Ketika akhirnya inspeksi malam itu selesai kami sedang duduk-duduk menikmati sisa anggur di emperan depan gedung dan memergoki Zu, pemilik Musikamar, sebuah kios di Blok M Square sedang mendorong satu troli berisi plat. Rendi mencegatnya. Serentak kami mengaduk isi boksnya, dan sekilas menemukan diantaranya, Suede Dogman Star, Blur Parklife, Mew yang bersampul matador dan Daydream Nation-nya Sonic Youth.
“Masih banyak lagi di mobil, belum pada diangkutin,” kata Zu sebelum akhirnya dia pergi.
“Suede kira-kira dijual berapa tuh, ya?” tanya saya pada anak-anak.
“Paling tiga setengahan,” jawab Rendi.
“Bisa lebih mungkin,” kata Tarigan. “Tapi mahal emang plat nineties sekarang.”
“Semua plat, mah kayak tai sekarang,” balas saya tertawa. “Mahal!”
“Ya mau gimana dong?” Tarigan membuka tangannya tanda pasrah. “Barang yang beredar di sini hampir semuanya import… belum kena ongkos shipping, terus di Bea Cukai dipalak lagi”.
Lagian kalau lo lihat dari jaman dulu, piringan hitam emang udah termasuk barang istimewa di sini. Nggak semua orang bisa beli plat.
Di Indo, orang-orang berduit doang yang bisa menikmati. Sisanya cuma dengerin musik dari RRI atau bocoran radio BBC.
Turntable-nya aja pasti udah mahal banget. Memang bukan untuk konsumsi massal.”
“Sekarang juga plat masuknya pajak barang mewah kalau lo order di atas beberapa ratus dolar. Padahal dulu kita sempet punya pabrik buat bikin plat,” kata Rendi.
“Iya, bego dijual ke negara lain,” timpa saya.
“Itu juga mungkin salah satu cara supaya harga plat di sini jadi lebih murah. Bikin manufaktur. Jadi nggak harus keluar negeri terus. Tapi susah banget, sih pasti, harus cari investor yang tajir berat, konglomerat mafia gitu. Bikin proyek cuci uang, jual senjata bikin pabrik plat.”
Kami bertiga tertawa. “Dan,” sahut saya lagi, “moral pedagangnya kalau buat plat-plat second… Parah-parahan sekarang harganya. Jadi ngerusak hype-nya sendiri. Apalagi plat Indonesia!”
“Itu juga susah, tuh ngurusin moral… sama aja kayak bikin pabrik plat.”
Ya begitulah.
Yang kemudian tersisa dari RSD besok hanyalah seorang pecandu pas-pasan yang setiap hari ereksi dan berharap kalau hidup masih bisa memberikannya kebaikan. Semoga budaya konsumsi piringan hitam yang begitu dibesar-besarkan ini bisa memberinya pilihan-pilihan terbaik, masuk akal dengan dosis candu seperlunya. Kalau pun jika nantinya buruk, berarti dia kurang beruntung, atau masih terlalu bodoh. Kasihan.
Lalu berapa uang yang saya punya?
Menyedihkan.
– bersambung –
oleh Dr. Marto
Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016.
Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.
Sebenarnya kehadiran kami malam itu bukan untuk melakukan bongkar muat karena ternyata tidak ada satupun dari kami yang membawa barang dagangan untuk besok. Melainkan inspeksi; inilah saatnya membidik, mengincar, menaksir, mencari keuntungan lebih dulu sebelum Hari H dimulai. Saat itu saya sudah memutuskan untuk ikut serta dalam lapak anak-anak besok. Biayanya lima ratus ribu untuk satu lapak yang akan kita bagi berlima.
Ini untuk yang pertama kali, seperti yang Tarigan pernah katakan,
“Gue lebih suka tidak punya terlalu banyak plat, hanya satu lemari, tapi ketika membukanya dan menarik satu album saja, itu mampu membuat jantung deg-degan…”
dan saya sangat bersemangat untuk itu.
Suasana bongkar muat begitu sibuk. Gedung yang sehari-harinya berfungsi sebagai lapangan futsal sewaan sekarang diisi oleh lalu lalang orang yang sedang bersiap, dari meja kayu hingga neon sign didirikan. Termasuk juga beberapa pedagang yang sudah memajang barangnya – bertumpuk kilau kemilau, mengundang kita untuk segera datang mengaguminya.
Salah satunya Trash Shop milik Berry Akbar, vokalis Antiseptic, hardcore Jakarta pertama. Di lapaknya saya dan Tarigan sedang melihati sejumlah nama terbungkus plastik; saya menyisir kaset dan CD sambil menunggu Tarigan selesai mengurut boks piringan hitam. Kebanyakannya punk, hardcore, thrash serta beberapa pasang kecil grunge. Berry sendiri dengan sisa tato masa mudanya sedang acuh duduk di belakang meja; tampak sepucuk .45 hitam tersimpan di lengan kirinya.
Satu plat diangkat Tarigan.
“Ini salah satu yang penting,” katanya. “Body Count, first pressing Jerman. Lo lihat nih.”
Saya melongoknya. Tarigan membalikkan sampul hitam album itu dan meletakkan jari telunjuknya di urutan lagu terakhir debut pimpinan rapper Ice-T tersebut. Terbitan Sire Records tahun 1992. “Masih ada “Cop Killer”. Ini cetakan yang pertamanya, nih. Masih sealed lagi. Yang setelah ini udah nggak ada lagi lagu itu, di-banned gara-gara dianggap menghina. Lo tahu, kan?”
“Ya. All cops are bastards!” sahut saya.
“Ini berapa harganya, Ber?” tanya Tarigan.
“Tiga ratus.”
Tarigan menaruh lagi album itu dan menggosok dagunya. Saya jadi mengurungkan niat melihat-lihat boks setelah mendengar jawaban Berry tadi. Nampaknya itu kisaran harga plat-platnya. Tunggu saja besok. Tapi saya tidak bisa menanggalkan penglihatan terhadap deretan kasetnya; ada empat album hardcore punk awal The Lemonheads, tiga diantaranya rilisan Taang! Records dan debut Soundgarden tahun 1988, Ultramega OK keluaran SST, label rekaman milik gitaris Black Flag, Greg Ginn.
“Kalau lo mau tuh, Lemonheads ambil semuanya gua kasih gope,” cetus Berry.
Gila, pikir saya. Meski mungkin itu memang harga yang pantas tapi saya tidak akan mengeluarkan setengah juta untuk pita import suara Evan Dando tersebut. Sedangkan Soundgarden-nya dihargai seratus ribu. Saya menganggukinya. Bertahanlah malam ini. Jangan terpancing. Kita lihat dulu berapa banyak yang bisa dihasilkan besok, dan apa senjata yang akan saya bawa sebagai padanannya.
Lapak kami sendiri berada di ujung lorong ketiga dari pintu masuk, tidak begitu jauh darihadapan panggung yang sedang dibangun. Mejanya kosong. Hanya berdiri dua botol Intisari, perbekalan milik Paz yang perlahan habis kami teguki sambil bolak balik berkeliling dari lapak ke lapak, yang belum banyak berdiri sebetulnya. Tapi saya melihat Paz mengangkat Can, Tago Mago ketika Daniel Mardhany, CEO Alaium Records menghampiri sambil menawari sativa-vape. Saya gantian menyodorkannya cawan anggur. Dia baru saja memborong, katanya.
“Lagi banyak diskonan, tuh di Monka.. Husker Du, punk-punk 80s dijual cuma dua ratus – dua ratus lima puluh ribuan. Gua udah beli tujuh barusan. Ngepet, nih Alpra emang..,” cerocosnya.
Dua ratus ribu dikali tujuh berarti satu koma empat juta. Sadis. Andai upah menulis satu cerita mampu mencapai sepertiga saja honor sekali panggung Dead Squad pasti saya sudah menghambur, ikut menguras lapak Monka Magic saat itu juga. Meski kebanyakan pressing ulang, tapi pasti masih sealed. Sial. Dan sejujurnya, itu angka yang bagus untuk ukuran hari ini di mana seratus ribu rupiah tidak lagi bernilai, bahkan untuk plat bekas classic rock pasaran.
Tapi agenda belanja saya berbeda dengan Daniel. Milik saya – dengan menyesuaikan alasan personal seperti cekak – lebih mengutamakan kecermatan. Ini belum lagi waktu yang tepat untuk ‘lo jual – gua beli’. Saya sudah lama meninggalkan ajaran itu sehingga memutuskan agenda kali ini harus benar-benar dibatasi, secara pintar dan efektif, serta sesuai selera, tentu saja. Menanggalkan unsur gelap mata jauh-jauh, meskipun harga dan nilai barang yang didapat nanti bisa dianggap sebanding.
Pun jika tidak ingin terbebani, incaran yang masuk hitungan saat itu sebenarnya hanyalah harta karun barang obralan. Termasuk kalau beruntung, nama-nama dunia ketiga yang tidak dikenal tapi punya musik gila yang luput dari perhatian pedagang. Misalnya, Drugi Nacin atau Erkin Koray atau Churcill’s. Cetakan paling pertamanya kalau bisa, itu sangat, sangat diutamakan. Beri saya Les Goths – Reve De Silence!
Sayangnya itu hampir mustahil, mengingat akhir-akhir ini makin banyaknya pedagang pintar karena internet, dan gerakan pukul rata ‘dua ratus ribu’ untuk LP barat standar. Kecuali kalian masih mencari yang model The Cars, Carpenters atau The Best of Cat Stevens dengan kondisi bekas dan lapuk.
Dan, jangan lupakan juga: piringan hitam tujuh inci – donat yang paling seksi, dan paling renyah di Record Store Day ini.
Saya ingat suatu kali seorang teman baik, Samson Pho, pemilik Laid Back Blues Records, pernah mengatakan ini:
“Lo harus inget, tidak ada batasan uang untuk hobi, atau untuk sesuatu yang kita cintai.”
Ya saya sangat mencintainya – cetakan-cetakan musik ini, seperti Bani Israel dulu menciumi kepala-kepala sapi dari emas. Tapi ekonomi sedang merosot, teman… dan tren rekaman fisik ini membuat perut saya agak mual. Terlalu dibesar-besarkan dan dimanfaatkan. Harganya, sialan. Itu maksudnya.
Saya ingat dua tahun lalu masih bisa mendapat Bob Dylan Highway 61 Revisited seharga lima puluh ribu, jumlah sama yang Samson keluarkan untuk MC5 Back In The USA. Bahkan Lou Reed Transformers bisa ditebus hanya dengan empat puluh ribu! Iron Maiden Powerslave? Seratus ribu saja. Bekas memang, tapi kondisinya cukup mulus untuk ukuran cetakan yang sudah dirilis lebih dari empat puluh tahun lalu.
Kapan kearifan pedagang lokal macam itu bisa terjadi lagi?
Tidak akan pernah. Zaman cepat berubah, itu sudah berlalu. Orang rakus dan bodoh makin banyak. Sekarang harga album-album tadi sudah menggila, menembus dua ratus lima puluh ribu, mungkin. Tapi, kalau mau.. ini kalau benar-benar mau, kita bisa mengulanginya lagi dengan memulai dari diri sendiri: Jual piringan hitam dengan harga murah! Dan bukankah Record Store Day adalah waktu yang tepat untuk melakukan itu, ketika semua orang datang untuk merayakan keseksian rekaman fisik dengan menghabiskan uang mereka?
Tarigan pernah menceritakan pengalamannya mengunjungi sebuah Record Fair di New York, AS yang diadakan di atas lapangan sepakbola dan menemukan kalau para pedagangnya juga menjual album-album yang dihargai hanya satu sampai lima dolar.
“Untuk masuknya aja lo harus bayar sekitar dua dolar. Itu lo bisa nemuin Beatles, Stones atau Dylan, yang standar-standar begitu dengan harga murah. Nggak kayak di sini, udah pasti nggak ada,” katanya. “Bahkan pas ke Amoeba di SF, itu lo bisa ambil plat-plat bekas di belakang gedung mereka yang emang sengaja digeletakin begitu aja. Udah nggak mulus lagi, tapi masih berbentuk. Gue sempet ambil beberapa, kayak Beach Boys yang Pet Sounds, Neil Young, Sabbath, lumayan buat oleh-oleh gratis ke anak-anak.”
Nah, mungkin seharusnya, atau seyogyanya seperti itu yang terjadi. Harga rekaman di Record Fair bisa lebih santai dengan yang biasanya dijual sehari-hari di toko. Jadi tidak semata-mata pengerukan keuntungan, tapi juga mengutamakan unsur bahagia perayaannya. Atau yang saya maksud adalah sejenis kebaikan hati, seperti halnya hadiah Santa Claus pada malam Natal (Record Store Day bisa diangap sebagai hari raya, kan?). Karena kalau mau kurang ajar, bagi para pemadat berlibido tinggi – yang akan beli apa saja, terutama yang murah – mereka inilah germonya: para pedagang. Ditambah lagi anak-anak ini sedang kecanduan, kepada merekalah libido akan digantungkan dalam dua hari nanti.
Tapi sekali germo tetap germo. Mereka berdagang, menjajakan kenikmatan itu kepada kita. Hidup dari situ, memberi makan anak-istri, dan tentu ada banyak perhitungan di sana, lebih banyak dari sekadar alasan sentimentil milik saya tadi: modal, balik modal, perjudian harga, koleksi pribadi, uang sewa, barang titipan, barang pesanan, barang barteran, barang baru angkat, barang timbunan, yang semuanya diwajibkan HARUS UNTUNG… yang, mau tidak mau, ya harus kita mengerti juga (?).
Saya benci sok pintar tapi tahu teori jahanam ini dari berselancar di internet:
‘Semakin tinggi harga, semakin banyak jumlah barang yang bersedia ditawarkan. Sebaliknya, semakin rendah tingkat harga, semakin sedikit jumlah barang yang bersedia ditawarkan’.
Menguntungkan bagi pedagang memang, dan pastinya juga pembeli, ditambah lagi mereka sedang kerasukan. Tapi juga mencekik di satu sisi. Rasanya seperti digiring menuju lubang pemusnahan: tren sedang berada di tingkat puncak, mau barang apa saja ada, sumber kalian galaksi dunia maya. Konsumen ereksi. Tiga ratus ribu? Lima ratus? Satu juta lebih? Tiga juta?! Bayar! Uang tidak ada artinya, bisa dicari besok. Babat. Puaskan. Muncratkan. Buat senyum para germo itu berseri.
Kecut dan sinis, atau mungkin memang benar, kita sedang dimanfaatkan. ‘Beli terus sampai mampus!’, dan tolong (jangan) tetap bodoh. Kenaikan harga plat yang mulai tidak masuk akal ini harus segera dihentikan dan disadari, terutama untuk plat bekas yang didapat secara murah dari lingkaran dalam, bongkaran radio bangkrut tiga puluh ribuan atau cuci gudang kolektor tobat.
Dan kalau mereka mendapatkannya dengan memborong dari luar negeri atau dari pedagang lain, jangan lantas disamakan dengan harga barang sealed yang sesungguhnya. Itu jenis ketamakkan kelas kakap. Piringan hitam bukan barang istimewa, jangan terlalu dikultuskan, atau paling tidak anggap saja seperti itu.
– bersambung –
oleh Dr. Marto
Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016.
Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.
‘Joni is about four letter words: It’s a J, like a Jay… and the O, like ‘oh my god’… and N, it’s like narcotics… and I, it’s like ‘I wanna be Johnny…’
Bazaar RSD 2015 berlokasi di gedung bekas Golden Truly, Blok M tepat di jantung Selatan kota Jakarta tempat babi-babi cokelat bermarkas. Kami sedang menanti lampu hijau di antrian perempatan Melawai ketika saya dan Rendi kembali merokok bunga tanpa membuka kaca jendela, yang dimaklumi Tarigan dan Acum yang sudah lama berhenti merokok itu. Stereo memutar Blueboy, “Imipramine”.
“Vid, gua nemu band lokal keren nih,” kata Rendi menancapkan kabel aux. “Agak mirip Stereolab, vokal sama intronya.”
Tarigan hanya mengangguk, tapi Acum penasaran ketika lagunya terputar, yang ternyata memang benar mirip band Slumberland Records tersebut. Psyche rock ringan dengan duet vokal lelaki dan perempuan khas indie-pop yang serasi.
“Apa namanya?” tanya Acum.
“Flash,” jawab Andy sambil mengoper bunga ke belakang, dia menyentuh tanda forward, “tapi musiknya berubah-ubah. Coba lo dengerin yang ini, deh.”
Benar, musiknya sekarang terdengar lebih gelap, psychedelic muram dengan vokal yang menerawang. Yang begini ini sedang mewabah, pikir saya; anak-anak penanda zaman yang kalau disebut hipster rasanya terlalu berdosa. Kita bisa mendengarnya sesering dulu peniru Julian Casablanca sibuk bertebaran, minum anggur murah dengan rambut berantakan dan Converse merah mereka. Kini, semua orang berlagak jadi hippie kaki telanjang-nya Kevin Parker, atau yang paling gampang, Lou Reed begitu membentuk band, kembali ke 60an dan menenggak anti-deppresant. Berlomba-lomba mengawang.
Kemudian Rendi mengganti lagi lagunya. “Nah, yang ini coba… Pengen gua bikinin seven inch-nya kalau bisa.”
“Siapa lagi?”
“Lo coba dengerin aja. Kemarin gua kasih denger ke Rio, dia juga nggak nyangka ini siapa awalnya.”
Saya yang duduk di belakang cuma cengengesan mendengar ocehan itu, karena sudah tahu. Sebenarnya Rendi sedang melihat peluang bisnis di sana, dan Tarigan yang sedang digodanya. Sementara mobil masih merayap, Tarigan langsung tertawa keras ketika suara moog pembuka lagunya dimulai. Dia tampak mengenali bebunyiannya dengan sangat jelas.
“Taiiii, denger dari mana lo nih?”
Rendi tertawa puas. Saya dan Acum juga. “Jadi mau nggak kalau dibikinin donat-nya, Vid?” tanya saya.
“Nggak tahu di mana masternya, masih ada yang nyimpen kalau nggak salah. Mesti dicari dulu. Itu lo denger darimana, Soundcloud?”
“Iya, dari akunnya si Iyo. Cuma ada satu lagu ini doang,” jawab Rendi.
“Anjing.. “Electricalia”, itu tai banget. Ngasal dulu rekamannya…”
Dan kata-kata sudah mulai keluar dari mulut Tarigan. Pria yang telah memeluk musik, mengimaninya ibarat memberi luka tambahan berbunyi ‘blues’ di lengan kiri kalung Yesus-nya yang tertancap paku; dia menggali artefaknya, menyimpan, menjaganya seperti emas 666 karat sekaligus memproduseri, perpustakaan berjalan, pengarsip, pengadil, penulis, gitaris, DJ, penyiar, ahli sejarah rock yang disegani dan tokoh penting kancah independen lokal. Dia seperti John Peel bagi Indonesia. Dick Tamimi era Instagram. Aksara Records.
Serta yang paling menyenangkan, selain wawasan dan pengalamannya yang luas, Tarigan juga seorang pencerita yang sangat baik. Seolah memori otaknya beratus giga byte. Suaranya yang berat dan hangat serta gerak tubuhnya yang digesturkan membuatnya terlihat begitu menarik. Kita tidak akan bosan mendengarkan ceritanya satu per satu. Dan untuk itu tidak perlu menunggu lama lagi. Tinggal pancing sedikit saja, maka dia akan mengalir dengan sendirinya.
“Gua paling inget lagu yang di kompilasi Ticket To Ride,” kata saya.
Tarigan tertawa. “Itu lagi!” katanya, “paling jelek rekamannya si Jonis di album itu. Cuma pakai empat track doang, masih pita. Rekamannya juga cuma di taman depan rumahnya si Iyo. Anak-anak pada duduk-duduk di rumput gitu… drumnya nggak pakai simbal sama hi-hat… gitar yang gue pake juga cuma lima senar. Itu beneran asal, parah… senarnya karatan lagi. Ngaco pokoknya.”
“Anjing, sih… Si iyo tuh nyanyinya pakai teks, ya? Kayak lagi baca novel bokep gitu.”
