruh stage akan bermain serentak. Menjajal panggung satu ke panggung lain menjadi agenda utama. Hingar bingar pun terdengar di A Stage yang dimana Morganostic, unit metal core yang berdomisili di Surabaya, sedang membredel habis telinga penonton. Mungkin juga menggetarkan dinding-dinding GWK. Beralih ke sebelah, ada Mom Called Killer salah satu local act asal Denpasar ini tampil sangar saat membawakan ‘Noisia’ di Louder Than Ever (LTE) Stage. Terdengar dari panggung lainnya, di bawah ratusan anak tangga sana ada salah satu band kebanggaan Pekanbaru yaitu Jimjack di Go A Head Stage. Genderang drum bertalu memacu semangat untuk headbang sesaat.

    Terik sinar matahari yang kurang ajar menganjurkan untuk meringsek masuk dan duduk santai ke Amphitheater Stage. Dilihat dari kejauhan ternyata band instrumental rock Bandung, Ellipsis sedang mengkooptasi panggung tersebut dengan formasi bertiga. Menurut informasi dari Aulia Ramadhan (gitar) bahwa formasi Ellipsis sekarang adalah dadakan untuk Soundrenaline 2016, dikarenakan salah satu additional player mereka berhalangan hadir. Dilanjut Poison Nova (Cirebon) yang  kental musik atmosferik khas Norwegian Black Metal. Ditengah aksinya, Arian 13 (vokalis Seringai) diundang naik keatas dan bersama-sama membawakan ‘Meir’ milik Kvelertak. Mau beranjak ke tempat lain lagi, apa daya kursi sudah memanjakan badan. Lagipula kami penasaran Zat Kimia, band alternative rock asal Bali yang sedang banyak direkomendasikan. Ekspetasi saya pun dipatahkan begitu saja ketika tiga lagu sudah dibawakan. Nyatanya musik nuansa 2000’an awal menyelimuti mereka. Tidak heran ketika dikulik lebih dalam, vokalisnya (Ian Joshua Stevenson) merupakan dari band Kaimsasikun. Jika kalian pernah dengar single mereka berjudul “Pria Dijajah Wanita” dia salah satunya.”Candu Baru” lagu yang menyinggung tentang perkembangan dunia maya pun masih nyangkut di kepala sampai sekarang. Sialan memang! Ku jadi candu.

    Ketika senja datang saya berniat menengok ke LTE Stage sebentar. Dari kejauhan komplotan grunge Bali bernama Navicula sedang membawakan “Mafia Hukum”. Sontak semua penonton menyanyikan bait demi bait dengan membara! Melihat rundown acara, nama Kimokal sepertinya menarik.  Duo trip hop yang dibantu dua personil tambahan itu sedang menghipnotis penonton. Dilanjut unit post-rock Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) mengambil alih panggung. Deruan nada-nada depresif yang dimainkan secara instrumental menjadi bumbu utamanya. Ini bukan kali pertama saya melihat aksi mereka. Hanya melihat perubahan pada posisi drum  mereka yang memang jempolan bukan main. Tak heran jika lagu terakhir mereka, ‘Threshold’, diberikan standing applause satu Ampitheater Stage.

    Sesudah itu, derap langkah saya percepat. Memang terdengar terburu-buru karena mengejar penampilan Isyana Sarasvati. Alhasil saya hanya mendapatkan remah-remah  dara jelita tersebut membawakan lagu-lagu hits dari Queen yang dimainkan secara medley dengan aransemen dia sendiri. Dilanjut The Upstairs memberi suguhan baru. Tampil begitu enerjik. Mungkin panggung yang nyentrik dikerjakan langsung oleh teman-teman Grafis Huru-Hara merupakan faktor penyemangatnya. Dengan bucket hat merah, Jimi Multhazam cs membawa tembang-tembang yang membalikan memorabilia masa SMA saya. Salah duanya ‘Modern Bob’ dan ‘Dansa Akhir Pekan’. Tenaga maksimal diberi habis-habisan diatas panggung. Sambil menyelipkan sediki celotehan khas Jimi  perihal penampil sebelumnya. Sewaktu ‘Matraman’ dipilih sebagai lagu pamungkas, terlihat dua seniman (Farid Stevy dan Ican Harem) memecah kemonotonan baris depan dengan melakukan crowd surfing. Berikutnya ada Soundrenaline Project. Sebuah kolaborasi musik gubahan Nikita Dompas yang dipilih sebagai music director khusus proyek ini. Dimana Nikita banyak mengaransemen ulang lagu-lagu pilihannya dan dinyanyikan secara bergantian oleh Kikan Namara, Marcello Tihatoe, Andy /rif, Kallula (Kimokal), dan Ratih Suryahutamy (Neonomora). Seperti ‘Dahulu’ dari The Groove sampai ‘Sendu Melagu’ kepunyaan Barasuara. Berpindah ke Ampitheater Stage terlihat massa sudah mengerubungi di baris pertama saat Goodnight Electric bermain. Spesialnya panggung ini adalah tidak ada batasan antara penonton dan penampil. Ketika penonton sudah tidak terkontrol, banyak orang yang naik ke pelataran panggung. Penjaga pun sudah kewalahan menertibkan. Menggila! Tak heran jika banyak melihat pemandangan musisi lain, seperti Farri Icksan dari The SIGIT, ikut bersenang-senang bersama. “Kayak acara sendiri nih!” ujar Felix Dass diantara kerumunan orang. ‘Am I Robot’ pun menandakan perjumpaan itu berakhir.

    Walau banyak melewatkan aksi dari nama-nama besar seperti NTRL, J-Rocks, hingga Simple Plan. Tidak menyurutkan rasa penasaran  terhadap kejutan apalagi yang saya dapatkan besoknya.

    erk

     

    Hari Kedua: Kembali ke Zona 2000an

    Matahari masih terlihat menyombongkan sinarnya di hari kedua Soundrenaline 2016. Masih dengan jam dan tempat yang sama di Garuda Wisnu Kencana. Tapi semua itu tidak membuat unit psychedelic-rock asal Bali ini menurunkan tensinya. Malah sebaliknya, Rollfast membakar semangat para penonton yang sudah sedari tadi menunggu penampilannya. Pria-pria gondrong ini didaulat menjadi pembuka di A Stage. Bagaimana tidak ‘membakar’ melihatnya? Keliaran Arya Triandana sang pembetot bass, gebukan drum menggebu-gebu Ayrton Maurits Willem, hingga aksi banting gitar dari Bayu Krisna tidak luput dari pandangan saya. Di sisi kanan Gungwah Brahmantia terlihat kalem seperti biasanya, dengan komando di tangan Agha Praditya. Meluncur ke bawah, Go A Head Stage, ternyata komplotan rock-ngebut asal ibukota bernama Piston ini sudah siap menggilas telinga pendengar. Nomor-nomor seperti “Hakim Tak Berpalu”, “Kembali Ke Titik Nol” tidak lewat mereka bawakan. Balik ke atas, Kelompok Penerbang Roket mengambil posisi masing-masing. Sontak baris depan dibuat tumpah ruah tak beraturan dengan mini-circle pit. Setelah kuping digerus habis-habisan dengan musik keras, beralih ke Amphitheater Stage melihat reunian singkat dari Base Jam. Banyak tembang-tembang 90an yang mereka bawakan. Tak heran banyak yang berkaraoke ria di sana. Sehabis itu The Adams tampil membalikan memori saya kembali ke masa kejayaan Aksara Records. Dibantu oleh Pandu Fuzztoni (Morfem, The Porno) dan Tercitra Winitya (L’alphalpha).

    Keharuan tercipta saat Adrian Yunan membuka panggung Efek Rumah Kaca dengan “Sebelah Mata” berlatarkan warna haru biru. Memecah pertanyaan keberadaanya di panggung, Cholil Mahmud pun masuk di lagu berikutnya diikuti sang istri tercinta Irma Hidayana. Paduan suara massal pun terjadi ketika “Pasar Bisa Diciptakan” berkumandang. Ketika banyak yang request “Di Udara”,  Cholil pun bercanda “Jangan lagu itulah, itu lagu politik nanti kalian terprovokasi. Mendingan kita menyanyikan lagu tentang alam. Semoga alamnya Bali semakin bagus. Semakin cantik. Oke, inilah ‘Di Udara’”. Memang sedikit menyerempet isu Reklamasi Teluk Benoa yang sedang banyak diperbincangkan tapi dengan cara ‘mulus’. Elephant Kind menjadi nama menarik untuk dilihat selanjutnya. Dengan formasi terkininya, melantunkan “Oh Well” yang membuat satu area Amphitheater Stage berdansa mengikuti beat drum. Di LTE Stage, terdapat /rif berkostumkan a la musisi-musisi glam rock. Tentu masih dengan lagu-lagu andalannya. Menjadi nilai plus adalah penampilan selanjutnya, terdapat Lolot, grup rock cita rasa Pulau Dewata. Lirik-lirik mereka menggunakan asli Bali. Mungkin banyak yang kurang paham, tapi mereka berempat memang sudah menjadi bintang rock ditempatnya. Barasuara mengambil tongkat estafet panggung itu. Aksi mereka memang selalu ditunggu-tunggu khalayak luas. Begitu pun malam itu, mereka menumpahkan totalitas tanpa batas di tiap-tiap lagunya. Serigala Militia pun mempersiapkan taringnya sehabis Iga Massardi cs menyudahkan penampilan. Walau tidak semasif seperti panggung-panggung sebelumnya, circle pit pun tetap terlaksana saat Seringai membawakan “Akselerasi Maksimum”. Di tengah-tengah daftar lagunya, “Program Party Seringai” menampilkan visual dari seniman video ternama, Fluxcup. Seruan “Individu, Individu Merdeka!” dari penonton mengawali raungan gitar “Mengadili Persepsi”. Ditutup dengan kepalan meninju ke udara saat “Dilarang Di Bandung” dibawakan.

    Melewatkan The Temper Trap bukan perkara besar untuk disayangkan. Bloc Party merupakan salah satu nama yang sengaja didatangkan ke Soundrenaline 2016 berdasarkan masifnya permintaan di goaheadpeople.com. Paska hiatus dua tahun, ditambah ditinggal Matt Tong bersama Gordon Moakes, tidak membuat Kele Okereke putus asa. Bersama formasi baru, salah satu band indie-rock kebanggaan Inggris ini banyak mempromosikan materi-materi dari album kelima mereka, Hymns. “Banquet”, “Octopus”, “Helicopter” sampai “Ratchet” memuaskan saya untuk bernyanyi bersama. Diselingi pemandangan gebyar kembang api dari panggung sebelah. “This Modern Love” dipilih menjadi penutup penampilannya. Keriuhan itu pun selesai di hari kedua. Dan sekali lagi Soundrenaline 2016 berhasil membuktikan dirinya sebagai festival musik terbesar di Indonesia. Bukan hanya sekedar menyelenggarakan festival musik yang layak, tapi juga membuka ruang untuk musisi-musisi baru yang perlu banyak disorot ataupun diwadahi bagi penikmat musik luas.

  • Kejutan Baru di RRREC FEST IN THE VALLEY 2016

    Kejutan Baru di RRREC FEST IN THE VALLEY 2016

    RURU Corps dan Rakata Adventure kembali menggelar RRREC Fest in The Valley untuk ketiga kalinya pada 9 – 10 – 11 September 2016 di Tanakita Camping Ground, Situ Gunung, Sukabumi, yang terletak di dalam area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

    RRREC FEST IN THE VALLEY adalah festival musik alternatif 3 hari 2 malam sebagai sarana liburan akhir pekan / weekend getaway – music camp yang diadakan untuk memberikan pengalaman baru dengan menyediakan sebuah platform bagi terciptanya titik pertemuan, serta tempat saling berbagi pengetahuan di antara penikmat festival musik, musisi, seniman, aktivis, warga setempat, dan publik dari lintas disiplin lintas generasi; yang semuanya akan berkemah, berkumpul, dan bersenang-senang bersama dalam suasana nongkrong bareng yang intim, hangat, dan nyaman.

    RRREC FEST IN THE VALLEY berisikan rangkaian program yang meliputi: pertunjukan musik, pemutaran film layar tancap, teater, residensi seniman, workshop, bincang-bincang, dan program anak. Dalam penyelenggaraan yang ketiga ini, kami merancang aneka program yang lebih bervariasi agar bisa memberikan pengalaman baru bagi suasana liburan akhir pekan di alam terbuka yang menyenangkan dan berkesan. Program-program ini dirancang oleh tim kurator festival: Pasangan Baru (Dimas Ario dan Nastasha Abigail) dan The Secret Agents (Indra Ameng dan Keke Tumbuan).

    Tahun ini, RRREC Fest in The Valley memberikan perhatian khusus pada hubungan dengan lingkungan dan masyarakat setempat di sekitar area Tanakita Camping Ground. Untuk itu, diadakan beberapa program yang fokus pada tujuan menjalin hubungan tersebut, yaitu program Residensi Seniman di Kampung Pesanggrahan bersama thepopo, program Film Layar Tancap di Kampung Babakan Kembar yang akan memutarkan film klasik nasional “Tiga Dara” (1956) karya Usmar Ismail, yang baru saja direstorasi. Program film ini didahului dengan workshop Gerobak Bioskop, yaitu model pemutaran film keliling yang bisa diaplikasikan di mana pun yang difasilitasi oleh Jatiwangi art Factory (JaF) bekerja sama dengan komunitas seni Mesin Suara (Sukabumi). Selain itu, diadakan workshop paduan suara eksperimental Raung Jagat oleh Rully Shabara yang turut mengundang peserta yang tinggal di wilayah Situ Gunung, dan sebuah proyek kerja sama antara RURU radio dan Rakata Adventure yang akan menginisiasi proyek perekaman Rain Forest Recording sebagai bagian dari usaha konservasi hutan tropis. Dengan maksud yang sama, kami juga mengadakan program home stay yang menjadikan rumah warga sebagai tempat tinggal peserta festival.

    Program musik tahun ini menampilkan musisi-musisi pilihan dari beragam jenis musik, usia, dan latar belakang. Di antaranya, kami anggap memiliki karya-karya yang inspiratif, yang karyanya bersifat klasik, dan para musisi yang telah terbukti konsistensinya dalam berkarya, serta beberapa pendatang baru yang menyimpan potensi istimewa. Ada kelompok qasidah perempuan legendaris nasional Nasida Ria yang aktif berkarya sejak 1975 hingga sekarang, ada juga pasangan etnomusikolog yang membentuk kelompok musik Suarasama untuk mengembangkan musik tradisi Sumatra Utara ke wilayah musik kontemporer, dan ada juga musisi-musisi eksperimental perempuan: SARANA dan Sonotanotanpenz. Kami juga menghadirkan band-band yang namanya tengah berkibar di kancah musik Asia Tenggara, yaitu Yellow Fang, Dirgahayu, dan Bottlesmoker. Para dedengkot dari generasi awal tahun 2000 yang terus berkarya dan kini mulai beraksi lagi, yaitu Harlan dan The Adams. Tak ketinggalan, deretan singer songwriter menawan hati yang memainkan musik folk dengan karakter dan narasinya masing-masing: Sisir Tanah, Jason Ranti, dan Leanna Rachel. Sementara atmosfer keriaan malam hari akan dinyalakan oleh grup digital hardcore Racun Kota dan dimeriahkan oleh rombongan selektor musik kesayangan Beergembira, Metzdub, Elektro Virgo Ago Go, Sattle, Viva Los Amigos, dan oomleoberkaraoke.

    Untuk pertama kalinya, tahun ini, kami mengadakan pertunjukan teater dengan menghadirkan salah satu kelompok teater boneka Indonesia terpopuler yang mendunia, yaitu Papermoon Puppet Theatre. Bukan hanya mengadakan pertunjukan, namun mereka juga nanti akan memberikan workshop dan tentunya berinteraksi dengan peserta festival.

