Orde barter dan seberapa banyak Rp. 500.000 bisa bicara di Record Store Day tahun ini?

Artikel/Opini

Written by:

Tidakkah kita muak selama ini dibudaki oleh uang? Terus dicambuki hingga lupa diri?
Dan dalam kondisi keuangan yang tidak cukup kuat untuk mengadu kebutuhan jiwa dengan orkes keroncong perut, yang paling bisa dilakukan adalah dengan cara meminimkan penggunaannya, dan manfaatkan apa saja benda yang kita punya untuk mendapatkan benda lainnya yang kita inginkan; buat Noam Chomsky bangga atas hasil kerjanya selama ini.

At one point, music was everything to me. Then suddenly it wasn’t and something else was there, and that was something destructive and damaging.
Dylan Carlson

Orde barter dan seberapa banyak Rp. 500.000 bisa bicara di Record Store Day tahun ini? tahun 2015.

Baiklah, yang satu ini akan panjang… Sehari sebelum Record Store Day kami sedang merambat di sepanjang pembangunan flyover keparat Pierre Tendean yang membuat saya dan seorang teman baik, Rendi Pratama tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak merokok. Itu Jum’at di sore hari, Jakarta pada jam terkutuknya. Kalian yang biasa pulang kantor melalui jalur itu pasti tahu bagaimana perasaan yang sedang dihadapi; mengantri bersama ratusan kendaraan yang sama tidak sabarannya, bus kota yang kasar, dan IQ jongkok penunggang sepeda motor yang terus menghimpit minta jalan.
Rendi adalah pria dua puluh tujuh tahun, skateboarder amatir yang menghabiskan masa kuliahnya di Bandung dengan bermimpi membentuk band psyche teler dan menghormati Blur sebagai grup yang mengubah hidupnya. Saya mengenalnya pertama kali di sebuah Record Fair beberapa tahun lalu setelah dia menghadiahi begitu saja plat Revolver The Beatles yang sedang saya tawar di lapaknya. Pemberian yang tidak terlalu buruk untuk seorang yang sama sekali asing. Saya sendiri belum punya album itu. Tapi dasar alkohol, ketika suatu kali saya mengungkit, dia mengaku lupa pernah melakukannya, “Gua udah hilang aja waktu itu, gila, gara-gara sake yang dibawa anak-anak,” saya masih ingat kata-katanya.

Sekarang kami sedang berada di dalam sedan BMW perak seri lima yang berbintik lumpur menuju Blok M Square, pusat toko rekaman terbesar di kota ini. Kaca jendela dibuka, dan kami semacam tidak peduli risiko bronkitis dari kombinasi mematikan, kepulan nikotin dan pendingin udara yang tetap dibiarkan menyala.

“Coba kita lihat dulu ada apaan aja di Blok M. Pedagang lagi pada milihin barang buat loading Record Store Day malam ini,” kata Rendi dengan kacamata hitam pelindung retina merahnya seketika saya menyadari suara musik dari balik stereo.

“Siapa ini?” seperti Fugazi tapi versi lebih gelisah dan muram, pikir saya sambil meniup abu dari rokok bunga yang pertama hari itu.

“Slint,” jawabnya. “Anjing, lo harus baca suicide note gitarisnya, David Pajo, bekas Zwan juga. Tai banget isinya.”
“Belum baca.”
“Nih, gua search. Handphone lo kacrut, bangsat, buang aja,” balasnya.
Laju speedometer tersendat, hanya berkisar sepuluh sampai dua puluh kilometer per jam yang membuat Rendi cukup leluasa dan aman untuk menyetir sambil menekuri layar genggamnya. Menyesap lagi asap bunga. Kemudian dia menyerahkan surat bunuh diri itu sambil mengganti nada ke arah yang lebih tepat untuk kondisi macet dan tajamnya aroma ini: Manfred Mann’s Chapter III, progresif – jazz down tempo dengan stoned-bass line mata segaris.
“Gila.. kasihan dia, mau mati gara-gara cinta,” saya membacakan, “‘I, however, am the same person you chose to marry and have children with, at one point of your life. A loner arty dude’.” Saya menghabiskan surat itu. “Ngentiauw nih kalimat terakhirnya… ‘I never cheated on you the entire decade we were together. I truly hope you find loyalty like that again. You, Alina and Lucas were all i ever wanted. And for a moment, in a group hug, all my dreams came into fruition. I am so thankful for that moment. I will always have that. I will carry it with me where I am going’.”
Saya tertawa.

“Fruition apa sih artinya?”
“Lihat aja di kamus, gua nggak tahu,” jawab Rendi.
Sebegitu banyaknya kios rekaman di Blok M Square, begitu sampai kami langsung menuju tempat yang paling efektif untuk plat Indonesia, menurut Rendi, Kucluk Music Corner milik seorang pria sederhana bernama Ari, yang ketika kami datangi sedang memisahkan sejumlah plat. Di tumpukan kiri terdapat plat-plat Indonesia 60-80an kelas atas – dalam hal ini harganya.
Tidak pakai lama Rendi sudah berjongkok dan mengurut tumpukan itu satu per satu. Saya mengintip dari balik bahunya, kondisi mulus: ada Chrisye yang Sendiri, Dara Puspita Djang Pertama, Koes Plus Vol II, Oma Irama, Kus Bersaudara album pertama dan sekitar delapan plat lagi ke bawah. Kretek Surya Pro-nya dibakar, Rendi menggaruk-garuk kepalanya dan mengangkat satu plat ke atas.
Sampulnya menampilkan enam pria dengan cutbray mencolok sedang berpose bersama Mercedes Benz tua warna emas usang. Di belakangnya melebar spanduk: ”Let Me Show My Way” – “Anti Gandja”. The Brims, anggota Brigadir Mobil Polisi – Brims berasal dari Brimob – yang diberi misi spesial: menulis mars narkotika bagi generasi muda.

Album itu dikeluarkan tahun 1972 ketika bahaya laten ‘ngak ngik ngok’ sudah tidak berlaku lagi, dan segenap obat-obatan terutama ganja mulai beredar mudah di masyarakat. Hilangnya tekanan anti kapitalis – imperialis membuat tidak ada lagi penjara karena memainkan rock & roll. Indonesia sedang membuka diri. Dan energi rock lokal yang tertahan selama Orde Lama, semua semangat barat yang diserap secara diam-diam pada era Soekarno pun mengalir deras.
Hasilnya, rock paling paradoks yang pernah dimiliki bangsa ini: “Anti Gandja”, psikadelia berisi teriakan erotis, batuk bajing, dentuman kaleng drum trippy dan segenap layer organ yang menerawang. Muatannya mungkin sama seperti enam inspektur yang berbagi selinting gendut sebelum rekaman, atau bisa jadi lebih, karena getaran dan sugestinya begitu terasa.
Rendi melihat label warna hijau berbunyi 1200 di pojok atas plastiknya. Alisnya mengerut, tapi tetap dipisahkan dari tumpukan. Kemudian dia mengangkat satu lagi, tanpa sampul. Promotional Copy, keluaran Musica Studios.

“Lo tahu kan, Io cerita band ini?” katanya.
“Apa namanya?”
“Lo lihat aja,” Rendi menyerahkan platnya. “Judulnya Eloi! Lama Sabbactani! Keren ini band. Jadi anak-anak ITB dikumpulin gitu aja, terus disuruh masuk studio sama Musica, langsung rekaman. Sebelumnya mereka belum pada punya lagu.”
“Njing, aneh banget ini nama bandnya.”
“Coba deh nanti tanya Tarigan, kemarin dia nyeritain gitu, terus ngasih lihat foto-fotonya. Salah satu personelnya, gua lupa siapanya, itu oom dari istrinya,” Rendi tertawa, “hippie-hippie lokal tahun 70an, foto sama bule-bule, joget-joget pada nggak pake BH. Orang gila semuanya itu.”
“Yang main gitarnya, Cok Rampal,” selah Ari.
“Ini berapa, Ri? Gua mau nih kalau yang ini,” sengat Rendi langsung.

Ari mengangkat kelima jari kirinya, tersenyum. Itu harganya. Rasanya cukup mahal. Rendi pun menarik matanya, lalu mencari jalan keluar dengan menawarkan beberapa plat baratnya untuk ditukar. Ari, sambil sibuk membereskan barang dagangannya tampak kurang tertarik. Kualitas katalog baratnya sudah dirasa lebih dari cukup. “Lagian gua baru ngangkat plat juga kemarin,” katanya.

Di saat itulah saya yang sedang mengaduk-ngaduk dua boks di depan kios menemukan AKA Shake Me yang masih mulus terselip diantara album campuran barat-Indonesia di dalamnya. Bandrol di pojok kanannya berbunyi 1000. Saya belum punya satupun rilisan plat AKA, hanya kaset yang In Rock, tapi melihat angkanya tadi membuat saya langsung berpikir tentang biaya sewa tempat tinggal. Bangsat. Bahkan kalau ditawar pun rasanya tidak akan turun lebih dari dua ratus.
Warna hijau sampul Shake Me ini garang. Keluaran Indra Records di tahun 1975. Ujung rambut Arthur Kaunang menjuntai hingga ke dadanya, mengintimidasi dengan wajah keras penuh ranjau jerawat di paling kanan. Di pojok kiri, suara Ucok mengiang-ngiang dari belakang kepala…
‘Boys.. Do you like grass? No! Do you like morphine? No! Do you like LSD? No! Do you like stoned? No! Do you like sex? Yeaaah!’