“Nggak ada… udah ngarang aja dia, ngarang bahasa Prancis. Nggak ada artinya juga. Iyo sampe tidur-tiduran nyanyinya di rumput.” Tawanya melebar. “Lo tahu, kan pas lagi mulai lagunya…,” Tarigan menyuarakan suara intro drum dengan mulutnya, kedua tangannya pun otomatis air drumming menyalakan dentum tom, “itu ada, ‘ough, smoke..’, gara-gara pas mau mulai nyanyi, dia ngebakar rokok tapi asapnya kebanyakan…”
“Punya berapa lagu, sih Jonis?”
“Asal manggung buat satu lagu, jadi setiap manggung kita selalu buat lagu baru. Punya lima atau enam, gitu…”
The Jonis adalah band psychedelic-trip gila berumur pendek yang didirikan Tarigan pada akhir tahun 90an di Bandung. Mereka kurang suka merekam dengan layak dan secara tidak jelas berhenti aktif, mungkin di tahun 2005. Tarigan sendiri lupa kapan tepatnya. Musiknya lebih maju satu setengah dekade dari kancahnya dengan mencampurkan dekadensi beatnik dan eksotisnya psikotropika masa muda. Aksi mereka sensasional, termasuk menggaet gadis-gadis pemandu sorak ke atas panggung, dan Iyo, penyanyinya yang berkostum singlet – bercelana voli pendek mirip Pablo Escobar kerempeng, berjoget kejang nan erotis bagai Ian Curtis berpotongan rambut Iwan Krisnawan, drummer pertama The Rollies yang kecanduan meth. Persis deskripsi Tarigan dalam Inggris nyeret pada dokumenter singkat Ticket To Ride empat belas tahun silam.
‘Joni is about four letter words: It’s a J, like a Jay… and the O, like ‘oh my god’… and N, it’s like narcotics… and I, it’s like ‘I wanna be Johnny…’
-bersambung-
Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016.
Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.
Tidakkah kita muak selama ini dibudaki oleh uang? Terus dicambuki hingga lupa diri?
Dan dalam kondisi keuangan yang tidak cukup kuat untuk mengadu kebutuhan jiwa dengan orkes keroncong perut, yang paling bisa dilakukan adalah dengan cara meminimkan penggunaannya, dan manfaatkan apa saja benda yang kita punya untuk mendapatkan benda lainnya yang kita inginkan; buat Noam Chomsky bangga atas hasil kerjanya selama ini.
At one point, music was everything to me. Then suddenly it wasn’t and something else was there, and that was something destructive and damaging.
Dylan Carlson
Orde barter dan seberapa banyak Rp. 500.000 bisa bicara di Record Store Day tahun ini? tahun 2015.
Baiklah, yang satu ini akan panjang… Sehari sebelum Record Store Day kami sedang merambat di sepanjang pembangunan flyover keparat Pierre Tendean yang membuat saya dan seorang teman baik, Rendi Pratama tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak merokok. Itu Jum’at di sore hari, Jakarta pada jam terkutuknya. Kalian yang biasa pulang kantor melalui jalur itu pasti tahu bagaimana perasaan yang sedang dihadapi; mengantri bersama ratusan kendaraan yang sama tidak sabarannya, bus kota yang kasar, dan IQ jongkok penunggang sepeda motor yang terus menghimpit minta jalan.
Rendi adalah pria dua puluh tujuh tahun, skateboarder amatir yang menghabiskan masa kuliahnya di Bandung dengan bermimpi membentuk band psyche teler dan menghormati Blur sebagai grup yang mengubah hidupnya. Saya mengenalnya pertama kali di sebuah Record Fair beberapa tahun lalu setelah dia menghadiahi begitu saja plat Revolver The Beatles yang sedang saya tawar di lapaknya. Pemberian yang tidak terlalu buruk untuk seorang yang sama sekali asing. Saya sendiri belum punya album itu. Tapi dasar alkohol, ketika suatu kali saya mengungkit, dia mengaku lupa pernah melakukannya, “Gua udah hilang aja waktu itu, gila, gara-gara sake yang dibawa anak-anak,” saya masih ingat kata-katanya.
Sekarang kami sedang berada di dalam sedan BMW perak seri lima yang berbintik lumpur menuju Blok M Square, pusat toko rekaman terbesar di kota ini. Kaca jendela dibuka, dan kami semacam tidak peduli risiko bronkitis dari kombinasi mematikan, kepulan nikotin dan pendingin udara yang tetap dibiarkan menyala.
“Coba kita lihat dulu ada apaan aja di Blok M. Pedagang lagi pada milihin barang buat loading Record Store Day malam ini,” kata Rendi dengan kacamata hitam pelindung retina merahnya seketika saya menyadari suara musik dari balik stereo.
“Siapa ini?” seperti Fugazi tapi versi lebih gelisah dan muram, pikir saya sambil meniup abu dari rokok bunga yang pertama hari itu.
“Slint,” jawabnya. “Anjing, lo harus baca suicide note gitarisnya, David Pajo, bekas Zwan juga. Tai banget isinya.”
“Belum baca.”
“Nih, gua search. Handphone lo kacrut, bangsat, buang aja,” balasnya.
Laju speedometer tersendat, hanya berkisar sepuluh sampai dua puluh kilometer per jam yang membuat Rendi cukup leluasa dan aman untuk menyetir sambil menekuri layar genggamnya. Menyesap lagi asap bunga. Kemudian dia menyerahkan surat bunuh diri itu sambil mengganti nada ke arah yang lebih tepat untuk kondisi macet dan tajamnya aroma ini: Manfred Mann’s Chapter III, progresif – jazz down tempo dengan stoned-bass line mata segaris.
“Gila.. kasihan dia, mau mati gara-gara cinta,” saya membacakan, “‘I, however, am the same person you chose to marry and have children with, at one point of your life. A loner arty dude’.” Saya menghabiskan surat itu. “Ngentiauw nih kalimat terakhirnya… ‘I never cheated on you the entire decade we were together. I truly hope you find loyalty like that again. You, Alina and Lucas were all i ever wanted. And for a moment, in a group hug, all my dreams came into fruition. I am so thankful for that moment. I will always have that. I will carry it with me where I am going’.”
Saya tertawa.
“Fruition apa sih artinya?”
“Lihat aja di kamus, gua nggak tahu,” jawab Rendi.
Sebegitu banyaknya kios rekaman di Blok M Square, begitu sampai kami langsung menuju tempat yang paling efektif untuk plat Indonesia, menurut Rendi, Kucluk Music Corner milik seorang pria sederhana bernama Ari, yang ketika kami datangi sedang memisahkan sejumlah plat. Di tumpukan kiri terdapat plat-plat Indonesia 60-80an kelas atas – dalam hal ini harganya.
Tidak pakai lama Rendi sudah berjongkok dan mengurut tumpukan itu satu per satu. Saya mengintip dari balik bahunya, kondisi mulus: ada Chrisye yang Sendiri, Dara Puspita Djang Pertama, Koes Plus Vol II, Oma Irama, Kus Bersaudara album pertama dan sekitar delapan plat lagi ke bawah. Kretek Surya Pro-nya dibakar, Rendi menggaruk-garuk kepalanya dan mengangkat satu plat ke atas.
Sampulnya menampilkan enam pria dengan cutbray mencolok sedang berpose bersama Mercedes Benz tua warna emas usang. Di belakangnya melebar spanduk: ”Let Me Show My Way” – “Anti Gandja”. The Brims, anggota Brigadir Mobil Polisi – Brims berasal dari Brimob – yang diberi misi spesial: menulis mars narkotika bagi generasi muda.
Album itu dikeluarkan tahun 1972 ketika bahaya laten ‘ngak ngik ngok’ sudah tidak berlaku lagi, dan segenap obat-obatan terutama ganja mulai beredar mudah di masyarakat. Hilangnya tekanan anti kapitalis – imperialis membuat tidak ada lagi penjara karena memainkan rock & roll. Indonesia sedang membuka diri. Dan energi rock lokal yang tertahan selama Orde Lama, semua semangat barat yang diserap secara diam-diam pada era Soekarno pun mengalir deras.
Hasilnya, rock paling paradoks yang pernah dimiliki bangsa ini: “Anti Gandja”, psikadelia berisi teriakan erotis, batuk bajing, dentuman kaleng drum trippy dan segenap layer organ yang menerawang. Muatannya mungkin sama seperti enam inspektur yang berbagi selinting gendut sebelum rekaman, atau bisa jadi lebih, karena getaran dan sugestinya begitu terasa.
Rendi melihat label warna hijau berbunyi 1200 di pojok atas plastiknya. Alisnya mengerut, tapi tetap dipisahkan dari tumpukan. Kemudian dia mengangkat satu lagi, tanpa sampul. Promotional Copy, keluaran Musica Studios.
“Lo tahu kan, Io cerita band ini?” katanya.
“Apa namanya?”
“Lo lihat aja,” Rendi menyerahkan platnya. “Judulnya Eloi! Lama Sabbactani! Keren ini band. Jadi anak-anak ITB dikumpulin gitu aja, terus disuruh masuk studio sama Musica, langsung rekaman. Sebelumnya mereka belum pada punya lagu.”
“Njing, aneh banget ini nama bandnya.”
“Coba deh nanti tanya Tarigan, kemarin dia nyeritain gitu, terus ngasih lihat foto-fotonya. Salah satu personelnya, gua lupa siapanya, itu oom dari istrinya,” Rendi tertawa, “hippie-hippie lokal tahun 70an, foto sama bule-bule, joget-joget pada nggak pake BH. Orang gila semuanya itu.”
“Yang main gitarnya, Cok Rampal,” selah Ari.
“Ini berapa, Ri? Gua mau nih kalau yang ini,” sengat Rendi langsung.
Ari mengangkat kelima jari kirinya, tersenyum. Itu harganya. Rasanya cukup mahal. Rendi pun menarik matanya, lalu mencari jalan keluar dengan menawarkan beberapa plat baratnya untuk ditukar. Ari, sambil sibuk membereskan barang dagangannya tampak kurang tertarik. Kualitas katalog baratnya sudah dirasa lebih dari cukup. “Lagian gua baru ngangkat plat juga kemarin,” katanya.
Di saat itulah saya yang sedang mengaduk-ngaduk dua boks di depan kios menemukan AKA Shake Me yang masih mulus terselip diantara album campuran barat-Indonesia di dalamnya. Bandrol di pojok kanannya berbunyi 1000. Saya belum punya satupun rilisan plat AKA, hanya kaset yang In Rock, tapi melihat angkanya tadi membuat saya langsung berpikir tentang biaya sewa tempat tinggal. Bangsat. Bahkan kalau ditawar pun rasanya tidak akan turun lebih dari dua ratus.
Warna hijau sampul Shake Me ini garang. Keluaran Indra Records di tahun 1975. Ujung rambut Arthur Kaunang menjuntai hingga ke dadanya, mengintimidasi dengan wajah keras penuh ranjau jerawat di paling kanan. Di pojok kiri, suara Ucok mengiang-ngiang dari belakang kepala…
‘Boys.. Do you like grass? No! Do you like morphine? No! Do you like LSD? No! Do you like stoned? No! Do you like sex? Yeaaah!’
Ngens. Funk narkotika. Ucok menenggak semuanya. Lelaki kribo itu selalu tahu bagaimana bintang rock seharusnya berlagak. Nakal, genit, sekaligus bajingan tulen. Sang bocah tua dengan istri sembilan dan aksi seminal: dicambuk bagai budak masokis, masuk peti mati, digantung terbalik, kemaluan menyenggamai organ; Ucok Harahap, dia orang gila, kebanyakan stok anak majikan Apotek Kali Asin.
‘Make it higher… Make it higher… Make it higher… Make it higher’
Tapi saya menyerah dan menunjukkan plat itu ke Rendi yang langsung mengambil dan memeriksa kondisinya. Licin. Kemudian dia terdiam sebentar, sejenak berpikir, lalu bidikan akhirnya difokuskan pada AKA dan The Brims saja. Dan mulailah mereka merayu harga – tradisi tarik ulur yang selalu menyenangkan dan seru setiap kali kita membeli di pasar loak seperti ini.
“Udah, lo ambil aja plat-plat barat gua nanti gampang nambahnya,” Rendi masih mencoba, karena itu memang lebih menguntungkannya, “gua udah mentok ngumpulin barat.. mau apa lagi, begitu-begitu aja juga.”
Ari cuma senyam-senyum sambil menyusun deretan kaset di bagian depan tokonya. “Tuh, Udin baru dapat banyak Indonesia. Kalau nggak salah kemaren, coba lo cek aja.”
Udin adalah pedagang gaek yang dulu lama bercokol di Jalan Surabaya dan sekarang membuka toko di Blok M. Tempatnya hanya berjarak satu blok dari Ari. Rendi pergi mendatanginya lalu tak lama kembali dengan tangan kosong. Kepalanya menggeleng, tidak ada satupun plat yang cocok di sana. Dan seakan tidak mau bertele lagi dia langsung memberi tawaran yang saya yakin akan membuat Ari berpikir ulang untuk tidak melepas dua album tadi.
Tapi saya enggan mencampuri urusan pribadi mereka itu dengan menguping. Jadi sambil menunggu proses negosiasi berlangsung saya berkeliling dan mendarat di sebuah kios buku setelah melihat Kata-Kata, otobiografi Jean Paul-Sartre terjemahan Indonesia. Lalu tidak jadi beli karena tawaran lima puluh ribu saya dimentahkan penjualnya. Harga bukunya sendiri pas tidak bisa kurang dari tujuh puluh lima ribu. Saya juga melihat Bromocorah Mochtar Lubis dan Sampar Albert Camus.
Meninggalkan Sartre saya menemukan lagi Rendi sedang mencoba beberapa plat di Kims Varia Records milik seorang pria bungkuk kisaran 40 yang cukup aktif berbicara dan kocak, namanya Gun. Katalog tokonya, selain cukup banyak Indonesia – satu yang teringat, Coconut Band, kolega Papua Black Brothers, juga banyak classic rock barat.
Ternyata saat itu Rendi sudah mencapai kesepakatan untuk sebuah album Eka Djaya Combo tanpa sampul yang sedang dimasukkannya ke dalam tas, bersanding bersama AKA dan The Brims yang tadi.
“Kena berapa tadi di Ari?” saya menghampiri.
“Dua, satu setengah,” bisiknya.
Saya tertawa kecil. “Good deal. Lagian lagu yang enak cuma satu, selebihnya Melayu semua. Lo jual lagi bisa laku 2000 dolar, tuh,” balas saya juga dengan pelan.
Selanjutnya kami cabut menuju Panglima Polim demi memenuhi undangan Fadli Aat, seorang kolektor kawakan, store manager Monka Magic, DJ Diskoria dan bekas pemain bas Stepforward untuk sebuah bincang-bincang piringan hitam yang diadakan kantor berita Detik, di mana Tarigan akan menjadi pembicara bersama Rian Ekky Pradipta, bintang pop melankolis andalan Musica Studios, D’masiv.
Tidak banyak yang didapat dari bincang-bincang itu – hanya Tarigan yang bercerita pada media awam, lagi-lagi tentang sejarah plat, tren dan perbedaan suaranya dengan jenis fisik lainnya, yang sudah bosan saya dengar. Dia juga sekilas menyebut Irama Nusantara, situs sentral musik Indonesia era 50’ hingga 70’; sesuatu yang sangat dibutuhkan tapi dilupakan banyak orang. Sementara Rian, yang baru rajin membeli sejak tiga tahun terakhir mengaku mulai ikut-ikutan memusatkan perhatian dari sebangsa Oasis atau Divine Comedy, ke plat-plat Indonesia.
Demi melestarikan kekayaan musik bangsa, katanya.
“…dan investasi,” lanjutnya sambil tersenyum di depan kamera.
Kolektor model begini ini yang bahaya, pikir saya. Rian mengaku pernah punya sekitar empat plat Badai Pasti Berlalu, yang sebenarnya sah-sah saja, toh dia punya banyak uang dari hasil menyanyi, tapi kemudian, “Gua jual ada yang laku lima juta,” akunya masih di depan kamera, yang sah-sah saja juga karena itu jelas plat miliknya, mau dibakar pun atau dijadikan raket tenis meja sekalian juga kita tidak berhak. Rendi bilang harga pasaran plat soundtrack itu sekarang satu sampai satu setengah juta rupiah.
Kita tahu praktek seperti itu sudah terjadi sejak dulu, dan mungkin juga sedang melakukannya sekarang: sengaja memiliki album yang sama lebih dari satu. Tapi menurut saya inilah imbas dari sebuah tren, dan kalau etikanya seperti itu berarti kita sedang membunuhi diri sendiri dengan setiap kolektor yang bertindak sebagai pebisnis dadakan dan membuat barang langka semakin lenyap dari lapangan, untuk kemudian muncul lagi dengan harga dua atau tiga kali lipat lebih tinggi dari pasaran biasanya. Itu mengesalkan, tentu saja. Terutama untuk plat Indonesia. Kecuali pedagang, apa yang membuat seseorang ingin punya satu album yang sama lebih dari dua biji, penimbun? kolektor? fans berat? senjata barter?
Tapi tidak ada yang bisa disalahkan juga dari kondisi tersebut. Sial saja kalian kolektor lain yang juga menginginkannya tapi tidak bertindak lebih cepat, karena di saat itulah naluri ketamakkan sekaligus kecerdasan ekonomi seorang manusia sedang diperlihatkan.
Malam itu adalah waktunya bongkar muat bagi seluruh kegiatan Record Store Day tahun ini, yang artinya semua barang yang akan dijual besok akan ditaruh oleh para pedagang. Kami berencana menyambanginya. Saat itu Acum, penyanyi Bangkutaman yang datang menenteng LP Hoodoo Gurus, Stoneage Romeos dan seorang teman lagi, Paz, pria tambun dengan tahi lalat Rano Karno di dagunya, sudah bergabung. Sebenarnya juga mereka; Rendi, Tarigan, Acum dan Paz telah menyewa satu lapak demi Record Store Day besok. Untuk jualan plat, tentu saja. Karena bagi mereka inilah saatnya, gairah bazaar rekaman, ajang yang sekaligus potensial untuk meraup keuntungan sebanyak mungkin, baik secara bisnis maupun passion.
Kalau kata Tarigan, ‘kita jual untuk beli lagi’.
Bagi saya yang tidak pernah menjual plat karena alasan sentimentil seperti ‘terlalu sayang’ atau ‘ingat momen ketika mendapatkannya’, selain juga karena koleksi yang belum banyak, ide tersebut langsung masuk akal: ‘jual untuk beli lagi’. ‘Meng-upgrade koleksi’, kalau menuruti logika. Apalagi dengan situasi harga plat yang meroket drastis dalam tiga tahun terakhir. Grafik trennya menyebalkan. Kenaikkannya cukup tinggi, paling tidak untuk ukuran saya, seorang yang mengandalkan hidup dari penghasilan bulanan tak jauh dari nilai LP Philosophy Gang di pedagang lokal dengan menulis cerita serabutan seperti ini.
Ide tadi juga sebuah jalan keluar. Hentikan romantisme isi rak di kamar. Lagipula bosan sudah mendengarkan album yang itu-itu lagi. Terakhir kali saya membeli LP adalah tujuh bulan lalu, ketika tidak kuasa menahan nafsu atas Reinventing The Steel, album terakhir Pantera bersegel ulang 180 Gram Rhino di Quickening, sebuah toko dengan spesialisasi hardcore/punk seharga dua ratus lima puluh ribu, itupun setelah mendapat diskon 25% dari manajer tokonya.
Lalu cari untung sedikit itu perlu, hitung-hitung sebagai tambahan kalau nanti ada rekaman classic punk yang ditaksir, karena saya pasti tidak akan tahan birahi menyaksikan ribuan album bertebaran tapi tidak punya kuasa untuk memperolehnya. Dan saya beritahu, itu menyesakkan.
Atau sekalian saja, tukar. Kembali ke zaman purba. Kita tidak harus keluar uang, hanya perlu mengandalkan insting dan kejelian, serta tentu saja kecerdasan dalam bernegosiasi: dua banding satu, sikat, atau tiga banding satu juga boleh, asal lihat dulu kualitas plat lawannya.
– bersambung –
oleh Dr. Marto
Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016.
Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.