    Program Bincang-bincang terdiri dari beberapa sesi, mengundang mereka yang aktif berkarya, bekerja, dan bergerak menyebarkan pengetahuannya serta membagi pengalamannya dalam praktik kerjanya masing-masing kepada publik. Ada bincang-bincang soal musik dalam berbagai topik, yaitu pertama mengenai “Berdikari dengan Musik” dengan pembicara Rudolph Dethu (manajer, promotor, penulis musik) dan Iit Boit (pemilik toko Omuniuum, promotor, produser), yang akan membincangkan bagaimana sebuah band dapat hidup dan berkembang menjadi sebuah entitas kesenian sekaligus kelompok kreatif yang mandiri, serta bagaimana musik bisa menjadi sumber pendapatan bagi orang-orang yang hidup di dalamnya. Kedua adalah “LOKALwisdom” yang akan menampilkan cerita-cerita menarik dari geliat komunitas subkultur kota-kota di luar Pulau Jawa. Bagaimana kehidupan berkesenian di kota-kota tersebut dan strategi mereka untuk membuat denyut kreativitas terus hidup; menghadirkan Suarasama dan SARANA. Ketiga adalah rangkaian seri South East Asian Music Network dengan tema “Touring Band”, yang didukung oleh AirAsia Indonesia selaku official airline partner. Program ini telah menjadi salah satu medium untuk saling berdiskusi dan membangun jaringan di antara negara-negara Asia Tenggara. Pada sesi kali ini, akan berbicara mengenai pengalaman band dari negara-negara di kawasan dalam menjalani tour internasional dengan Dirgahayu, Yellow Fang, dan Bottlesmoker. Program Bincang-bincang musik ini akan dilengkapi dengan workshop merancang identitas band dan karya musiknya yang akan menghadirkan presentasi dari Wok The Rock (seniman, kurator, produser, pemilik net label YesNoWave) dan Harlan Boer (pemusik, penulis, produser).

    Selain soal musik, akan ada sesi bincang-bincang mengenai sumber energi dan ketahanan pangan. Diskusi ini ingin membicarakan bahan pangan selain beras yang masih bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional di pelosok Indonesia. Selain itu, diskusi ini juga ingin membahas secara serius maupun spekulatif tentang jargon ketahanan pangan yang dewasa ini sering didengung-dengungkan. Sebagai pembicara adalah Lefidus Malau (detektif tumbuh-tumbuhan), Rahman Satria Adi (Rakata Adventure Team), dan Bagus Dwi Danto (Sisir Tanah). Kemudian, RURU Kids juga akan mengelola sebuah kegiatan lokakarya bagi anak-anak.

    poster_rrritv

  • Konser Morrissey Untuk Kedua Kalinya Digelar di Jakarta

    Konser Morrissey Untuk Kedua Kalinya Digelar di Jakarta

    Berita bahwa Morrissey akan bertandang kembali ke Jakarta memang sudah terlebih dahulu ‘bocor’ ke khalayak luas lewat situs penggemarnya yaitu true-to-you.net. Namun berita itu masih rancu. Belum ada konfirmasi apapun dari pihak manajemen Morrissey. Di situs tersebut mantan vokalis The Smiths ini hanya dijadwalkan akan bermain pada tanggal 12 Oktober 2016 di Senayan Golf Driving Range, Jakarta.

    Akhirnya, selasa kemarin (2/8/2016) lewat kicauan akun Twitter @kiosplay memberi kepastian bahwa #MorisseyJKT resmi mereka yang tangani. Patut diberitahukan kalau KiosPlay tahun ini sudah mendatangkan nama-nama musisi bergengsi seperti Tame Impala sampai M83.

    KiosPlay selaku promotor tunggal di konser ini, membagi tiga kategori tiket yang bisa dapatkan hanya di situs kiostix.com. Early Bird (yang konon sudah ludes terjual saat berita ini disiarkan) Rp 650ribu. VIP Rp 1,5 Juta dan tiket Regular seharga Rp 800ribu.

    Tur Internasional ini juga akan menyinggahi beberapa negara dibawah:

    9/20 Louisville, KY Louisville Palace
    9/22 UpperDarby, PA Tower Theater
    9/24 Brooklyn, NY Kings Theatre
    9/28 Tokyo, JAPAN Orchard Hall
    9/29 Tokyo, JAPAN Orchard Hall
    10/1 Yokohama, JAPAN Bay Hall
    10/2 Osaka, JAPAN IMP Hall
    10/6 Hong Kong, CHINA MacPhersonStadium
    10/12 Jakarta, INDONESIA Senayan Golf DrivingRange
    10/15 SINGAPORE Marina Barrage
    10/18 Bangkok, THAILAND MoonstarStudios
    10/22 Melbourne, AUSTRALIA Festival Hall
    10/26 Adelaide, AUSTRALIA Thebarton Theatre
    10/28 Canberra, AUSTRALIA Royal Theatre
    10/29 Wollongong, AUSTRALIA WIN Entertainment Centre
    10/31 Newcastle, AUSTRALIA Newcastle CivicTheatre
    11/9 Irvine, CA BrenEvents Center
    11/11 Reno, NV Grand Sierra Resort & Casino
    11/14 Boulder, CO Boulder Theater
    11/16 Dallas, TX McFarlin Memorial Auditorium
    11/17 San Antonio, TX Tobin Center forthePerformingArts
    11/19 Houston, TX White OakMusic Hall
    11/23 El Paso, TX Abraham ChavezTheatre

    Info lebih lanjut bisa kalian ikuti di:

    Twitter / Instagram / Line: @kiosPLAY
    Facebook: KiosPLAY
    Website: www.kiosplay.com

  • M83 Live in Jakarta

    M83 Live in Jakarta

    Setelah sukses menggelar konser Tame Impala bulan April lalu, kiosPlay kembali hadir. Pada kesempatan keduanya, kiosPlay menghadirkan M83, proyek musik yang digawangi Anthony Gonzalez.
    Penantian penggemar M83 terbayar lunas, untuk pertama kali nya proyek music elektronik yang digawangi Anthony Gonzalez menginjakkan kaki nya di Jakarta. Kondisi Lapangan D Senayan yang becek dan berlumpur akibat hujan yang mendera Jakarta Sabtu (21/5) kemarin, tidak menyurutkan antusiasme penggemar.

    kiosPlay sebagai promotor konser ini mempercayakan duo elektronik asal Bandung, Bottlesmoker membuka pagelaran malam itu. Sekitar pukul 7 malam Bottlesmoker dengan mengenakan kostum indian dan astronot, mulai memainkan tembang-tembang andalan mereka. Total 10 lagu mereka mainkan malam itu.
    Setelah jeda sesaat, para personel M83 muncul satu persatu diatas panggung. Tanpa basa-basi mereka langsung menggeber “Reunion” hits dari album keenam “Hurry Up, We’re Dreaming”.

    “Selamat malam Jakarta, ini pertama kali kami datang ke sini dan kami sangat tertarik. Terima kasih sudah datang walau tadi hujan,” Anthony Gonzalez memulai interaksi dengan para penonton.
    “Do it, Try It”, “Steve Mc Queen”, “We Own The Sky”, “Go”, hingga “Midnight City”, merupakan track-track selanjutnya yang tak menyurutkan antusiasme penonton untuk sing along dan bergoyang. Ditambah tata suara dan lampu cukup pas memberikan ambiens musik yang dimainkan Anthony Gonzalez, Jordan Lawlor, Loic Maurin, Joe Berry, dan Kaela Sinclair.
    Setelah encore, konser ditutup dengan tiga amunisi terakhir yang disiapkan M83 yakni “Solitude, “Couleurs” dan “Lower Your Eyelids to Die With The Sun” yang merupakan soundtrack film Divergent.

    Bottle Smoker
    Bottle Smoker
    Bottle Smoker
    Bottle Smoker
    M83 Jakarta
    M83
    M83 Jakarta
    Anthony Gonzales in Jakarta
    M83 Jakarta
    M83 Jakarta

    M83 Jakarta

    M83 Jakarta

    M83 11

    Berikut setlist M83 yang dimainkan:
    Reunion
    Do It, Try It
    Steve Mc Queen
    We Own The Sky
    Intro
    Walkway Blues
    Ok Pal
    Bibi The Dog
    Road Blaster
    Wait
    Oblivion
    Go
    Midnight City
    Echoes
    Outro
    —————————- Encore
    Solitude
    Couleurs
    Lower

    Tulisan oleh : Emirul “Otis”
    Foto oleh Kiosplay.