Review Concert : Love Garage 2014 “Love Can Save The Universe”

FeaturedNewsReviews

Written by:

Sebagai perhelatan tahunan dari Ismaya Live (selaku promotor utama), Love Garage kembali digelar di pelataran parkir mal EX, Sudirman pada tanggal 17 Januari 2014 kemarin dengan tajuk “Love Can Save The Universe”. Untuk tahun ini, Phoenix yang dipilih menjadi big line-up bersama deretan artist lainnya seperti Protocol Afro, Jirapah, Zero 7 (DJ Set), Fenech Soler (DJ Set), Midnight Savari (DJ set).

Phoenix

Rundown pun mundur sejam dari yang dijadwalkan akibat cuaca terlihat labil. Saat merasa cukup aman, tepat jam tujuh malam salah satu band indie-rock Jakarta, Protocol Afro, mengajak menari bersama lewat synthesizer yang melumuri di setiap lagunya. Beda hal dengan Jirapah yang lebih eksperimental. Kadar laidback yang berlebihan namun tetap terdengar groovy di setiap bagiannya membuat Ken Jenie (Vokal), Mar Galo (Keyboard), Januar Kristianto (Drum), Yudhistira (Gitar), dan Nico Gozali (bass) menjadi daya tarik bagi pengunjung yang baru pertama kali melihat mereka. Penampilan Zero 7 dan setelah itu Fenech Soler secara DJ set malah terasa seperti atmosfir di Djakarta Warehouse Project tahun kemarin bercuacakan hujan deras.

Phoenix

Penonton yang sedari 30 menit menanti, terbayar saat Thomas Mars (Vokal), Deck d’Arcy (bass, keyboard), Laurent Brancowitz (gitar, keyboard), Christian Mazzalai (gitar), dan dua personil pendukung selama tur yaitu Robin Coudert (keyboard), Thomas Hedlund (drum) bersiap diposisinya. Membuka lewat nomor “Entertainment” yang disambut hujan lebat membuat crowd tak mempedulikan hal tersebut. Mereka malah makin hanyut dalam kesenangan saat “Liztomania” dibawakan.

Phoenix

Penampilan Phoenix untuk kedua kalinya memang terlihat beda kali ini. Selain mendapat ruang beraksi lebih besar, materi-materi baru makin variatif dibandingkan “Wolfgang Amadeus Phoenix”. Mata pun akan terpusat sebentar kepada Thomas Hedlund yang bermain atraktif sambil berdiri selama tiga lagu penuh. Cara ini mungkin karena mereka sendiri besar di kultur sosial yang menganut paham individualisme yang keras, dan mencoba menjadi keren dengan menunjukan suatu peforma optimal. Baik dari pertunjukan ataupun berinteraksi kepada penonton. Tak heran apabila Mars sering membaur ke tengah penonton, karena itu gimmick dalam peformance mereka.

Phoenix

Aksi serupa mungkin akan terjadi kalau cuaca mengijinkan. Tapi nyatanya Mars hanya berdiri di pagar pembatas, berbasah-basahan saat menyanyikan “1901” sebagai lagu terakhir. Karena alasan keselamatan dan keputusan panitia, Phoenix tak jadi membawakan dua lagu yang tersisa. Para penonton pun memaklumi hal tersebut. Toh, mereka sudah mengeluarkan berbagai lagu muktahirnya untuk berkaraoke bersama untuk membuka konser pertama di tahun 2014. Ini membuktikan Ismaya Live semakin terpercaya mengorganisir event skala internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: