Review: Thursday Noise Vol: 9 | Release Party ‘Dramaturgi Underground’

event musikeventsReviews

Written by:

Sebuah barang wajib untuk datang saat melihat flyer yang dipublikasikan oleh akun resmi @morfem_band tentang Thursday Noise Vol 9. Sekaligus, pesta rilis album ketiga mereka bertajuk Dramaturgi Underground. Memang gaung promosinya terbilang tiba-tiba, tapi tidak merugi untuk menghadirinya. Pintu 365 Ecobar pun memampang poster besar berwarna merah berilustrasikan gestur tangan berbagai gaya gubahan Ahmad ‘Madfire’ Muarif.

Seperti biasa, Thursday Noise pasti membawa nama-nama baru di setiap edisi. Gascoigne salah satu namanya. Setelah membuat, mengutip kata Jimi Multhazam, “proyek semi-misterius” bernama Mutombo (R.I.P) Alvi Ifthikhar (vokal/gitar) bersama Dimaz Hafizhan (bass) dan Zaka Sandra Novian (drum) membuat trio indie-rock yang mengemban ilmu musik Stephen Malkmus dalam musikalitas mereka. Kemarin malam Gascoigne juga membawakan debut single mereka “Stolen War Emblem”. Berlanjut ke unit 70’s punk rock asal Bogor, The Jansen. Nama tersebut memang diadaptasi dari karakter film Rocket Rain yang juga kerabat tongkrongan The Kuda. Suara cempreng menyerukan “We Are Not Fear” tidak kuasa untuk barudak baris depan untuk moshing kecil-kecilan. Lalu ada The Rang Rangs yang ditunjuk khusus menjadi pembuka pertunjukan Morfem. Mungkin Descendents adalah salah satu dewa mereka. Terdengar kental di tiap-tiap lagu. Walaupun terbilang baru, tidak ada kecanggungan di antara personilnya. Malahan sebaliknya, begitu interaktif kepada penonton.

photo-4

Spesialnya di album ketiga, Morfem mengajak sepuluh seniman dalam projek ini diantaranya adalah, Aprilia Apsari (vokalis White Shoes and The Couples Company), Farid Stevy (vokalis FSTVLST), Ricky Malau, Marishka Soekarna, Argy Pradipta, Ahmad “Djali” Rizzali, Reza Pradipto, Gama Dwisetya, Ahmad “Madfire” Muarif, dan Rato Tanggela. Menjadi sebuah ciri khas Thursday Noise untuk tidak hanya menyaksikan pertunjukan musiknya saja, tapi juga menikmati karya dari sepuluh seniman visual dipamerkan di artwork display di sana.

Dibuka oleh “Jungkir Balik” sebuah single perdana yang diperdengarkan Morfem di kanal soundlcoud-nya. Sontak barisan depan porak poranda dibuatnya. Bagi kalian yang mengikuti Thursday Noise dari volume pertama hingga sekarang, pemandangan crowdsurfing yang begitu masif tercipta menjadi hal yang wajar. Lagu ini artworknya dikerjakan oleh seniman asal Yogya sekaligus vokalis dari FSTVLST, Farid Stevy. “Akhirnya rillis juge ye ndu setelah tiga tahun” ujar lega Jimi Multhazam kepada Pandu Fuzztoni setelah menempuh penantian panjang perilisan Dramaturgi Underground. Pasti banyak fase yang dilewati sewaktu proses pembuatannya. Produksi album ini dibantu dengan sentuhan cemerlang engineer kawakan Asmoro Djati dibagian mixing dan mastering-nya. Sedangkan proses rekaman instrumen ditangani oleh Wahyu HW. Banyak lagu baru yang belum terdengar familiar di kuping penonton tapi tidak membuat lainnya mati gaya. Dirilis satu hari sebelum, “Annabas Testudineus” single terbaru mereka ini diapresiasi meriah di area mosh pit kemarin. Ada pula menggubah ulang “Kuning” milik rumahsakit Jimi mengajak Marky, sebagai salah satu pentolan di band tersebut, untuk berkolaborasi mengisi departemen gitar. Kurang berwarna kalau tidak mendengar banyolan khas Jimi di sela-sela pegantian lagu, Buat yang mengira mereka tidak membawakan materi lama, kalian salah besar. Nyatanya sehabis “Seka Ingusmu” deretan lagu-lagu pamungkas pun tak luput dibawakan. “Gadis Suku Pedalaman”, “Pilih Sidang Atau Berdamai”, “Tidur Dimanapun Bermimpi Kapanpun” hingga penggalan tembang-tembang Ramones menjadi peluru terakhir penutup pesta rilis ini.

Menurut rilisan pers yang kami terima, kedepannya Jimi Multhazam berharap bisa membawa gigs Thursday Noise tur ke beberapa kota besar di Indonesia. Penampilan Morfem berikutnya dapat disaksikan di Go Ahead Challenge Artwarding Night 2016 tanggal 20 November 2016 di Gudang Sarinah Ekosistem. Morfem akan berkolaborasi dengan The Brandals, menjanjikan penampilan musik dan aksi panggung yang dahsyat.

Foto: Agung Hartamurti

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: