Inspeksi Pecandu Miskin dan Berserinya Senyum Para Germo pt.01

Artikel/Opini

Written by:

Sebenarnya kehadiran kami malam itu bukan untuk melakukan bongkar muat karena ternyata tidak ada satupun dari kami yang membawa barang dagangan untuk besok. Melainkan inspeksi; inilah saatnya membidik, mengincar, menaksir, mencari keuntungan lebih dulu sebelum Hari H dimulai. Saat itu saya sudah memutuskan untuk ikut serta dalam lapak anak-anak besok. Biayanya lima ratus ribu untuk satu lapak yang akan kita bagi berlima.

Ini untuk yang pertama kali, seperti yang Tarigan pernah katakan,

“Gue lebih suka tidak punya terlalu banyak plat, hanya satu lemari, tapi ketika membukanya dan menarik satu album saja, itu mampu membuat jantung deg-degan…”

dan saya sangat bersemangat untuk itu.

Suasana bongkar muat begitu sibuk. Gedung yang sehari-harinya berfungsi sebagai lapangan futsal sewaan sekarang diisi oleh lalu lalang orang yang sedang bersiap, dari meja kayu hingga neon sign didirikan. Termasuk juga beberapa pedagang yang sudah memajang barangnya – bertumpuk kilau kemilau, mengundang kita untuk segera datang mengaguminya.      

Salah satunya Trash Shop milik Berry Akbar, vokalis Antiseptic, hardcore Jakarta pertama. Di lapaknya saya dan Tarigan sedang melihati sejumlah nama terbungkus plastik; saya menyisir kaset dan CD sambil menunggu Tarigan selesai mengurut boks piringan hitam. Kebanyakannya punk, hardcore, thrash serta beberapa pasang kecil grunge. Berry sendiri dengan sisa tato masa mudanya sedang acuh duduk di belakang meja; tampak sepucuk .45 hitam tersimpan di lengan kirinya.

Satu plat diangkat Tarigan.

“Ini salah satu yang penting,” katanya. “Body Count, first pressing Jerman. Lo lihat nih.”

Saya melongoknya. Tarigan membalikkan sampul hitam album itu dan meletakkan jari telunjuknya di urutan lagu terakhir debut pimpinan rapper Ice-T tersebut. Terbitan Sire Records tahun 1992. “Masih ada “Cop Killer”. Ini cetakan yang pertamanya, nih. Masih sealed lagi. Yang setelah ini udah nggak ada lagi lagu itu, di-banned gara-gara dianggap menghina. Lo tahu, kan?”

“Ya. All cops are bastards!” sahut saya.

“Ini berapa harganya, Ber?” tanya Tarigan.

“Tiga ratus.”

Tarigan menaruh lagi album itu dan menggosok dagunya. Saya jadi mengurungkan niat melihat-lihat boks setelah mendengar jawaban Berry tadi. Nampaknya itu kisaran harga plat-platnya. Tunggu saja besok. Tapi saya tidak bisa menanggalkan penglihatan terhadap deretan kasetnya; ada empat album hardcore punk awal The Lemonheads, tiga diantaranya rilisan Taang! Records dan debut Soundgarden tahun 1988, Ultramega OK keluaran SST, label rekaman milik gitaris Black Flag, Greg Ginn.

“Kalau lo mau tuh, Lemonheads ambil semuanya gua kasih gope,” cetus Berry.

Gila, pikir saya. Meski mungkin itu memang harga yang pantas tapi saya tidak akan mengeluarkan setengah juta untuk pita import suara Evan Dando tersebut. Sedangkan Soundgarden-nya dihargai seratus ribu. Saya menganggukinya. Bertahanlah malam ini. Jangan terpancing. Kita lihat dulu berapa banyak yang bisa dihasilkan besok, dan apa senjata yang akan saya bawa sebagai padanannya.

Lapak kami sendiri berada di ujung lorong ketiga dari pintu masuk, tidak begitu jauh dari  hadapan panggung yang sedang dibangun. Mejanya kosong. Hanya berdiri dua botol Intisari, perbekalan milik Paz yang perlahan habis kami teguki sambil bolak balik berkeliling dari lapak ke lapak, yang belum banyak berdiri sebetulnya. Tapi saya melihat Paz mengangkat Can, Tago Mago ketika Daniel Mardhany, CEO Alaium Records menghampiri sambil menawari sativa-vape. Saya gantian menyodorkannya cawan anggur. Dia baru saja memborong, katanya.

“Lagi banyak diskonan, tuh di Monka.. Husker Du, punk-punk 80s dijual cuma dua ratus – dua ratus lima puluh ribuan. Gua udah beli tujuh barusan. Ngepet, nih Alpra emang..,” cerocosnya.

Dua ratus ribu dikali tujuh berarti satu koma empat juta. Sadis. Andai upah menulis satu cerita mampu mencapai sepertiga saja honor sekali panggung Dead Squad pasti saya sudah menghambur, ikut menguras lapak Monka Magic saat itu juga. Meski kebanyakan pressing ulang, tapi pasti masih sealed. Sial. Dan sejujurnya, itu angka yang bagus untuk ukuran hari ini di mana seratus ribu rupiah tidak lagi bernilai, bahkan untuk plat bekas classic rock pasaran.

Tapi agenda belanja saya berbeda dengan Daniel. Milik saya – dengan menyesuaikan alasan personal seperti cekak – lebih mengutamakan kecermatan. Ini belum lagi waktu yang tepat untuk ‘lo jual – gua beli’. Saya sudah lama meninggalkan ajaran itu sehingga memutuskan agenda kali ini harus benar-benar dibatasi, secara pintar dan efektif, serta sesuai selera, tentu saja. Menanggalkan unsur gelap mata jauh-jauh, meskipun harga dan nilai barang yang didapat nanti bisa dianggap sebanding.

Pun jika tidak ingin terbebani, incaran yang masuk hitungan saat itu sebenarnya hanyalah harta karun barang obralan. Termasuk kalau beruntung, nama-nama dunia ketiga yang tidak dikenal tapi punya musik gila yang luput dari perhatian pedagang. Misalnya, Drugi Nacin atau Erkin Koray atau Churcill’s. Cetakan paling pertamanya kalau bisa, itu sangat, sangat diutamakan. Beri saya Les Goths – Reve De Silence!

Sayangnya itu hampir mustahil, mengingat akhir-akhir ini makin banyaknya pedagang pintar karena internet, dan gerakan pukul rata ‘dua ratus ribu’ untuk LP barat standar. Kecuali kalian masih mencari yang model The Cars, Carpenters atau The Best of Cat Stevens dengan kondisi bekas dan lapuk.

Dan, jangan lupakan juga: piringan hitam tujuh inci – donat yang paling seksi, dan paling renyah di Record Store Day ini.     

Saya ingat suatu kali seorang teman baik, Samson Pho, pemilik Laid Back Blues Records, pernah mengatakan ini:

“Lo harus inget, tidak ada batasan uang untuk hobi, atau untuk sesuatu yang kita cintai.”

Ya saya sangat mencintainya – cetakan-cetakan musik ini, seperti Bani Israel dulu menciumi kepala-kepala sapi dari emas. Tapi ekonomi sedang merosot, teman… dan tren rekaman fisik ini membuat perut saya agak mual. Terlalu dibesar-besarkan dan dimanfaatkan. Harganya, sialan. Itu maksudnya.

Saya ingat dua tahun lalu masih bisa mendapat Bob Dylan Highway 61 Revisited seharga lima puluh ribu, jumlah sama yang Samson keluarkan untuk MC5 Back In The USA. Bahkan Lou Reed Transformers bisa ditebus hanya dengan empat puluh ribu! Iron Maiden Powerslave? Seratus ribu saja. Bekas memang, tapi kondisinya cukup mulus untuk ukuran cetakan yang sudah dirilis lebih dari empat puluh tahun lalu.

Kapan kearifan pedagang lokal macam itu bisa terjadi lagi?

Tidak akan pernah. Zaman cepat berubah, itu sudah berlalu. Orang rakus dan bodoh makin banyak. Sekarang harga album-album tadi sudah menggila, menembus dua ratus lima puluh ribu, mungkin. Tapi, kalau mau.. ini kalau benar-benar mau, kita bisa mengulanginya lagi dengan memulai dari diri sendiri: Jual piringan hitam dengan harga murah! Dan bukankah Record Store Day adalah waktu yang tepat untuk melakukan itu, ketika semua orang datang untuk merayakan keseksian rekaman fisik dengan menghabiskan uang mereka?

Tarigan pernah menceritakan pengalamannya mengunjungi sebuah Record Fair di New York, AS yang diadakan di atas lapangan sepakbola dan menemukan kalau para pedagangnya juga menjual album-album yang dihargai hanya satu sampai lima dolar.

“Untuk masuknya aja lo harus bayar sekitar dua dolar. Itu lo bisa nemuin Beatles, Stones atau Dylan, yang standar-standar begitu dengan harga murah. Nggak kayak di sini, udah pasti nggak ada,” katanya. “Bahkan pas ke Amoeba di SF, itu lo bisa ambil plat-plat bekas di belakang gedung mereka yang emang sengaja digeletakin begitu aja. Udah nggak mulus lagi, tapi masih berbentuk. Gue sempet ambil beberapa, kayak Beach Boys yang Pet Sounds, Neil Young, Sabbath, lumayan buat oleh-oleh gratis ke anak-anak.”

Nah, mungkin seharusnya, atau seyogyanya seperti itu yang terjadi. Harga rekaman di Record Fair bisa lebih santai dengan yang biasanya dijual sehari-hari di toko. Jadi tidak semata-mata pengerukan keuntungan, tapi juga mengutamakan unsur bahagia perayaannya. Atau yang saya maksud adalah sejenis kebaikan hati, seperti halnya hadiah Santa Claus pada malam Natal (Record Store Day bisa diangap sebagai hari raya, kan?). Karena kalau mau kurang ajar, bagi para pemadat berlibido tinggi – yang akan beli apa saja, terutama yang murah – mereka inilah germonya: para pedagang. Ditambah lagi anak-anak ini sedang kecanduan, kepada merekalah libido akan digantungkan dalam dua hari nanti.

Tapi sekali germo tetap germo. Mereka berdagang, menjajakan kenikmatan itu kepada kita. Hidup dari situ, memberi makan anak-istri, dan tentu ada banyak perhitungan di sana, lebih banyak dari sekadar alasan sentimentil milik saya tadi: modal, balik modal, perjudian harga, koleksi pribadi, uang sewa, barang titipan, barang pesanan, barang barteran, barang baru angkat, barang timbunan, yang semuanya diwajibkan HARUS UNTUNG… yang, mau tidak mau, ya harus kita mengerti juga (?).

Saya benci sok pintar tapi tahu teori jahanam ini dari berselancar di internet:

‘Semakin tinggi harga, semakin banyak jumlah barang yang bersedia ditawarkan. Sebaliknya, semakin rendah tingkat harga, semakin sedikit jumlah barang yang bersedia ditawarkan’.

Menguntungkan bagi pedagang memang, dan pastinya juga pembeli, ditambah lagi mereka sedang kerasukan. Tapi juga mencekik di satu sisi. Rasanya seperti digiring menuju lubang pemusnahan: tren sedang berada di tingkat puncak, mau barang apa saja ada, sumber kalian galaksi dunia maya. Konsumen ereksi. Tiga ratus ribu? Lima ratus? Satu juta lebih? Tiga juta?! Bayar! Uang tidak ada artinya, bisa dicari besok. Babat. Puaskan. Muncratkan. Buat senyum para germo itu berseri.

Kecut dan sinis, atau mungkin memang benar, kita sedang dimanfaatkan. ‘Beli terus sampai mampus!’, dan tolong (jangan) tetap bodoh. Kenaikan harga plat yang mulai tidak masuk akal ini harus segera dihentikan dan disadari, terutama untuk plat bekas yang didapat secara murah dari lingkaran dalam, bongkaran radio bangkrut tiga puluh ribuan atau cuci gudang kolektor tobat.

Dan kalau mereka mendapatkannya dengan memborong dari luar negeri atau dari pedagang lain, jangan lantas disamakan dengan harga barang sealed yang sesungguhnya. Itu jenis ketamakkan kelas kakap. Piringan hitam bukan barang istimewa, jangan terlalu dikultuskan, atau paling tidak anggap saja seperti itu.

– bersambung –

oleh Dr. Marto

 

Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016.
Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: