Tahun ini di Jakarta ada beberapa lokasi peringatan Record Store Day, semuanya di daerah Jakarta Selatan. Saya memilih untuk datang ke yang diselenggarakan di Kuningan City karena lebih mudah akses dan informasinya lebih mudah didapat. Selain itu saya baru tahu ada kegiatan serupa di lokasi lain hanya beberapa waktu sebelum saya berangkat.
Sayang juga kalau informasinya jadi mencar-mencar. Karena ada beberapa rilisan yang saya cari, tidak jelas itu rilisan akan berada di RSD yang mana. Ya udah, nasib.
Berhubung saya sudah berada di Kuningan City, maka disinilah terjadi perpindahan saldo dari dompet saya ke dompet pedagang musik. Walau rada keki karena tidak ada kejelasan lokasi penjualan beberapa rilisan yang diincar, tetap saja tas saya penuh belanjaan yang bisa dikasih tagar #jajanrock
Semoga tahun depan, para penyelenggara bisa berkolaborasi dan saling dukung. Karena semuanya tetap demi musik dan tampaknya menarik keliling kota berburu rilisan khusus.
rumahsakitrumahsakit dan Maria dari Klarinet/StereomanticAnida SabrinamantraLagi nyari piringan hitamDua Sejoli dan hasil kolaborasi mereka.Records
Circarama adalah band indie rock yang gaya musiknya seperti terpengaruh band-band britpop 90-an.
Mungkin bisa dibilang terinspirasi Oasis, Kula Shaker atau the Beatles jaman-jamannya mereka bikin musik psikedelik. Atau bisa juga mereka tumbuh bersama piringan-piringan hitam musik rock Indonesia dari era orde lama yang memang sangat psikedelika.
Bahkan foto band dan outfit mereka tampak seperti hasil memindai sampul piringan hitam tua.
Intinya musik mereka adalah indie rock psikedelik dan saya menikmatinya. Maka saya tidak menunggu lama untuk lansung membeli tiket konser kecil peluncuran albumnya sejenak setelah posternya online.
Konser di IFI Jakarta ini bisa dibilang gedung auditorium yang ideal bagi saya pribadi. Ruangan yang tidak terlalu besar dan tata suara berkualitas tinggi membuat suasana menyaksikan pertunjukan musik disini menjadi sangat intim.
Hanya sayang saja, bagian tata lampu sering tidak diperhatikan oleh para penyelenggara Supersonik. Termasuk saat Sky Sucahyo tampil sebagai pembuka. Tata lampunya kurang diperhatikan sehingga membuat panggung terlalu silau.
Selain tata lampu, kadangkala fotografer-fotografer amatir itu tidak sadar kalau kamera mereka bunyi saat menangkap gambar. Cekrak cekrek sepanjang pertunjukkan tentunya sangat tidak menambah syahdu penampilan akustik yang menawan dari Sky Sucahyo.
Sky Sucahyo adalah singer-song writer yang sedang naik daun dan menjadi perbincangan fans musik folk membuka konser peluncuran Plasticine Jewel ini dengan suara vokal yang khas dan guitalele saja. Hanya di beberapa lagu saja ia dibantu dengan gitar akustik yang dimainkan oleh gitarisnya Lizzie yang bernama Tubagus Risqan.
Di konser ini, ia memainkan beberapa lagu yang merupakan musikalisasi puisi karya Taufiq Ismail, Edgar Allan Poe dan mantan dosennya dulu; almarhum Dudih Amir Zuhud.
Suara dan cengkok si Sky ini kalau lagi nyanyi mengingatkan saya pada Hope Sandoval nya Mazzy Star. Terutama di lagu-lagu yang lebih muram, seperti hasil musikalisasi puisi Dream Within a Dream karya Edgar Allan Poe.
Setelah menyaksikan penampilan di IFI Jakarta ini, saya berharap Sky Sucahyo ini bisa segera merilis sesuatu.
Setelah Sky Sucahyo, tentu sekarang adalah giliran Circarama mengambil alih panggung. Band ini memiliki potensi menjadi besar menurut saya. Dengan musik yang relatif solid dan pemain bass yang lincah maka yang mereka butuhkan adalah jam terbang.
Menurut saya kalau mereka lebih rajin manggung maka seiring bertambahnya jam terbang akan membuat karisma mereka di panggung semakin solid dan pada akhirnya pasti membuat musik mereka juga semakin kuat.
Beberapa hal yang menarik di konser mereka kemarin adalah kolaborasi mereka dengan Angga ‘Ramayana Soul’ di dua lagu dan aksi solo bass yang cukup menghibur.
Secara materi musik, album Plasticine Jewel yang kemarin diluncurkan itu cukup menarik untuk dinikmati. Diproduksi dengan rapih dan saya tidak akan menahan diri untuk merekomendasikan album ini ke kalian semua.
Enjoy Plasticine Jewel via your favorite streaming service atau ya beli cd nya
Pagi hari di tanggal 26 November 2017, jadwal hari itu sudah saya kosongkan. Di sore hari hingga malam adalah untuk berada di The Pallas SCBD untuk menyaksikan band psikedelia asal Perth, Australia yaitu Pond.
Sempat dibuat kaget dan bingung karena ternyata saya membaca announcement yang menyatakan bahwa Sonic Live Asia selaku promotor acara memutuskan untuk memindahkan tempat berlangsungnya showcase menjadi di Rossi Musik Fatmawati. Saya dan beberapa teman yang sudah janjian untuk menonton itu cukup kalang kabut juga dibuatnya mengingat Rossi Musik Fatmawati adalah gedung tua dan untuk Pond kami kurang yakin. Sempat terucap via group di instant messenger teman saya bilang:
“Hah gila aja beneran pindah ke Rossi, gue takut runtuh haha.. ”
Selang beberapa jam kemudian muncul lagi announcement yang menyatakan bahwa showcase tetap
dilaksanakan di The Pallas SCBD dan venue tidak jadi pindah.
Di pagi hari kami sempat dibingingungkan dengan hal itu. Namun tidak kami ambil pusing, the point is malam hari jadwal untuk menonton Pond sudah diamankan.
Saya tiba di venue sekitar pukul. 20.30 agak telat memang ketika saya tiba di depan panggung. Feast sedang mengumandangkan lagu “Kelelawar Malam”. Tanpa ambil pusing saya dan beberapa temanpun langsung membaur bersama penonton lainnya menikmati penampilan band pembuka. “Sectumsempra” dan “Fastest Man Alive” setidaknya tiga lagu tersebut yang saya sempat nikmati dari Feast di malam itu.
“Kira-kira bakal lagu dari album mana yak yang banyak dibawain”
“The Weather-lah kan ini konser tur-nya..”
“Pono Hobo Rocket sih.. Kangen gua”
Percakapan diatas adalah sedikit perbincangan yang terjadi ketika beberapa para penonton mengobrol di depan panggung sembari menunggu penampilan Pond. Satu persatu personel Pond menempati singasananya disambut oleh teriakan para penggemar. Setidaknya yang saya tidak salah ingat “3000 Megatons”, “Sweep Me off My Feet”, “Elvis Flamin’ Star”, “Waiting Around for Grace”, “Zen Automaton”, “Paint Me Silver”, “All I Want for Xmas”, “Edge of The World”, “Giant Tortoise”, “The Weather” dan “Space”. Kami sempat masih menunggu Pond karena masih ada satu lagu yang saya pribadi nanti-nantikan yaitu “Colder Than Ice” namun rupanya “Space” adalah salam perpisahan dari band psikedelia asal Perth yang diproduseri oleh Kevin Parker ini. Konser yang terlalu singkat menurut saya pribadi soal rasa saya tidak bisa mendeskripsikannya yang pasti saya cukup merasa senang karena berkesempatan menyaksikan salah satu bucketlist pribadi di list band favorit.
Tulisan : Intan Zariska Daniyanti
Foto : Sancoyo Purnomo
Tanggal 12 Agustus 2017 kemarin ada dua acara menarik. Yang pertama adalah Gig on the Green menampilkan Neonomora, Elephant Kinds dan dua band asal Australia; Ladyslug dan Vallis Alps.
Diadakan di halaman kedutaan besar Australia di halaman yang dilapisi ruput sintetis.
Acara sore-sore yang menyenangkan dengan musik asoi dan makan minum gratis di udara terbuka yang segar dan relatif bebas asap rokok.
Berkebalikan dengan siangnya, acara malamnya reuni Wondergel diadakan di sebuah bar yang berlokasi di basement hotel dan penuh asap rokok. Namun musik asoi tetaplah musik asoi.
Sore itu saya baru saja mendownload album no3 dari Atilia Haron di Spotify saya. Album no.3 ini dibuka dengan track “Silly Little Thing” yang merupakan hasil intrepretasi ulang lagu milik Sore, band yang setengah personelnya akan membuka konser No3 ini di Jakarta.
Saya mencoba mendengarkan album hasil download ini di perjalanan menuju venue dan mencoba mencerna lagu-lagunya. Dalam hati saya berfikir kalau lagu-lagu ini akan lebih ‘komplit’ kalau sudah pernah disaksikan live, dan mencari liriknya.
Maka sore itu saya tiba saat 1/2 Sore sudah memulai setnya, cuma berdua. Eca dan Ade masing-masing memegang gitar dan bertukar canda sambil main gitar dengan resah. Mungkin karena biasanya ada drum dan bass yang membantu menjaga ketukan, maka saat dua-duanya gitar, jadi rada-rada canggung ya.
1/2 Sore – Aku
Beberapa lagu dibawakan, dan ditutup dengan ‘Sssst’ yang juga salah satu track kesukaan saya.
1/2 Sore – Sssst
Tidak lama setelah itu, team teknis Atilia Haron mulai menyiapkan panggung.
Saya lupa urutan lagunya, namun single “No Fruit For Today” dibawakan di awal set.
Atilia Haron – No Fruit For Today
Lagu ini sudah saya dengarkan bertahun-tahun, via berbagai speaker termasuk speaker panggung ribuan watt. Dibawakan oleh Atilia Haron seperti mendapat jalan hidup yang berbeda. Gaya Sore yang cenderung lebih ekletik dan akhir-akhir ini juga semakin ‘raw’, menjadi lebih anggun. Menarik.
Selain lagu dari Sore, Atilia Haron malam itu juga membawakan beberapa lagu yang diciptakan untuknya dari Payung Teduh, Tompi sampai Maliq n D’essentials. Termasuk juga lagu yang membuat namanya dikenal di Indonesia; Silly Little Thing yang kali ini dibawakan duet bersama Ade Palloh.
Selain duet dengan Ade, ia juga memperkenalkan seorang solois asal Kuala Lumpur yang akan merilis album; namanya Lokman Aslam.
Ada hal yang menarik dari konser ini, yaitu Atilia Haron membawakan beberapa lagu milik ibunya. Membuat saya tertarik untuk mencari tahu lebih jauh mengenai sang ibu, dan saya senang menemukan Salamiah Hassan seorang penyanyi pop Melayu yang besar namanya di Malaysia.
Beberapa lagu sang ibu dibawakan dengan aransemen ulang menjadi khas lagu-lagu sang anak.
Kemudian setelah konser, diperjalanan pulang saya mendengarkan kembali album No3 via perangkat digital. Setelah mendapatkan napas kehidupan dari penampilan live tadi, lagu “No Fruit for Today” mendapat tempak khusus di playlist yang saya susun.
Sementara sisanya, saya rasa akan cocok untuk mereka-mereka yang menyukai musik-musik dari Maliq n D’essentials, Abdul and the Coffe Theory atau Glenn Fredly. Namun saya ga menjamin karena menurut beberapa orang yang mengaku suka band-band tadi, mereka suka band-band tersebut karena lagunya diputar di radio.
Rupanya bagi banyak orang, Radio adalah sarana supaya sebuah lagu menjadi ‘paripurna’.
1/2 Sore1/2 SoreAde & Eca ( 1/2 Sore)
Atilia HaronAtilia Haron & Ade PallohFoto bersama setelah konserHerald SinagaMadava & Atilia HaronSarah & Mondo