Ngens. Funk narkotika. Ucok menenggak semuanya. Lelaki kribo itu selalu tahu bagaimana bintang rock seharusnya berlagak. Nakal, genit, sekaligus bajingan tulen. Sang bocah tua dengan istri sembilan dan aksi seminal: dicambuk bagai budak masokis, masuk peti mati, digantung terbalik, kemaluan menyenggamai organ; Ucok Harahap, dia orang gila, kebanyakan stok anak majikan Apotek Kali Asin.

‘Make it higher… Make it higher… Make it higher… Make it higher’
Tapi saya menyerah dan menunjukkan plat itu ke Rendi yang langsung mengambil dan memeriksa kondisinya. Licin. Kemudian dia terdiam sebentar, sejenak berpikir, lalu bidikan akhirnya difokuskan pada AKA dan The Brims saja. Dan mulailah mereka merayu harga – tradisi tarik ulur yang selalu menyenangkan dan seru setiap kali kita membeli di pasar loak seperti ini.
“Udah, lo ambil aja plat-plat barat gua nanti gampang nambahnya,” Rendi masih mencoba, karena itu memang lebih menguntungkannya, “gua udah mentok ngumpulin barat.. mau apa lagi, begitu-begitu aja juga.”

Ari cuma senyam-senyum sambil menyusun deretan kaset di bagian depan tokonya. “Tuh, Udin baru dapat banyak Indonesia. Kalau nggak salah kemaren, coba lo cek aja.”
Udin adalah pedagang gaek yang dulu lama bercokol di Jalan Surabaya dan sekarang membuka toko di Blok M. Tempatnya hanya berjarak satu blok dari Ari. Rendi pergi mendatanginya lalu tak lama kembali dengan tangan kosong. Kepalanya menggeleng, tidak ada satupun plat yang cocok di sana. Dan seakan tidak mau bertele lagi dia langsung memberi tawaran yang saya yakin akan membuat Ari berpikir ulang untuk tidak melepas dua album tadi.

Tapi saya enggan mencampuri urusan pribadi mereka itu dengan menguping. Jadi sambil menunggu proses negosiasi berlangsung saya berkeliling dan mendarat di sebuah kios buku setelah melihat Kata-Kata, otobiografi Jean Paul-Sartre terjemahan Indonesia. Lalu tidak jadi beli karena tawaran lima puluh ribu saya dimentahkan penjualnya. Harga bukunya sendiri pas tidak bisa kurang dari tujuh puluh lima ribu. Saya juga melihat Bromocorah Mochtar Lubis dan Sampar Albert Camus.
Meninggalkan Sartre saya menemukan lagi Rendi sedang mencoba beberapa plat di Kims Varia Records milik seorang pria bungkuk kisaran 40 yang cukup aktif berbicara dan kocak, namanya Gun. Katalog tokonya, selain cukup banyak Indonesia – satu yang teringat, Coconut Band, kolega Papua Black Brothers, juga banyak classic rock barat.

Ternyata saat itu Rendi sudah mencapai kesepakatan untuk sebuah album Eka Djaya Combo tanpa sampul yang sedang dimasukkannya ke dalam tas, bersanding bersama AKA dan The Brims yang tadi.
“Kena berapa tadi di Ari?” saya menghampiri.
“Dua, satu setengah,” bisiknya.
Saya tertawa kecil. “Good deal. Lagian lagu yang enak cuma satu, selebihnya Melayu semua. Lo jual lagi bisa laku 2000 dolar, tuh,” balas saya juga dengan pelan.

Selanjutnya kami cabut menuju Panglima Polim demi memenuhi undangan Fadli Aat, seorang kolektor kawakan, store manager Monka Magic, DJ Diskoria dan bekas pemain bas Stepforward untuk sebuah bincang-bincang piringan hitam yang diadakan kantor berita Detik, di mana Tarigan akan menjadi pembicara bersama Rian Ekky Pradipta, bintang pop melankolis andalan Musica Studios, D’masiv.
Tidak banyak yang didapat dari bincang-bincang itu – hanya Tarigan yang bercerita pada media awam, lagi-lagi tentang sejarah plat, tren dan perbedaan suaranya dengan jenis fisik lainnya, yang sudah bosan saya dengar. Dia juga sekilas menyebut Irama Nusantara, situs sentral musik Indonesia era 50’ hingga 70’; sesuatu yang sangat dibutuhkan tapi dilupakan banyak orang. Sementara Rian, yang baru rajin membeli sejak tiga tahun terakhir mengaku mulai ikut-ikutan memusatkan perhatian dari sebangsa Oasis atau Divine Comedy, ke plat-plat Indonesia.

Demi melestarikan kekayaan musik bangsa, katanya.
“…dan investasi,” lanjutnya sambil tersenyum di depan kamera.

Kolektor model begini ini yang bahaya, pikir saya. Rian mengaku pernah punya sekitar empat plat Badai Pasti Berlalu, yang sebenarnya sah-sah saja, toh dia punya banyak uang dari hasil menyanyi, tapi kemudian, “Gua jual ada yang laku lima juta,” akunya masih di depan kamera, yang sah-sah saja juga karena itu jelas plat miliknya, mau dibakar pun atau dijadikan raket tenis meja sekalian juga kita tidak berhak. Rendi bilang harga pasaran plat soundtrack itu sekarang satu sampai satu setengah juta rupiah.

Kita tahu praktek seperti itu sudah terjadi sejak dulu, dan mungkin juga sedang melakukannya sekarang: sengaja memiliki album yang sama lebih dari satu. Tapi menurut saya inilah imbas dari sebuah tren, dan kalau etikanya seperti itu berarti kita sedang membunuhi diri sendiri dengan setiap kolektor yang bertindak sebagai pebisnis dadakan dan membuat barang langka semakin lenyap dari lapangan, untuk kemudian muncul lagi dengan harga dua atau tiga kali lipat lebih tinggi dari pasaran biasanya. Itu mengesalkan, tentu saja. Terutama untuk plat Indonesia. Kecuali pedagang, apa yang membuat seseorang ingin punya satu album yang sama lebih dari dua biji, penimbun? kolektor? fans berat? senjata barter?

Tapi tidak ada yang bisa disalahkan juga dari kondisi tersebut. Sial saja kalian kolektor lain yang juga menginginkannya tapi tidak bertindak lebih cepat, karena di saat itulah naluri ketamakkan sekaligus kecerdasan ekonomi seorang manusia sedang diperlihatkan.

Malam itu adalah waktunya bongkar muat bagi seluruh kegiatan Record Store Day tahun ini, yang artinya semua barang yang akan dijual besok akan ditaruh oleh para pedagang. Kami berencana menyambanginya. Saat itu Acum, penyanyi Bangkutaman yang datang menenteng LP Hoodoo Gurus, Stoneage Romeos dan seorang teman lagi, Paz, pria tambun dengan tahi lalat Rano Karno di dagunya, sudah bergabung. Sebenarnya juga mereka; Rendi, Tarigan, Acum dan Paz telah menyewa satu lapak demi Record Store Day besok. Untuk jualan plat, tentu saja. Karena bagi mereka inilah saatnya, gairah bazaar rekaman, ajang yang sekaligus potensial untuk meraup keuntungan sebanyak mungkin, baik secara bisnis maupun passion.

Kalau kata Tarigan, ‘kita jual untuk beli lagi’.

Bagi saya yang tidak pernah menjual plat karena alasan sentimentil seperti ‘terlalu sayang’ atau ‘ingat momen ketika mendapatkannya’, selain juga karena koleksi yang belum banyak, ide tersebut langsung masuk akal: ‘jual untuk beli lagi’. ‘Meng-upgrade koleksi’, kalau menuruti logika. Apalagi dengan situasi harga plat yang meroket drastis dalam tiga tahun terakhir. Grafik trennya menyebalkan. Kenaikkannya cukup tinggi, paling tidak untuk ukuran saya, seorang yang mengandalkan hidup dari penghasilan bulanan tak jauh dari nilai LP Philosophy Gang di pedagang lokal dengan menulis cerita serabutan seperti ini.

Ide tadi juga sebuah jalan keluar. Hentikan romantisme isi rak di kamar. Lagipula bosan sudah mendengarkan album yang itu-itu lagi. Terakhir kali saya membeli LP adalah tujuh bulan lalu, ketika tidak kuasa menahan nafsu atas Reinventing The Steel, album terakhir Pantera bersegel ulang 180 Gram Rhino di Quickening, sebuah toko dengan spesialisasi hardcore/punk seharga dua ratus lima puluh ribu, itupun setelah mendapat diskon 25% dari manajer tokonya.

Lalu cari untung sedikit itu perlu, hitung-hitung sebagai tambahan kalau nanti ada rekaman classic punk yang ditaksir, karena saya pasti tidak akan tahan birahi menyaksikan ribuan album bertebaran tapi tidak punya kuasa untuk memperolehnya. Dan saya beritahu, itu menyesakkan.
Atau sekalian saja, tukar. Kembali ke zaman purba. Kita tidak harus keluar uang, hanya perlu mengandalkan insting dan kejelian, serta tentu saja kecerdasan dalam bernegosiasi: dua banding satu, sikat, atau tiga banding satu juga boleh, asal lihat dulu kualitas plat lawannya.

– bersambung –

oleh Dr. Marto

 

Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016.
Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.

Record Store Day Jakarta

Bagian 1 dari banyak tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *